Hantu Pasir

Malam itu seusai mengaji, guruku bercerita tentang pengalaman horornya pada murid-muridnya tentang hantu pasir. Waktu itu ia pulang dari acara rutinitas di desa, pengajian khusus ibu-ibu jamaah yasin. Ia pulang lewat jalan pintas yang masih termasuk kebun pohon bambu. Karena aktivitas yasin bergilir tempat setiap minggunya. Karena jalan ini lebih dekat dari rumahnya. Entah kenapa ia di ganggu beberapa demit atau hantu malam itu.

loading...

Dan salah satunya adalah hantu pasir. Entah kenapa tiba-tiba ketika berjalan, kakinya seperti tertiup angin, tapi anehnya angin ini hanya di kaki saja. Angin ini hanya memutari kakinya sehingga membuat ia tidak bisa melangkah. Hantu ini sering disebut si kera putih. Hantu ini hanya ingin berkenalan saja, setelah itu ia melepaskan kakinya. Namun setelah beberapa kali melangkah gangguan kembali lagi. Kali ini yang sering di sebut hujan pasir/hantu pasir.

Tiba-tiba pohon bambu di sekitarnya berbunyi seperti terkena hujan. Tapi anehnya hujan ini bukan air melainkan hujan pasir. Konon jika kita tidak segera pergi dari hujan pasir maka kebutaan akan melanda mata kita, jika sampai terkena mata. Cerita ini mengingatkanku ketika usiaku masih 8 tahun, waktu itu saya masih kelas 3 SD. Seperti biasa setiap sepulang sekolah selesai salin baju, saya ke rumah kakek/nenek, dan akan pulang jam 4 sore. Itu sudah rutinitas tiap hari, karena simbah/kakek nenekku suka jika aku sering main ke rumahnya.

Ketika hendak pulang ke rumah, seperti biasa aku berjalan kaki ke jalan pintas. Karena jalan ini adalah jalan favoritku, selain sejuk karena banyak pohon bambu dan matahari sore tidak terlalu menyengat jika lewat sini, apalagi masih terbilang cukup dekat dengan arah rumah. Cuaca hari itu terbilang sangat cerah dan terik. Saya bernyanyi-nyanyi kecil sambil melangkah, karena siap-siap memasuki kawasan kebun kosong yang aku sebutkan tadi.

Tumben sekali hari ini sepi, biasanya mbah ikun yang rumahnya ku lewati sebelum masuk ke area kebun di luar rumah, tapi kali ini ia tidak ada, batinku. Itu sebabnya aku bernyanyi kecil sambil menghibur hatiku yang merasa agak aneh. Setelah beberapa langkah hendak pertengahan kebun tiba-tiba seperti ada hujan. Sebelum aku berlari takut basah, aku melihat ke belakang “lho mana hujannya?” tanyaku dalam hati.

Tiba-tiba pundakku seperti ada yang menyiram pasir. Aku pikir itu mbah ikun yang suka jahil sama anak kecil atau ada orang iseng. Ku lihat sekitar tidak ada seorang pun orang. Akhirnya aku cepat-cepat melangkahkan kaki, tiba-tiba di depanku yang masih agak jauh dari rumah nenek siwo (sekarang almarhumah), terdengar suara wanita tertawa cekikikan. Ku pikir itu nenek siwo, tapi kok aneh. Suara nenek tua renta bisa sekeras dan masih nyaring seperti masih muda, kataku dalam hati.

Entah kenapa aku semakin ketakutan, akhirnya ku urungkan niat untuk lewat rumah nenek siwo, lalu kembali berbalik arah dan keluar dari pekarangan kosong itu. Tiba-tiba mbah ikun membuka pintu rumahnya dan keluar, lalu bertanya padaku “lho kenapa balik lagi? Gak jadi lewat situ?” katanya.

Lalu ku jawab “nggak jadi mbah, aku takut”. “Kenapa takut?” katanya lagi. Lalu ku jelaskan tentang suara tadi. Tapi mbah ikun bilang ah itu suara mbah/nenek siwo, mungkin dia sedang ngobrol sama orang jadi ketawa terbahak-bahak” katanya. “Bukan mbah, itu bukan suara mbah siwo, karena saya tahu betul suara ketawanya bagaimana” kataku ngeyel. Karena tidak ada suara orang mengobrol sebelumnya.

Akhirnya aku meninggalkan mbah ikun lewat jalan lain. Setelah itu saya kapok dan tidak mau lagi lewat jalan pintas itu, walaupun suatu hari temanku mengajak lewat jalan itu saat bermain, aku tetap tidak mau lewat jalan itu. Hingga jalan itu di tutup setelah mbah/nenek siwo meninggal dan rumahnya di bongkar. Dan jalan ini di geser, walaupun masih 1 area kebun kosong. Dan jalan ini pula yang di ceritakan guruku. Sekian.

loading...
Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 116 posts