Hantu Dandan

Pulang pagi dari tempat kerja, tapi mata belum mau terpejam juga. Eh maaf reader KCH, saya jadi ngedumel sendiri ya? *Haha. Maklum lah efek belum bisa tidur ya gini. Sambil nunggu mata ngantuk, ada baiknya saya post cerita dulu di KCH. Kali ini saya mau membawakan cerita dengan judul hantu dandan. Membaca judul ini mungkin reader KCH beranggapan tentang orang yang hobi dandan makanya disebut hantu dandan.

Tapi cerita ini bukan tentang orang yang hobi dandan tapi real benar-benar hantu itu dandan! Penasaran? Ok saya cerita. Cerita ini saya dapat dari Ibu dan bibiku (Bi Enung) yang sedang mengobrol. Dan cerita ini cukup lama ketika mereka masih SD dan mereka pendam hingga terungkap saat merek a(ibu dan bibiku) sudah memiliki cucu.

Bi enung: “Ceu (panggilan bibi ke ibuku yang menandakan panggilan ke kakak), apal teu keur basa urang budak keneh. Aya nu ngaca bari dandan?” (ceu, tahu gak sewaktu kita kecil. Ada yang sedang berkaca sambil dandan?).
Ibuku: “har, enung oge apal?” (lho, enung juga tahu?).
Bi enung: “apal atuh, pan enung teu acan obo! Malahan mah si Aa Dayat (panggilan ke uwaku) ningali jurig nu nyisiran bari calik” (tahu, kan enung belum tidur! Apalagi A Dayat lihat hantu yang lagi sisiran sambil duduk).

Saya yang waktu itu nyimak, jadi penasaran dengan cerita dari ibu dan bibi. Kemudian ibu bercerita, dulu orang tua ibu yaitu kakek saya sangat keras mendidik anak. Jadi setiap anak yaitu uwa dayat, ibu dan bi enung gak boleh tidur sebelum belajar dulu. Alhasil sehabis isya, ibu dan bibiku belajar hingga jam 9 malam. Karena mata sudah ngantuk, ibuku mengajak bi enung untuk tidur dan uwa dayat yang masih banyak PR, ditinggal sendirian dimeja makan yang panjangnya kurang lebih 2 meter.

Setelah ibu dan bi enung masuk kamar, mereka kemudian ambil selimut tipis untuk digunakan berdua. Tak berselang lama, tiba-tiba hawa dingin masuk kekamar dan dikaki (ibu dan bi enung) atau di ujung ranjang, duduk seorang wanita membelakangi ibu dan bibiku sambil bercermin. Wanita itu, menggunakan cermin untuk make up. Wajah wanita itu tidak terlihat oleh ibuku dipantulan cermin.

loading...

Cuma karena ada yang memperhatikan,wanita bercermin itu menengok kearah ibu. Di lihatnya sosok itu menggunakan bedak dengan wajah camerok (atau dalam bahasa indonesianya menor) seperti mau berpergian. Sontak ibuku kaget dan menutup mukanya dengan selimut tipis. Ibuku mengira jika bi enung sudah tidur rupanya bi enung juga lihat jika wanita itu menatap ibu dan bi enung juga ngumpet dibalik selimut tipis sambil melihat sosok wanita itu. Tiba-tiba wanita itu melayang keluar dan menembus tembok. Ibu dan bibiku tidak tahu lagi (kemungkinan ibu dan bibiku pingsan lalu tertidur).

Ibuku telah selesai bercerita kemudian disambung dengan cerita bi enung. Setelah bercermin, ternyata sosok itu tidak menghilang tetapi duduk disebrang meja panjang dimana uwa dayat sedang mengerjakan PR. Karena merasa ada suara “*sreet, sreet” (suara rambut disisir), dibawah sinar lampu temaram, uwa dayat melihat sosok wanita dengan penuh make up itu tengah sisiran.

Awalnya, uwa tidak menggubris karena sedang fokus kerjakan PR. Tapi lama-lama, batin uwa bertanya juga. “Saha nya eta? Asa teu wawuh jeung bengeutna camerok kitu” (siapa ya itu? Kayak gak kenal terus wajahnya menor gitu), dalam batin uwa dayat bertanya. Kemudian, uwa dayat memberanikan diri melihat wanita itu dan wanita itu tersenyum seakan tahu apa yang ada dihati wa dayat.

Tanpa komando, buku ditinggalkan dimeja makan, uwa dayat lari kekamar bapaknya (kakekku) dan membangukan bapaknya. “Pak, pak, itu saha dimeja makan aya nu calik, pak! Dayat sieun” (pak, pak, itu siapa yang duduk dimeja makan, pak! Dayat takut) sambil menggoyang-goyangkan badan bapaknya. “Aya naon sih, jang! Peuting-peuting ngahudangkeun” (ada apa sih, nak! Bangunkan malam-malam), sahut bapaknya/kakekku.

Melihat wajah uwa dayat pucat, bapaknya sudah tahu apa yang dilihatnya. Kemudian uwa dayat dan bapaknya ke ruang tamu untuk ambil buku yang tertinggal dan sosok wanita itu telah hilang. Besoknya, uwa dayat cerita ke bi enung apa yang dilihatnya tadi malam dan begitu pun dengan bibi yang menceritakan tadi malam. Demikianlah cerita lama yang telah dipendam oleh ibu dan bibiku, cerita ini terjadi tahun 1966. Kata ibuku, cerita ini akan dikenang terus.

Rumah yang dulu menjadi rumah tinggal ibu dan bibiku, kini menjadi minimarket yang terbengkalai. WaAllahualam bishshawab apakah yang menjadi penyebab terbengkalainya mini market tersebut. Cuma desas desus yang beredar, katanya banyak makhluk halusnya. Untuk sobat KCH yang mau berteman atau mengobrol, silahkan add fb saya ya! Ok, terima kasih admin dan reader KCH yang telah baca dan suka postingan saya. Jazkumullah khairan katsira, sekian.
Fb: Miftah Rizqi Maulana

KCH

Miftah Rizqi

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Miftah Rizqi has write 2,670 posts