Hantu Maryam

Aku adalah siswi yang berasal dari salah satu sekolah SMA Negri, aku duduk di kelas 1 SMA. Sebenarnya aku bersekolah di Semarang, tapi karena orangtuaku ditugaskan di Bandung jadi mau tidak mau aku harus ikut. Aku masuk ke sekolah ini karena tawaran teman ayahku yang juga kepala sekolah disini, pak bambang namanya.

Aku masih ingat akan kata-katanya ketika aku daftar ke SMA ini “Ani, kalo kamu sudah tidak betah lagi sekolah disini. Kamu langsung bilang ke bapak ya”. Aku agak heran dengan ucapannya, tapi aku pikir mungkin dia berkata seperti itu karena mungkin siswa/i disini pada nakal-nakal. Kelasku berada di lantai paling ujung. Kelasnya sangat nyaman dan sejuk, dari kelas ini aku bisa melihat anak sungai dengan jelas dari jendela di sampingku.

Tapi disini beberapa kejadian aneh mulai terasa, belum ada sebulan aku berada di kelas ini. Temanku sempat melihat ada seorang anak kecil hitam, berada di bawah meja guru. Tak lama setelah peristiwa itu, terjadilah kesurupan massal. Awalnya aku sangat kaget dengan kejadian kesurupan massal karena aku baru pertama kali melihatnya.

Siswa/i di beberapa kelas bertingkah aneh sambil berguling-guling di lantai. Para guru kewalahan menangani mereka, sampai dipanggil seorang pak ustad. Setelah selesai, sekolah dipulangkan dengan cepat. Namun beberapa hari kemudian, peristiwa kesurupan massal ini terjadi. Dan lagi-lagi seluruh teman-temanku berteriak sambil berguling tidak karuan. Tapi kali ini, karena peristiwa kesurupan terjadi di pagi hari. Kegiatan belajar mengajar tetap dilanjutkan.

Bu Ningsih, seorang guru muda yang baik hati masuk ke kelas kami untuk mengajar kesenian, tapi ada yang aneh dengan bu ningsih. Dia tidak terlihat seperti biasanya, ketua kelas lalu memerintahkan kami untuk berdoa. Tapi bu ningsih mengangkat tangan nya dan menyuruh kami untuk berhenti, bu ningsih mulai berbicara. Dia berkata kalo hari ini, dia akan mengajarkan kepada kami sebuah tarian. Tanpa banyak bicara, bu ningsih mulai menyalakan musik.

loading...

Sebuah suara lantunan jawa mulai terdengar dari speaker, dan bu ningsih mulai memperagakan tarian. Siswa/i terlihat serius memperhatikan nya, dan tiba-tiba bu ningsih mengajak temanku raka untuk menari. Bu ningsih mengajarkan raka menari selangkah demi selangkah, sorot mata bu ningsih terlihat kosong.

Bu ningsih juga mengajak beberapa murid lain untuk menari. Mereka mengikuti di bangku masing-masing. Aku, baru pertama kali melihat tarian ini dan gerakan nya sangat aneh. Dan, tiba-tiba semua siswa/i memiringkan badan nya serentak ke bawah. Lalu kami semua terpaku, karena ternyata kaki bu ningsih melayang. Dengan perlahan kami lihat ke atas dan serasa di cekik oleh bu ningsih, kami semua teriak kesakitan. Aku mencoba mengambil penggaris kayu yang berada di sampingku dan mencoba memukulnya, tapi penggaris kayu itu tembus melewati tubuh bu ningsih.

Sekarang, bu ningsih membalikan badan nya ke arahku. Dia mulai berjalan ke arahku dan mulai mencekik leherku. Astaga, aku merasakan tubuhku terangkat semakin tinggi. Pandanganku, mulai buram dan tiba-tiba pak bambang dan para staf sekolah mendobrak pintu. Bu ningsih langsung melepasku, dia lalu melompat sangat tinggi dan kemudian dia kabur keluar melalui jendela. Dan itulah pemandangan terakhir yang aku ingat, karena setelah itu aku jatuh pingsan.

Aku mulai membuka mata perlahan, tepat dihadapanku ada pak bambang terus menerus memberikan minyak kayu putih kepadaku. Aku pun bertanya kepada pak bambang apa yang telah terjadi, lalu pak bambang menceritakan. Kalo mereka berhasil mengejar bu ningsih yang hampir menjatuhkan badan nya ke sungai. Setelah diselamatkan, bu ningsih di doakan dan tak lama kemudian dia sadar.

Bu ningsih, kesurupan kuntilanak yang bernama “Maryam”. Pak bambang pun menceritakan kalo maryam adalah seorang gadis yang meninggal tepat tanggal 17 Agustus 1944. Karena ditembak oleh kompani, maryam disangka sebagai mata-mata oleh kompani. Mariam dikuburkan siang-siang tepat di tengah lapang sekolah ini. Maryam dikenal pandai menari, konon katanya maryam akan mengganggu kalo ada yang memanggil namanya, atau bahkan memanggilnya di dalam hati.

Share This: