Hantu Air

Masih denganku ikbal, aku mau cerita hantu air atau lebih dikenal dengan “hantu kalap”. Kejadian ini masih di kotaku, Surabaya. Tepatnya di daerah Babatan yang terkenal dengan kawasan Kampus UNESA. Kompleks Kampus UNESA ini terdiri dari kompleks kampus dan tempat waduk atau kolam Pemancingan yang selalu ramai setiap akhir pekan.

Suatu Minggu, anak dari teman nita, merengek minta diantar ke kolam / waduk UNESA. Karena sebentar lagi ulangan, si ibu nggak mengijinkan. Tapi, si anak terus merengek sampai ngambek dan membanting barang. Akhirnya karena nggak tega (maklum anak tunggal), si ibu mengiyakan. Walau dia agak heran mengapa anaknya ngotot sekali.

Sampai di waduk / kolam, anak itu langsung riang gembira bermain dengan diawasi ibunya. Beberapa saat kemudian si anak mendatanginya dan minta mandi bersama anak-anak lain di kolam tersebut. Si ibu keheranan. “Dikolam / waduk pemancingan itu nggak boleh mandi” kata si ibu. “Sudahlah, Bu! Aku pengen mandi seperti anak-anak itu” kata si anak sambil menunjuk ke arah kolam . Si ibu keheranan karena tidak ada anak kecil yang mandi pada saat itu. Tapi, dia tetap melarang anaknya karena memang tidak boleh berenang. “Ya sudah, aku main dengan anak-anak saja. Aku sudah dipanggil mereka”. Si anak pun kembali ke area kolam.

Akhirnya hari sudah sore. Si ibu pun mencari anaknya untuk diajak pulang. Namun, anaknya sama sekali tidak kelihatan. Dia terus mencari hingga akhirnya menyerah dan meminta bantuan ke pemancing disekitar. orang-orang pun membantu mencari. Hasilnya pun nihil. Si ibu pun panik, apalagi hari sudah hampir maghrib. Dia langsung memanggil Nita untuk menemaninya karena rumahnya dekat. Begitu Rani datang, si ibu langsung menangis. Rani mencoba membantu mencari.

“Pak, jangan-jangan tenggelam?” tebak Rani kepada para pemancing, setengah panik karena hari mulai gelap dengan seruan adzan maghrib. Kompleks kolam / waduk pun sudah tidak berpengunjung selain mereka. “Sudah diperiksa, tapi nggak ada tanda-tanda ada yang tenggelam, Mbak” ucap salah seorang pemancing. Nita mencoba memeriksanya. Memang tidak ada tanda-tanda apapun disekitar kolam .

Salah seorang pemancing, yang sepertinya punya sixth-sense (mata batin), berucap, “Hei, coba diam dulu dan cari dipenghujung barat waduk / kolam” Teman-temannya sempat menolak karena tidak ada tanda-tanda adanya kehidupan. Tapi, karena pemancing itu ngotot, akhirnya kami mencarinya disudut barat waduk. Ternyata si anak ditemukan meninggal disemak-semak penghujung kolam / waduk dalam keadaan menelungkup kaku.

Si ibu sangat shock. Para pemancing dan Nita kebingungan. Bagaimana bisa tidak ada bayangan nya? Padahal air kolam saat itu masih sangat tenang. Jenazah sang anak segera diangkat dari ujung kolam. Nita menemani si ibu yang menangis menatap anaknya yang sudah tak bernafas itu. Pemancing memanggil ambulans dan meminta si ibu untuk ikut. Nita tiba-tiba ingin buang air kecil dan segera ke toilet umum. Namun, dia melihat sesosok anak kecil bertubuh hitam berkepala naga didepan toilet umum. Dia mengurungkan niatnya. Dia segera masuk ke mobilnya untuk pergi dari situ lalu menuju ke rumah si ibu.

Di rumah si ibu, dia menceritakan apa yang terjadi. Seluruh warga langsung menyiapkan acara pemakaman. Si ayah tiba-tiba teringat sesuatu lalu menceritakannya ke Rani. Sepertinya anaknya memang sudah “di ikuti” sejak seminggu yang lalu. Mereka setiap minggu sering ke kolam itu dan seminggu terakhir ini anaknya agak aneh. Anaknya jadi agak emosian dan sering pergi main entah kemana. Terkadang kepergok ngobrol sendiri. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Nyawa anaknya sudah tidak bisa diambil kembali.

Nah, beberapa hari setelah kejadian itu, Nita berkunjung ke rumah. Lalu sempat curhat ke ibuku. Dan sore harinya, ibuku menceritakan nya ke aku, adik ku, dan ayahku. Ayahku buka mulut. “Oh, itu namanya kalap. Bapak juga pernah”. Ayah pun bercerita. Kejadiannya dikampung halaman ayahku yang juga disitu, tapi disisi utara bukan sisi barat.

loading...

Katanya waktu dulu masih kecil, ayahku pernah ikut kakek ku menjala ikan di waduk itu. Saat menunggu kakek ku menyiapkan jala, ayahku main-main di pinggir sungai. Saat asyik main, ayah sempat menengok ke salah satu bagian waduk / kolam. Disana banyak anak kecil yang asyik berenang dan bercanda. Ayahku mengamati mereka. Karena diamati, anak-anak itu melambaikan tangan ke ayahku. Mereka mengajak ayahku main.

Hawa yang panas (saat itu masih siang hari) itu memang membuat seseorang ingin berenang. Seperti terhipnotis ayahku mulai membuka baju dan masuk ke sungai. Ayahku berenang mendekati anak-anak itu. Ayahku bahkan tidak merasa sesak saat air sudah mulai masuk ke hidungnya (ayahku belum pandai berenang saat itu). Ayahku hanya fokus untuk mendekati mereka. Ayah tidak bisa mengendalikan tubuhnya lagi. Dia hanya bisa berenang tanpa peduli arus dalam waduk yang deras itu.

Anak-anak itu tertawa-tawa lalu mulai menyelam. Ayahku juga ikut menyelam. Menyelam terus.. terus.. terus.. Sampai kedasar waduk, yang anehnya ada secercah cahaya didasarnya. Lalu gelap dan tiba-tiba ayahku mendengar suara teriakan kakek ku. Ayahku kebingungan. Sekarang tubuhnya sudah basah kuyup dan tergeletak dipinggir waduk sisi barat.

“Tadi aku kenapa?” tanya ayahku bingung karena dia terbatuk-batuk sambil memuntahkan air. “Kamu tadi yang kenapa! Tiba-tiba masuk ke bagian waduk yang arus paling deras dan paling dalam! Kamu kan belum pintar berenang!” kata kakek. Ayahku kaget. “Eh? Tadi aku diajak anak-anak itu main”. Ganti kakek ku yang kaget. “Anak-anak? Mana? Hanya kita yang ada diwaduk ini”. Lalu kakek ku mulai menceritakannya ke ayahku. “Itu tadi namanya kalap. Biasanya memang ada penunggu jahat yang suka menggoda anak kecil kayak kamu untuk jadi teman mereka. Makanya jangan main sendirian didekat air yang dalam. Untung tadi aku tahu! Dalam sungai bagian situ 5 meter”.

Setelah menceritakan kejadian itu ke aku, adik ku, dan ibuku, ayahku mengingatkanku dan adik ku untuk hati-hati agar tidak nyaris mati seperti beliau. Aku bersyukur karena saat itu ayah berhasil selamat dari “mereka”. Coba kalau tidak ketahuan kakek ku waktu itu, aku mungkin tidak akan lahir dan bisa berbagi cerita seperti ini. Pengalaman ini benar adanya walau bukan saya yang mengalaminya.

Share This: