Hantu Nancy

Kita tidak pernah tahu kapan, di mana, dan dengan cara apa bertemu dengan makhluk gaib apalagi bertemu dengan sosok hantu perempuan belanda yaitu Nancy. Kalau diminta untuk memilih, aku tidak akan mau bertemu dengan mereka. Karena bertemu dengan mereka pasti bukan pengalaman yang menyenangkan sama sekali. Namaku Raja. Aku murid kelas 3 SMA negeri yang terletak di Jalan Belitung. Aku adalah murid pindahan dari Medan.

Sekolah di Bandung merupakan harapanku sejak lama. Aku ingin mengecap pendidikan yang lebih baik di Pulau Jawa, dan meraih cita-citaku. Karena sudah kelas tiga juga, aku menghabiskan banyak waktu untuk belajar. Bukan hanya belajar di sekolah, aku juga ikut bimbingan belajar. Malam itu, aku baru saja selesai dari bimbel di Jalan Bahureksa. Aku memang selalu pulang malam jika ada jadwal bimbel. Maklum, besok Ujian Tengah Semester. Belajar di sekolah yang berisi murid-murid pintar memang melelahkan.

Aku hendak pulang menuju kost dengan berjalan kaki. Dingin sekali malam ini, Aku menyusuri trotoar Jalan Belitung di depan sekolahku. Letak bimbel dan sekolah memang tidak terlalu jauh. Aku selalu melewati sekolah saat pulang bimbel. Perasaanku tidak enak saat melewati depan sekolah. Ada hawa dingin menyergap. Aku harus segera pulang untuk menghangatkan badan yang mulai kedinginan. Aku pun mempercepat langkah agar segera sampai di kost yang sudah tidak jauh lagi.

Sesampainya di kost, “kunciku di mana ya?” Aku panik mencari-cari kunci di saku pakaian dan celana. Tidak ada. Mungkin di tas, Aku merogoh tasku tapi hasilnya nihil. “Sudah capek, kenapa harus ada masalah gini. Ketinggalan di mana ya?”. Aku mencoba menelepon Fahmi teman kelasku yang juga anak kost. “Halo, Mi Lo liat kunci gw nggak? Coba cariin mungkin ada di kamar lo?” Aku bertanya sambil berharap Fahmi menemukan kunci kost ku karena sebelum bimbel aku mampir dulu ke kost nya.

“Bentar gw cari dulu” jawabnya.
“Nggak ada Raj, gw nggak nemu. Mungkin, kunci lo ketinggalan di kelas kali coba aja lo nyari di sana”.
“Masa sih ketinggalan di kelas?”. Aku pun memutuskan kembali ke sekolah untuk mencari kunci kamarku. Aku melangkahkan kakiku dengan terpaksa. Mudah-mudahan yang dikatakan Fahmi benar. Sekolahku merupakan bangunan tua dengan arsitektur Belanda yang sudah berumur sekitar 97 tahun.

Catnya sudah mulai memudar, jendela-jendela besar yang berdebu membuat suasana sekolahku pada malam itu sangat menyeramkan. Ini kali pertama aku ke sekolah pada malam hari, tengah malam pula. Aku mencoba membuka pintu gerbang dan, pintu gerbang terkunci. Aku mencoba mencari cara agar bisa masuk ke dalam. Aku mencoba memanggil penjaga sekolah yang biasa menginap di sekolah.

“Pak Er, Pak Er” Panggilku sambil berteriak. Tapi, tidak ada jawaban. Aku mencoba memanggilnya berkali-kali. Tetap tidak ada jawaban. Aku pun memutuskan untuk memanjat gerbang sekolah. Gerbang yang terbuat dari besi bercat itu cukup tinggi. Ujungnya meruncing seperti tombak berwarna kuning. Ini membuatku cukup kesulitan untuk memanjatnya. “Tapi, dari pada aku kedinginan diluar lebih baik aku cepat menemukan kunciku” pikirku.

Saat berusaha memanjat, terdengar olehku, “Hei.. Hei” Hah, suara siapa itu? Aku mencoba melihat sekitar, tidak ada siapa-siapa. Mungkin hanya perasaanku. Aku berhasil memanjat gerbang itu dan masuk ke area sekolah. Aku berjalan melewati halaman sekolah. Suasana sangat sepi dan mencekam tidak menyurutkan langkahku. Lalu, aku melewati sebuah taman anggrek. Di sana, terdapat kolam air mancur dan kursi panjang yang terbuat dari keramik yang sudah sangat kuno menurutku.

Aku meneruskan langkahku, dan sampailah aku di sebuah pintu. Pintu yang akan menghubungkanku dengan area kelas. Saat aku membuka pintu, tiba-tiba angin berhembus, hawa dingin terasa menusuk sampai ke tulang. Entah kenapa sejak aku masuk area kelas, ada perasaan tidak enak di hatiku. Ada kegelisahan menyelimuti perasaanku. Samar-samar, aku mendengar suara lantunan piano. Suara piano itu mengalun dari aula lantai dua.

Aku tetap melanjutkan langkah menaiki tangga dengan suasana hati dan pikiran yang tidak karuan. Baru setengah perjalanan, suara piano sudah menghilang. Aku pun menaiki tangga perlahan-lahan sambil melirik kanan kiri. Saat aku sampai di ujung tangga, aku hanya melihat aula yang kosong. Aula itu gelap, tetapi sedikit mendapat cahaya dari sinar bulan yang masuk melalui celah-celah jendela.

Aku mengarahkan langkahku ke belokan kiri yang ada di depan lorong. Kelasku terletak di ujung lorong. Saat menyusuri lorong itu, aku melihat pintu tiap kelas dikunci dan digembok. Jangan-jangan, kelasku juga. Betapa senangnya aku saat mendapati pintu kelasku tidak dikunci. Aku menggerakkan gagang pintu, dan pintu kelas itu terbuka.

Dua jendela di kelasku terbuka lebar sehingga dinginnya angin malam terasa tidak bersahabat di badanku yang sudah sangat lelah ini. Aku bergegas menuju meja yang terletak di belakang sebelah kiri. Aku menggunakan cahaya handphone untuk menerangi pandanganku. Aku pun mulai mencari apa yang menjadi tujuanku tengah malam ke sekolah. Saat aku sedang mencari-cari, tiba-tiba aku mendengar suara derap langkah mendekat ke arah kelasku.

loading...

“Siapa itu?” Aku bertanya dengan suara agak keras, dan mencoba melihat ke arah pintu dan lorong. Aneh tidak ada siapa-siapa, Aku mempercepat usahaku mencari kunci itu. Aku memeriksa kolong mejaku, dan aku menemukan kunciku. Lega rasanya bisa menemukan kunci kost kembali. Baru saja aku bangkit dan akan melangkahkan kaki untuk pulang.

Tiba-tiba terdengar suara bel sekolah. Aku terdiam, Kaki dan tanganku lemas. Bagaimana mungkin tengah malam begini bel sekolah berbunyi. Refleks aku melihat jam tanganku. Saat itu menunjukkan tepat jam 12 malam. Aku mencoba menyembunyikan keherananku dengan segera bergegas pulang. Jendela kelasku tiba-tiba terbanting dengan keras. Aku panik, ingin rasanya segera berlari meninggalkan ruangan ini. Bulu kuduk pun merinding, rasa takut menyelimutiku.

Aku berlari, kembali menyusuri lorong yang gelap itu. Dan entah muncul dari mana, sekelebat bayangan berwarna putih melayang cepat mendekatiku dari arah belakang. Aku melihat sesosok perempuan mengunakan gaun putih di ujung kelasku. Kulit perempuan itu putih pucat sambil menatap ke arahku. Aku berlari sekuat tenaga menyusuri lorong itu secepat mungkin. Aku harus keluar dari gedung ini. Tiba-tiba terdengar suara.

“hihihi…” Dan suara itu semakin mendekat.

Aku memasuki aula dan berbelok menuju tangga. Suara itu terdengar mendekat seakan-akan mengejarku. Saat aku berada di depan tangga, aku melihat di lantai dasar. Sosok perempuan itu ada di sana, dia menunjuk ke arahku, seperti menyuruhku untuk melihat ke arah belakang. Saat aku melihat ke arah belakang, Ada seorang noni Belanda yang mukanya hancur dan mulutnya menganga mengeluarkan suara yang sangat menyeramkan.

Sekujur badanku lemas seketika, sehingga tak kuasa menahan berat badanku. Aku pun terjatuh dari tangga. Aku pingsan dan tak sadarkan diri. Aku terbangun dan mendapati diriku di atas sofa di kamar Pak Er. Katanya, penjaga sekolah itu mendapati diriku tergeletak di lantai, dan dia menggotongku ke luar. Pak Er memintaku untuk menceritakan apa yang aku alami tadi malam. Ekspresi Pak Er seperti ketakutan mendengarkan penjelasanku. Aku sendiri mendesak Pak Er untuk menceritakan apa yang sebenarnya ada di sekolah ini.

Pak Er terkesan enggan untuk bercerita. Namun, aku terus memaksa Pak Er, sampai dia akhirnya mau sedikit menjelaskan. Aku kaget sekaligus ketakutan ketika Pak Er berkata, bahwa yang aku lihat semalam adalah hantu Nancy. Sebagai orang baru di Bandung, aku tidak tahu cerita tentang Nancy di sekolah itu. Rasa penasaran membawaku kepada beberapa orang untuk bertanya tentang Nancy. Aku pun tahu kisahnya.

Dulu ada seorang wanita Belanda yang bersekolah di sini. Dia bernama Nancy, dia jatuh cinta kepada orang pribumi. Namun, orangtua Nancy tidak setuju, dan akhirnya dia bunuh diri di kelas itu. Sampai saat ini ada cerita, bahwa jendela di kelas itu tidak pernah ditutup karena hantu Nancy sering berada di sana. Jika ditutup, maka Nancy akan marah. Dia pun sering berjalan-jalan di sekitar lorong lantai dua dan aula. Memang tidak masuk akal, tapi aku percaya Nancy ada di kelas itu, Karena aku melihatnya sendiri.

Share This: