Handphone Kematian

Hari-hari yang kini aku jalani semakin terasa berbeda semenjak kejadian itu. Ya, kejadian “handphone kematian” yang membuat otakku masih tak habis pikir hingga saat ini. Pada waktu itu tepatnya hari kamis malam sepulang aku bekerja, aku wanita yang bernama Renata dengan rambut keriting gantung dan styleku yang sederhana, berjalan melewati pinggiran jalan raya.

Tak biasanya jalanan yang biasa aku lewati itu menjadi sepi, bahkan hampir tak ada kendaraan yang lalu lalang seperti biasanya, dan warung-warung pun menjadi gelap seketika. Padahal waktu itu baru jam 22.00 malam. Sempat ada tanda tanya di pkiranku.

loading...

“Kenapa jalanan jadi sepi ya? Gak kayak biasanya nih”.

Lalu aku abaikan isi pikiranku, dan aku melanjutkan perjalananku yang ingin segera sampai di rumah untuk menghempaskan badanku yang sudah letih di atas kasur. Kebetulan rumahku tak jauh dari lokasi tempat aku bekerja. Rumahku berada di sebuah komplek perumahan keluarga di sebelah kiri dari perempatan lampu merah yang menghadap ke barat.

Ketika sampai di perempatan, langkah kakiku terhenti dengan spontan karena mataku melihat ada sebuah handphone yang tergeletak di ujung perempatan. Lalu tanpa pikir panjang aku pun melanjutkan langkah kakiku ke arah handphone yang tergeletak itu. “*Deeeg” tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari arah belakang.

“Mau ngapain kesini?” tanya seorang nenek.
“Ah, nenek membuatku *dag-dig-dug saja” sambil mengelus dada karena aku terkejut sekali waktu itu.

(Padahal tadi waktu aku jalan kayaknya gak ada siapa-siapa deh di belakangku, lagi pula ini kan sudah malam, mau mencari apa nenek itu keluar jam segini?) ucapku dalam hati. Lalu segera aku membalas pertanyaan nenek misterius itu.

“*Em, aku mau mengambil handphone itu nek, kasihan pemiliknya pasti mencari handphonenya. Aku ingin menyimpannya nek, siapa tahu nanti yang punya handphone menghubungi nomor handphone yang ada di dalam handphone itu”.
“Jangan diambil handphonenya, biarkan saja!” sahut nenek misterius yang berada di belakangku.

Nenek itu berbicara dengan amat sangat lembut dengan nada bicara yang lirih. Aku pun tetap mengambil handphone itu dan membersihkannya dari debu jalanan yang menempel di handphone tersebut, serta sambil berbicara dengan nenek misterius itu.

“Nek, tenang saja, aku tidak memiliki niat jahat kok! Lagi pula ini bukan punyaku. Aku hanya sekedar menyimpannya saja sampai si pemilik handphone ini menghubungiku lalu menemuiku untuk mengambil handphonenya”.

Dan setelah aku berbalik badan ke arah belakang ternyata nenek misterius itu sudah tidak ada lagi di belakangku.

“Loh, kemana perginya nenek itu ya? Kok dia pergi tanpa suara dan tanpa sepengetahuanku? Ya berarti aku dari tadi ngomong sendirian *dong!?” gerutuku dengan rasa sedikit kesal.

Aku pun segera pergi meninggalkan tempat itu lalu aku melanjutkan langkahku untuk sampai ke rumah. Selanjutnya di handphone kematian bagian 2.

Salim

Salim

“,…Daku menuliskan kisah dari dimensi lain tanpa pena serta tanpa lampu”.

Hal yang aku senangi ialah tertawa, juga menghindar dari keramaian. Aku begitu bahagia bersembunyi di tempatku yang gelap, karena orang lain tidak dapat melihatku, dan aku sangat mudah melihatmu di tempat yang terang.

Terima kasih yang sudah membaca ceritaku !!

FB : Sa Lim.

All post by:

Salim has write 31 posts

Please vote Handphone Kematian
Handphone Kematian
3.7 (73.33%) 3 votes