Hantu Kamar Hotel

Hari ini adalah hari sabtu, sekolahku mengadakan piknik ke Jakarta. Selama 3 hari, dan tinggal di kamar hotel. “Baik anak-anak sekarang boleh naik bus, gantian ya naiknya” kata bu Sani, wali kelasku “baik bu” kata anak-anak termasuk aku, setelah itu aku segera naik bus hingga sampai di bandara, aku turun dan menunggu Pesawat. 1 jam kemudian aku sudah menaiki pesawat dan turun di bandara Soekarno Hatta, lalu bu Intan membagi kelompok kamar.

Aku sekelompok dengan Raya, Melani, Frada, dan Agata. Dan sesampainya di hotel aku segera membuka kamar, dan kamarnya lumayan menyeramkan tak lupa bau dupa yang menyengat, aku agak merinding tetapi ke 4 teman sekamarku sepertinya tidak menyadarinya, dan saat aku ingin ke kamar mandi, seperti ada yang menarikku ke kamar mandi hingga hampir saja aku tergelincir dan Frada melihatku lantas bilang “La, hati-hati awas kalau jatuh, gak bisa piknik loh” kata Frada.

“Iya lagian ini juga sudah hati-hati” kataku. “Jangan-jangan ada penghuninya kali, ya?” kata Raya. “Pikiran lu hantu terus Ray!” kata Melani sambil cekikikan, lalu aku segera menutup pintu kamar mandi, aku agak merasa aneh karena lantai kamar mandi ini agak kemerah-merahan seperti ada bekas darah serta bau anyir yang begitu menyengat sehingga aku ingin muntah.

Selesai ke kamar mandi aku membuka pintu, tapi anehnya temanku tidak ada bahkan kopernya pun tak ada, aku mulai merasakan hawa tak enak di sekitar kamar ini. Anehnya pintu kamar mandi itu ku tutup kenapa sekarang terbuka? Aku pun segera menelepon Agata, lantas keluar agar jika terjadi hal yang tidak di inginkan aku bisa lari “halo Agata! Kalian meninggalkanku ya di kamar? Awas ya” kataku marah. “Tunggu, meninggalkan hotel? Dari tadi kita di restoran loh Las, kita belum sempat ke kamarnya. Kamu ngigau ya?” tanya Agata.

“Hei! Jangan bercanda yang nakutin! Pasti cuma mau nakutin kan?” tanyaku sambil terus berlari. “Loh seriusan kita gak bohong! Sekarang kamu kesini saja! Terus ceritain” lalu sambungan di putus, perasaan aku sudah lari sekuat tenaga dan terus berlari ke depan tapi kenapa aku terus melewati kamar yang tadi? Dan aku pun segera berdoa dan akhirnya aku sampai di restoran “hah, hah, hah” nafasku tak beraturan.

“Nih duduk dulu mau minum apa?” tanya Frada “Lemon tea dingin” kataku. “Lu kenapa?” tanya Raya dan Melani, lalu aku segera menceritakan dari awal hingga akhir “oke, oke, paling kamu berhalusinasi sudah yu, nih di minum, yu kita ke kamar” kata Melani. Malam Harinya. “Huhuhuhu, tolong, tolong” terdengar suara anak kecil menangis dan arahnya dari kamar mandi “Fra, apaan tuh?” kataku gemetar “siapa kamu? Dan mau apa kamu?” teriak Frada.

Dan keluarlah sosok anak kecil bergaun penuh darah, rambut yang acak-acakan, serta bola mata yang hilang dan tangan kirinya yang hilang “namaku Dastine, aku hanya ingin meminta tolong” kata anak itu ternyata namanya Dastine, imut sekali namanya “meminta tolong?” tanyaku. “ya, meminta tolong” dan *wush, hilang sudah hantu tadi “Dastine! Kenapa tadi kamu menggangguku?” teriakku dan ada suara bisikan yang mengatakan “niatku tidak mengganggu tapi ingin meminta tolong, karena kau sepertinya penakut, jadi aku memilih jalan lain” kata bisikan itu.

“Hei, telepon satpam Heru, yang sudah puluhan tahun disini” kata Melani. “Oke” kata Raya. “Kok tahu?” tanyaku, “aku dulu sama Raya pernah ke sini sebelumnya terus minta kontak pak Heru” jawab Melani. “Halo pak tolong bapak ke kamar nomor 103 ya pak, lantai 2” kata Raya, “baik dek Raya” jawab pak satpam, lalu terdengar langkah kaki menuju kamar ini. Aku berharap itu bukan Dastine tapi pak satpam Heru “iya dek ada apa?”.

Alhamdullilah ternyata pak Heru, “bapak tahu anak yang bernama Dastine?” tanya Agata. “Oh tahu, tahu dek, ada masalah apa ya?” tanya pak Heru. “Dia tadi datang pak, terus bilang mau meminta tolong” kata Frada, “hah Dastine menggentayangi kalian?” tanya pak Heru. “Pak boleh saya tahu asal usul Dastine?” tanyaku, “boleh, boleh dek tapi kalian harus berjanji menjaga rahasia ini” kata pak Heru kami hanya mengangguk.

“Dulunya Dastine adalah anak yang periang, pintar dan sopan serta merta dia anak yang baik, dia selalu menjadi primadona sekolah tak lagi dia kaya, suatu hari dia dan teman-temannya liburan ke sini sepertinya niat ketiga temannya itu niatnya bukan untuk mengajak liburan Dastine, tapi membunuhnya. Kalian lihat kan ada bercak merah dan bau anyir di kamar mandi? Itu adalah darah Dastine, kami sudah berusaha membersihkan bekas darah itu tapi tidak bisa, Dastine itu sebenarnya di bunuh di kamar mandi oleh ketiga temannya karena mereka berdua itu istilahnya iri dengan Dastine dan saya tidak tau mengapa Dastine masih bergentayangan” kata pak heru.

“Kejadian tahun berapa?” tanya Melani, “1999” kata pak Heru. “Bapak tahu darimana itu semua?”tanya Agata, “satu temannya yang tidak berani membunuh Dastine” jawab pak Heru, “tapi apa maunya Dastine?” tanya Agata. “Balas dendam” jawab Frada, “kok tahu?” jawabku. “Sepertinya dia di rasuki Dastine” jawab pak Heru berbisik. “Dastine, kami tidak mau membalas dendam. Karena balas dendam itu dosa” kataku.

“Balaskan dendamku pada mereka!” teriak Frada, “Dastine! Balas dendam itu dosa, apakah ketika kami sudah membalas dendam kamu akan tenang?” tanyaku. “Ya! Bunuh mereka supaya senasib denganku” kata Dastine, “ku mohon Dastine, maafkan saja kesalahan mereka” kata Melani. “Tapi gara-gara mereka, aku jadi sengsara. Aku tidak bisa hidup, aku butuh nyawa! Tapi nyawa tidak bisa di beli, kumohon” kata Dastine. “Mereka itu temanmu Dastine, teman kadang jahat-kadang baik, ku yakin mereka hanya iri padamu, Dastine, pasti mereka menyesal, sudahlah hiduplah di surga kau akan bebas dan bahagia” kataku sambil menangis karena terharu.

“Kata-katamu memang membuatku berubah pikiran, terima kasih sudah mau menasehatiku, aku sudah memaafkan mereka, terima kasih hiduplah yang damai” kata Dastine, sambil menangis, karena Frada di rasuki Dastine jadi dia yang menangis lalu lantai kamar mandi sudah putih bersih tanpa bekas darah serta bau anyir hilang. Lalu Frada pun pingsan serta ada selembar surat yang datangnya berbarengan dengan hilangnya Dastine.

loading...

Tulisanya begini “terima kasih kawan. Carilah ketiga temanku yang bernama Tri, Fatiha, dan Beka bilangkan aku sudah memaafkan mereka. Dan mereka sepertinya kuliah di kampus dekat hotel ini” aku hanya tersenyum, dan menjawab “iya kak Dastine”. Sekian cerita saya semoga kisah ini dapat menghibur anda, jika ada salah kata mohon maaf, wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

KCH

Meuthia icha

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Meuthia icha has write 2,694 posts