Hantu Anak Genderuwo

Sebenarnya aku enggan menceritakan kisah tentang hantu anak genderuwo ini karena sama saja dengan aku mengingat lagi pengalaman menyeramkan itu. Tapi baiklah, akan aku ceritakan pengalaman menyeramkan kali ini saja untuk kamu yang suka dengan cerita hantu. Namaku Via, aku ingin menceritakan pengalaman mistis yang pernah aku alami dulu ketika aku masih menjadi karyawati di kota Jogja.

loading...

Pengalaman ini aku alami saat liburan menjelang tahun baru, aku menghabiskan akhir tahun di jogja. Aku tinggal di sebuah kost, saat itu kost sangat sepi karena penghuni kost yang lain sudah pada pulang untuk menikmati libur tahun baru. Jadi hanya ada aku sendiri disitu, malam itu aku pulang dari kantor sekitar jam 7 malam. Dari jauh terlihat kost sangat gelap, aku masuk ke dalam kamar dan langsung menutup gorden jendela yang tadi pagi lupa aku tutup.

Aku ngeri, melihat pemandangan kebun bambu yang sangat gelap didepan kost an. Kemudian aku teringat kalo malam itu adalah malam jumat. Aku pun langsung ketakutan, aku langsung menyalakan televisi biar suasana ramai. Karena tidak ada acara yang seru aku pun memutuskan untuk menonton dvd, tapi sampai setengah film aku terlelap. Aku terbangun karena ada suara berisik, lalu aku bangun dan mencari sumbernya. Ternyata suara itu berasal dari jendela kamarku.

Seperti, ada orang yang melempar batu kerikil dari pekarangan. Aku membuka gorden dan tidak ada siapa-siapa, mataku melihat pekarangan dari sudut ke sudut dan tidak ada tanda seseorang pun disana. Hanya terlihat kegelapan malam yang berasal dari seberang bambu pekarangan, aku pun memutuskan untuk kembali tidur. Tapi tiba-tiba, ada sebuah batu kerikil yang melayang tepat ke arah keningku.

Batu kerikil itu terlempar karena terkena jendela, kali ini aku yakin kalo batu itu ada yang melempar dari bawah. Dengan kesal aku membuka jendela dan berteriak. “Siapa sih?”. Kali ini, aku melihat ada sosok seseorang di sudut pekarangan yang berada paling dekat dengan pohon bambu. Sosok itu adalah seorang kakek yang sedang berdiri tegak, kakek itu memakai pakaian serba putih dan dia melambaikan tangannya kepadaku.

Dia seperti menyuruhku turun untuk menemuinya, aku memicingkan mata karena tidak percaya apa yang aku lihat. Tapi kakek itu masih melambaikan tangannya, dia tidak berbicara apa-apa dan hanya tersenyum kepadaku. Aku terbujuk oleh ajakan kakek itu, aku memutuskan untuk turun kebawah menemuinya dan sampai sekarang aku tidak tau kenapa aku melakukan itu. Rasanya seperti dihipnotis mungkin kalo saat itu aku tidak turun, aku tidak akan mengalami kejadian setelahnya.

Aku membuka pintu kamar dan jalan menuruni tangga menuju pekarangan kebun belakang. Aku membuka pintu pekarangan dan melihat kakek itu masih ada di ujung pekarangan, aku berjalan menyeberangi pekarangan dan menghampirinya. Tidak ada semilir angin pun malam itu, Bulan juga bersinar sangat terang. Kakek itu hanya tersenyum melihatku datang menghampirinya. Aku bertanya siapa dirinya dan kenapa dia ada disana namun kakek itu tidak menjawab pertanyaanku malah bertanya balik.

Dia menanyakan, apakah dia bisa menumpang menitipkan anaknya sebentar kepadaku. Aku tidak melihat sosok anak-anak didekatnya, aku pun langsung curiga dan telintas di pikiranku kalo jangan-jangan ini adalah modus penculikan terbaru. Aku pun langsung mengambil ancang-ancang siaga dan mundur menjaga jarak darinya. Aku menolak permintaannya dengan nada yang kurang sopan.

Mungkin karena aku ketakutan, tiba-tiba kakek itu seperti terlihat marah. Dia mulai beranjak dan dalam bahasa yang tidak aku mengerti, dia seperti memaki kepadaku. Kemudian, di kiri dan kananku terdengar suara gemuruh. Bunyi itu mirip dengan suara pohon yang dihentak-hentakan. Spontan aku melihat ke arah pohon bambu yang berada di belakang kakek itu. Rimbunan pohon bambu seperti ditiup angin kencang. Lalu sosok kakek itu berubah, badannya menjadi tinggi, gelap, besar dan berbulu.

Di kedua tangannya terdapat cakar yang sangat menakutkan. Dia sekarang seperti terlihat seperti manusia serigala, yang tingginya sekitar 2 meter. Aku pun baru tersadar, kalo apa yang aku lihat sekarang ini adalah Genderuwo. Aku sangat terkejut namun tidak bisa teriak, genderuwo itu berteriak dengan parau dan aku mematung didepannya. Aku hendak kabur namun kakiku terasa berat, kemudian dari balik pepohonan bambu dibelakangnya muncul sesosok mahluk berbulu lain.

Anak genderuwo ini, seukuran anak sapi dan anak genderuwo itu melangkah ke arahku. Sementara genderuwo yang besar tadi berjalan ke arah pohon bambu dan menghilang. Anak genderuwo itu kemudian duduk disudut pekarangan dan berdiam diri disana. Aku tidak berani melihat ke arahnya, aku juga tidak berani melangkah. Akhirnya aku hanya bisa terdiam sambil menangis dan membaca doa dalam hati berharap mahluk yang ada didepanku ini menghilang.

Waktu terasa berjalan sangat lama, sampai pintu pekarangan dibelakangku terbuka. Bapak penjaga kost datang dan menanyakan apa yang sedang aku lakukan, dengan gemetar aku menunjuk ke arah anak genderuwo itu berada. Tapi bapak penjaga kost an tampak heran dan tidak mengerti apa maksudku. Sepertinya hanya aku yang dapat melihat sosok anak genderuwo itu dengan agak berbisik, aku memanggil bapak penjaga kost untuk datang kepadaku.

Aku menceritakan kepadanya apa yang baru saja aku alami, awalnya dia tidak percaya namun setelah dia merasakan ada hawa yang aneh. Dia bilang akan pergi mencari ustad dan tidak lama ustad setempat datang dengan beberapa warga dan memintaku untuk menceritakan apa yang terjadi. Setelah bercerita pak ustad itu pun berkata akan mengusir genderuwo itu.

Dia menyuruhku ke kamar dan segera beristirahat. Aku menolak, karena takut dengan kata-kata genderuwo. Pak ustad berkata kalo dia hanya mengancam, dia menawarkan untuk menginap dirumah bersama istrinya sampai keadaan tenang. Aku pun mengiyakannya, dan dia berkata kepada penjaga kost untuk mengantarkanku ke rumahnya.

Aku tidak tau apa yang terjadi setelah itu dengan sosok genderuwo tadi. Aku langsung tertidur ketika sampai dirumah pak ustad. Aku bangun esok paginya dan pak ustad sudah mengusir anak genderuwo itu, katanya dia bersama warga membaca ayat kursi berulang kali. Kata pak ustad, kebun bambu itu memang ada penunggunya, berupa sosok genderuwo dan anaknya.

Share This: