Hantu Paviliun

Suatu ketika, keluarga kami harus berpindah-pindah tempat karena belum cukup dana untuk membangun rumah paviliun. Maklum ayahku adalah pegawai negeri rendahan dengan gaji pas-pasan, apalagi dengan enam orang anak. Sedangkan ibuku sudah lama keluar dari pegawai negeri sipil (PNS) atas permintaan ayahku agar bisa merawat anak-anaknya dengan baik, sebuah permintaan k*nyol.

Saat kami menyewa sebuah rumah yang berdiri di tengah persawahan dan berada di pinggir sebuah jalan sepi menuju sebuah desa terpencil, peristiwa- peristiwa aneh kerap kali terjadi pada kami. Kebetulan rumah yang kami tinggali cukup besar, dengan halaman sangat luas. Di sisi kiri depan rumah terdapat sebuah paviliun yang masih menjadi satu atap dengan rumah induk. Dengan alasan paviliun itu akan jadi persinggahan tuan rumah sewaktu- waktu apabila si empunya rumah bertandang, kami tidak di serahi kunci.

Suatu malam beberapa hari ketika kami baru saja menempati rumah itu, kami hendak berangkat menuju kamar masing-masing untuk tidur, terdengar suara mencurigakan. Saat itu lampu minyak di dalam rumah sudah kami matikan seluruhnya. Tiba-tiba kami mendengar suara orang sedang menggergaji dari arah teras rumah. Aku, kakak perempuan dan adik laki-lakiku saling berpandangan dengan mulut ternganga. Kami saling berbisik-bisik, dan sepakat kalau ada pencuri hendak masuk rumah.

Dengan mengendap-endap, kami mengambil arit, tongkat kayu, dan sapu bergadang kayu dari dapur. Kami hendak menangkap basah pencuri itu! Namun mulut kami di buat kembali menganga karena selain suara orang menggergaji, ada satu lagi suara yang cukup keras, orang sedang memalu! Perlahan-lahan kami mengintai ke arah luar lewat jendela kaca rayban tak berkelambu yang memenuhi sisi depan rumah. Tak terlihat apapun! Namun suara-suara itu tak kunjung reda dan semakin ramai layaknya beberapa tukang sedang bekerja.

Akhirnya kami putuskan untuk keluar rumah. perlahan-lahan Kami membuka kunci pintu ruang tamu dan mengendap-endap ke arah asal suara yang ternyata dari dalam paviliun! Alangkah terkejutnya kami, karena pintu paviliun masih tertutup rapat, dan suara-suara itu kini berasal dari dalamnya. Kami gedor pintunya dan seketika suara-suara itu berhenti. Kami berusaha memaksa orang yang ada di dalamnya untuk membuka pintunya.

Kami berusaha mengintip dari jendela paviliun untuk mengetahui apa yang terjadi di sana. Kami ambil lampu senter. Saat kami sedang ribut-ribut, ayah dan ibu terbangun dan menanyakan apa yang terjadi. Setelah mendengar cerita kami, ayah mengajakku untuk mengambil tangga bambu. Kami berusaha untuk mengintai dari arah dalam rumah karena seluruh rumah saat itu belum di pasang atap seluruhnya. Akhirnya aku bisa melihat seisi paviliun dari atas tangga.

Dengan bantuan lampu senter aku mengamati seisi Paviliun, namun aku tidak melihat apa-apa yang mencurigakan, semua barang terlihat masih rapi berada di tempatnya. Sungguh aneh, aneh sekali! Setelah mengetahui kejadian itu kami masuk kembali ke dalam rumah dengan perasaan sangat ketakutan. Kami berusaha berdoa dan mengucapkan ayat-ayat suci dari Al Quran yang bisa mengusir setan dan jin. Keadaan kembali sunyi. Kami ingin kembali tidur sekitar 1 jam setelah kejadian.

Kami kembali di buat dengan munculnya suara yang sama seperti kejadian sejam yang lalu. Kali ini kami kembali merasa takut setengah mati. Ayah, ibu, kakak perempuan aku dan adik laki-lakiku berkumpul dalam satu kamar, badan menggigil dan keringat dingin mulai mengalir. Kami hendak berteriak minta tolong tetapi rumah kami sangat jauh dari pemukiman terdekat. Akhirnya kami hanya berdoa dan memohon pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tiba-tiba aku berteriak “hey jangan ganggu kami, kalau bisa bantulah kami keluar dari penderitaan!” seruku dengan rasa putus asa. Tiba-tiba suara-suara itu berhenti dan menghilang sampai pagi harinya. Untuk sementara kami merasa aman. Namun pada malam-malam sesudah itu suara-suara seperti orang sedang bertukang itu selalu muncul dan muncul lagi. Saat suara-suara itu kembali muncul, kami sering masih terjaga dan mengintip keluar ingin melihat apa yang terjadi.

Terkadang di luar tidak ada apapun, namun terkadang ada kejadian janggal juga. Pernah pada suatu ketika, ada sebuah pohon pisang yang menari-nari sedangkan pohon-pohon yang lain terdiam membeku di tengah malam. Itu tidak aku lihat sendiri tetapi kami amati bersama-sama. Pernah pada suatu ketika saat kami sedang berkumpul di ruang tamu sedang bercanda ria tiba-tiba di depan teras terdengar langkah kaki yang sangat keras berat dan di seret seperti ada raksasa yang sedang lewat. Padahal kami yang sedang menghadap ke arah jendela, menghadap keluar tidak melihat apapun.

Akhirnya kejadian demi kejadian aneh terjadi di rumah itu namun kami sudah kebal dan tidak merasa takut lagi. Di sana kami sekeluarga banyak menemui kebahagiaan, kesuksesan dan keberhasilan dalam berkarya maupun bekerja. Bahkan aku di angkat sebagai guru PNS saat tinggal di rumah itu. Dan anehnya kami bisa tinggal di rumah itu sampai 2 tahun dengan selamat. Sesudahnya si pemilik rumah bersama keluarganya yang menempati rumah tersebut.

Namun hanya berselang 3 bulan setelah keluarga itu tinggal di sana, kepala keluarga meninggal setelah terkena stroke pada usia 40 tahun. Menurut cerita masyarakat sekitar, si empunya rumah banyak memasang tumbal di rumah itu, tujuannya adalah untuk mempertahankan jabatannya di sebuah institusi pemerintah yang tergolong basah dan banyak yang ingin menduduki posisi beliau. Mungkin si empunya rumah itu termakan sendiri oleh tumbal-tumbal yang di pasangnya.

loading...

Beberapa tahun kemudian anak laki-laki pertamanya juga meninggal karena sakit di susul anak perempuan nomor 2 juga meninggal. Masyarakat di sana semakin percaya bahwa penghuni rumah paviliun itu memang memasang tumbal yang berakibat fatal pada keluarganya. Sekian cerita ini terima kasih atas perhatiannya.

KCH

Sunu

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Sunu has write 2,694 posts