Hantu Jembatan Flyover Pasupati

Sore itu aku bersama teman-temanku masih merayakan kelulusan sekolah kami. Aku, Ami, Mawar, Riska, Aden, dan Kiki masih duduk-duduk di depan sekolah. Kami sangat asyik bercanda, sambil berbicara tentang rencana kuliah. “Ndra, kita jalan-jalan yuk, bosen nih di sekolah terus. Jarang-jarang kan, kita jalan-jalan pakai baju sekolah, nanti malam.” Ide bagus, pikirku. Aku segera mengangguk dan berkata, “Gimana kalau kalian malam ini tidur di rumah aku aja. Jadi, sore ini, kita jalan sambil anterin kalian ke rumah masing-masing buat ambil pakaian. Terus ke rumah aku, setuju?”.

jawab mereka serentak “Setuju”. Satu persatu temanku aku antar, sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sebelum pulang ke rumah, kami memutuskan makan malam terlebih dahulu hingga jam 12 malam kami baru ke luar dari tempat makan. Malam itu, bandung sedang hujan lebat. Karena sudah larut, kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke rumah. Senda gurau kami mampu mengisi suasana di dalam mobil.

Ketika aku mengarahkan mobil melewati jembatan fly over dari arah Balubur, sorot lampu mobilku tanpa sengaja menerangi pinggiran Pasupati. Suasana di dalam mobil yang tadinya ramai oleh obrolan kami, tiba-tiba hening. Semuanya memperhatikan seseorang yang melambaikan tangan ke arah mobil kami. Terlihat seorang lelaki dengan motor di sampingnya berdiri di samping jalan.

Lelaki yang masih muda itu berdiri sambil terus melambaikan tangannya, seakan meminta kami untuk menepikan mobil ke arahnya. “Jangan ah, lo tuh gampang banget nolongin orang. Gimana kalau itu rampok?” Mawar menanggapi. “Tolongin aja, dari tampangnya sih kayak orang kesusahan.” Jelas Ami mendukungku. “Terserah deh. Kalau ternyata itu beneran rampok, masalah buat kita” ketus Mawar.

“Tenang, kita tolong aja, gue bawa tongkat baseball di belakang mobil, jadi aman” Kataku menenangkan teman-temanku. “Tahu deh, yang anak taekwondo” imbuh Riska. Aku menepikan mobil, dan memberi tanda lampu hazard. Pemuda itu menghampiriku. “Mbak, saya mau minta tolong. Motor saya mogok, boleh saya numpang, Mbak?” Ada yang aneh dengan lelaki ini, wajahnya pucat sekali, tatapan matanya kosong sangat kasihan sekali. Tanpa pikir panjang, aku menyuruh temanku untuk pindah ke belakang dan mempersilahkan orang itu naik mobil.

Dalam hati aku berdoa, aku hanya ingin menolong. Lelaki itu pun masuk dan duduk di sampingku. Badannya basah, dia tampak kedinginan hingga gemetar. Aku pun langsung menyalakan penghangat mobil. Lelaki itu menatapku, aku balik menatapnya, lalu melihat ke arah spion tengah, tampak teman-temanku memasang wajah tegang. Suasana di mobil sangat kaku, kami yang tadinya tertawa-tawa, jadi diam seketika. Kami semua memandangi orang itu bergantian, dia tampak kedinginan.

Aku tak tahu ada apa dengan lelaki ini, bagaimana dengan motornya, banyak pertanyaan di pikiranku yang hanya aku simpan, tidak sampai hati aku tanyakan. Aku sangat kasihan, terdengar bunyi gemeretak dari giginya, sepertinya dia benar-benar kedinginan. Mobil melaju kencang di Pasupati di tengah derasnya hujan. Sampai di sekitar Rumah Sakit Hasan Sadikin, laki-laki itu terlihat membaik, dia tak lagi kedinginan.

loading...

Dia hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. “Pak, Bapak mau ikut sampai mana? Mau saya antar?”. Dia hanya diam, dan menunjuk ke arah depan. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang aneh dari lelaki ini. Aku melihat ke belakang, wajah teman-temanku masih seperti yang tadi, salah satu dari mereka menggeleng. Sepertinya, temanku itu memberi kode kalau dia memang merasakan hal yang sama denganku. Aku menghentikan mobil tiba-tiba.

Lelaki yang duduk di sebelahku, kini sedang sibuk memegang darah yang berasal dari kepalanya. “Pak, kepalanya kenapa?” Sambil ketakutan, aku bertanya kepada lelaki itu. Aku mendengar suara ketakutan teman-temanku dari kursi belakang. Tampaknya, mereka mengetahui sebelum aku. Lalu Di tengah deras hujan, tiba-tiba dia melompat keluar dari dalam mobil. Dia menembus pintu mobil, dan langsung menghilang.

Terdengar suara tangisan Ami, dia sangat ketakutan. Aku pun sangat takut, tidak percaya yang aku tolong tadi adalah hantu. Namun, aku berusaha menenangkan diri sekuat tenaga, aku harus tetap fokus menyetir, biar kami cepat sampai rumah. Sesampainya di rumah, aku bersama teman-teman disambut oleh Ibu. Aku langsung memeluk ibu, dan tangisku pun pecah. Semuanya ikut menangis. Malam itu menjadi malam yang sangat seram dan mencekam bagi kami.

Dengan kondisi kami yang sudah lemas, aku membawa teman-temanku untuk istirahat di kamar. Aku menyesal, dan meminta maaf kepada mereka karena aku yang memiliki ide untuk membawa laki-laki itu. “Maafin ya, aku nggak tahu kalau orang itu” aku belum menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Aku menghentikan pembicaraan, dan bergegas untuk membuka pintu. “Iya, tunggu sebentar.” Mungkin Bang Ricky, tapi kok tidak kedengaran suara mobil? Aku memutar kunci dan membuka pintu astaga sesosok makhluk aneh berdiri di depan pintu.

Makhluk itu memakai kain putih dengan muka yang pucat, dan penuh darah. Aku ingat wajah pocong ini, wajah lelaki tadi yang ikut ke mobilku dan melompat keluar dengan menembus mobil. Makhluk itu berdiri berhadapan denganku, dari kepalanya terus mengeluarkan darah. Aku kaku dan hanya diam terpaku, Pandanganku mulai kabur, kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi. Pagi-pagi aku terbangun, saat teman-temanku masih tertidur.

Aku ingat kejadian semalam, pengalaman yang tak ingin terulang lagi. Dan sekarang, aku mendapati diriku sudah berada di kamar. Aku segera mencari orangtuaku dan menceritakan semuanya. Ibu langsung mendekapku erat, dia sangat memahami ketakutanku. Ibu bilang, dia heran menemukanku tertidur di depan pintu. Lalu Ibu dan Ayah membawaku ke kamar, dan berniat akan menanyakan apa yang terjadi.

Aku masih terbayang-bayang lelaki menyeramkan itu. Siapa dia sebenarnya dan mengapa dia menghantuiku. Beberapa hari kemudian, Misteri ini terjawab, aku akhirnya tahu bahwa laki-laki itu adalah orang yang mengakhiri hidupnya dengan melompat dari Jembatan Flyover Pasupati.

Share This: