Hantu Penunggu Kost Putri

Hari itu aku baru saja menempati sebuah kost putri yang hanya diperuntukan khusus untuk perempuan saja menurutku dengan harga dibawah 1 juta. Apalagi untuk yang baru memulai kehidupan kota seperti aku, bisa dibilang keamanannya cukup ketat ditambah beberapa peraturan yang membuatku merasa aman berada di kost putri ini. Sebagai penghuni kost putri aku cukup mematuhi semua peraturan.

Aku selalu pulang sebelum jam 11 malam dan tidak menerima tamu lebih dari jam 9 malam, itu juga yang di ikuti dan ditaati oleh penghuni kostan lain. Makanya tidak heran jika diatas jam 10 malam, kost ku sudah sepi seperti kuburan. Kost putri ini terdiri dari 5 kamar hanya ada 3 yang terisi ada Dian, Yuli dan aku. Halaman belakang luas dengan sebuah pohon kapas yang tinggi menjulang, aku sangat nyaman ketika pagi hari.

Makanya posisi kamarku berada paling depan. Namun, ternyata kostan ku itu menyimpan sebuah kisah memilukan dan tragis tentang seorang perempuan bernama Marsinah. Malam itu aku pulang agak larut karena aku harus mengerjakan tugas bersama temanku dikampus sebenarnya tugas itu dapat dikerjakan besok. Sebelum berangkat aku menghubungi dian untuk tidak mengunci pintu gerbang karena aku akan pulang larut malam. Dian pun mengiyakan tapi dia juga bilang dengan intonasi sedikit berbisik.

“Jangan terlalu pulang malam Via, bahaya disini.” bisik dian kepadaku melalui telepon. Singkat cerita aku pulang dini hari karena diskusi yang sangat panjang. Aku melihat pintu kost tidak terkunci, pintunya terbuka sedikit. Dengan perlahan aku membuka pintu gerbang kostan dan tiba-tiba saja bulu kuduk berdiri seperti ada sebuah embun yang menyentuh pundak. Aku melihat kanan dan kiri, sepi hanya ada angin yang dingin menggerakan dedaun di kostan sehingga suaranya membuat cukup menyeramkan.

Setelah memasukan mobil ke garasi dan mengunci pintu gerbang kostan, ketika aku melangkahkan kaki di halaman depan. Selintas aku melihat seperti ada seseorang yang tengah berdiri di balkon atas akan tetapi ketika aku melihat ke arah balkon tidak ada siapa-siapa. Perasaan tadi kayak ada yang berdiri disitu, atau mungkin dian ya. Lampu kamar dian masih menyala, aku segera masuk kedalam rumah. Ruang tamu sudah gelap seperti yang aku ceritakan, kamarku terletak di bagian depan rumah.

Tapi malam itu, aku tidak langsung masuk kamar. Aku naik ke lantai 2 untuk pergi ke kamar dian, sampai di pintu depan kamar dian aku mencoba memanggilnya. “Dian, udah tidur belum? aku bawa makanan nich.” ucapku sambil memanggil dian di depan pintunya. Tidak ada jawaban, aku menempelken kupingku ke pintu kamar dian. Samar-samar aku mendengar suara televisi yang menyala.

Aku menggelengkan kepala, kebiasaan dian kalo tidur pasti lupa matikan tv. Lalu aku turun ke bawah sampai aku berhenti didepan pintu kamar. Aku merogoh mencari kunci ke dalam tas, karena sudah tertumpuk barang-barang agak sedikit susah mencari kunci. Ketika pandanganku tidak sengaja ku arahkan ke dapur, “Dian, lagi ngapain? kok belum tidur dian”.

Aku melihat siluet seorang perempuan tengah berdiri di pinggir meja makan. Aku menghampirinya tepat disebelahnya, aku lalu mengeluarkan gugusan plastik dari dalam tas ku. “Dian, nih aku bawakan makanan. Makasih ya buat..” Astagfirulah, aku terperanjat dan segera menutup mulutku sambil mataku berkaca-kaca. Air mataku meluncur dengan cepat, didepanku berdiri sesosok perempuan. Perempuan yang ternyata bukan dian, perempuan dengan baju kebaya yang berdiri itu seperti sedang menyiapkan sesuatu.

Dan yang membuat aku kaget, muka perempuan itu pucat. Matanya putih semua, dilehernya terlihat bekas ikatan. Perempuan itu, mengambil seutas tali di atas meja sedangkan aku susah payah menggerakan badan dan mulutku. Aku tidak bisa berteriak, air mataku menetes. Aku sangat ketakutan, aku tahu yang kulihat bukan manusia melainkan sesosok arwah yang entah dari mana datangnya. Perempuan itu mengikat tali di atas meja, tiba-tiba saja dari mulutnya sebuah senandung yang memilukan.

Aku tidak terlalu mengerti apa yang dia nyanyikan, tapi aku benar-benar seperti dipaksa melihat apa yang perempuan itu lakukan. Kemudian perempuan itu naik ke atas meja, suaranya yang parau masih melantunkan lagu bahasa jawa itu. Setelah dia berada di atas meja, dia mengikat tali lainnya ke ujung lampu yang besar dan kokoh di atas meja makan.

Astaga, apa yang dia lakukan. Aku terus menangis, menggelengkan tindakan perempuan itu. Dia mengikatkan tali dilehernya lalu perempuan itu melemaskan badan dan membiarkan badannya menggantung senandungnya pun berubah menjadi rintihan kesakitan. Lalu lidahnya keluar dari mulutnya, aku coba mengumpulkan semua tenaga ku dan aku berlari ke kamarku.

Astaga, dalam kepanikan dan pemandangan yang seram itu. Kunci kost susah sekali ditemukan, akhirnya dengan panik aku membuka pintu kamar dan berhasil. Aku masuk dan langsung menutup pintu, didalam kamar aku mencoba mengatur nafas. Ternyata arwah perempuan itu belum selesai menggangguku, aku yang masih bersandar di pintu kamar tiba-tiba dikagetkan oleh arwah perempuan itu. Sekarang dia berada di meja rias di kamarku, dia bersisir sambil bersenandung lagu jawa tadi.

Siapa dia, dan kenapa dia ada dikamarku dan akhirnya pandanganku mulai buram. Esok harinya aku menceritakan semua kejadian kepada dian, awalnya dian tidak mau berkata apa-apa. Dian hanya menyalahkanku yang pulang malam, tapi setelah didesak olehku akhirnya dian mau bicara. Jadi rumah tersebut dulu dihuni oleh bangsawan belanda yang baik hati. Dan keluarga tersebut mempunyai pembantu yang bernama Marsinah.

Sebenarnya marsinah adalah pembantu yang baik dan penurut namun kehidupannya berubah, setelah dia jatuh cinta kepada pemuda yang tidak bertanggung jawab. Marsinah sering kabur dari rumah majikannya setiap malam hari. Akan tetapi nasib sial menimpanya, pemuda yang katanya mencintainya ternyata menghamilinya dan kabur ke kota. Bangsawan belanda itu murka dan akhirnya melarang marsinah dan siapapun yang tinggal dirumah itu.

loading...

Tidak boleh keluar atau pulang pada larut malam, ternyata peraturan di kost putri itu bukan sembarang peraturan. Sehingga saat itulah, aku tidak berani lagi pulang malam. Terkadang jika sudah larut, aku membawa teman untuk menginap saja dan mengerjakan tugas di kostan ku. Sampai sekarang aku masih sering melihat marsinah tengah duduk didapur sambil bersenandung tembang jawa itu dan aku sudah biasa.

Share This: