Hantu Petani di Lumbung Padi

Hai sobat KCH, sebelum saya cerita. Saya ingin berterima kasih ke sezgina fradah yang rajin post cerita dan ceritanya bagus. Ok kembali ke cerita saya, cerita ini saya dapat dari kakak saya yaitu kak endang, untuk mempermudah cerita, saya akan memposisikan menjadi kak endang dan begini ceritanya.

Tahun 1995, merupakan debut (pertama kali) aku menjadi pemborong proyek. Setelah sekian lama menjadi asisten bapak yang telah dulu menjadi pemborong sebelum aku. Saat itu, aku dapat proyek di daerah Bantarujeg. Aku dapat proyek mengerjakan jalan desa bersama asistenku bernama munari. Proyek jalan yang membentang pesawahan itu alhamdulillah berjalan sesuai rencana yaitu 40 hari dan di hari terakhir itu juga, kami (aku dan munari) mendapatkan pengalaman mistis yang tidak akan kami lupakan.

Hari terakhir itu, adalah waktunya aku dan munari beres-beres semua peralatan proyek untuk di angkut truk besok paginya. Tak terasa ternyata kami menghabiskan waktu 4 jam untuk mengumpulkan semua peralatan proyek.

loading...

“Gimana munari? Sudah selesai semua?” tanyaku.
“Sudah pak”, jawab munari.

Aku melihat jam tanganku menunjukkan pukul 9 malam. Aku berfikir, ibuku pasti mencemaskanku. Tapi apa daya, saat itu belum ada ponsel untuk komunikasi. Aku kemudian menghidupkan motor binter kesayanganku dan kemudian mengajak munari untuk pulang. Kami memacu di jalan yang baru di aspal oleh kami melewati pematang sawah yang gelap dan hanya di temani cahaya bulan purnama dan lampu dari motor kami. Tiba-tiba di tengah perjalanan, motor kami mati mesin.

“Lho kenapa pak?” tanya munari.
“Gak tahu nih tiba-tiba mati”, jawabku.

Kami semua turun untuk mengecek keadaan motor. Aku pikir bensin habis, tapi setelah di cek menggunakan lampu dari korek api gas ku, ternyata bensin masih penuh. Aku coba cek bagian mesin, karena penerangan minim aku melihat ke area sawah mana tahu ada orang yang bisa meminjamkan senter supaya dengan mudah memperbaiki mesin motor.

Samar-samar dengan bantuan sinar bulan aku melihat seseorang duduk menggunakan topi caping (topi dari bahan rajutan yang biasa di pakai petani) di lumbung padi (tempat penyimpanan padi) di tengah-tengah pesawahan. Sebagai info, jarak motor kami dengan lumbung padi itu kira-kira 100 meter. Aku kemudian menyuruh munari untuk meminjam senter ke petani yang duduk itu.

Tadinya munari takut tapi aku bilang, jika kita gak bisa benarin ini motor maka tidak bisa pulang. Dengan menarik nafas panjang, akhirnyaakhirnya munari mau mendatangi orang yang sedang duduk itu. Sementara aku coba untuk utak-atik mesin dengan penerangan seadanya. Tak berselang lama, munari pun kembali.

“Gimana munari? Orang itu punya senter?” tanyaku.
“Boro-boro di pinjamin senter pak, di jawab pun tidak! Saya sampai bilang sombong ke dia!”, gumam munari.
“Ya sudahlah, aku coba utak-atik lagi mudah-mudahan jalan nih motor”, jawabku.

Aku coba terus konsentrasi ke motor, sedangkan munari terus melihat ke arah orang yang duduk tadi sambil mendumel gak jelas. Tiba-tiba “pak, pak, pak cepat, pak cepat!” dengan panik munari menarik-narik bajuku

“Ada apa sih munari!” bentakku.
“Lihat pak! Lihat! Orang itu bangun sambil mengacungkan arit ke kita” munari semakin panik.

Dan ternyata benar, orang itu bangkit dan berjalan mendekati kami. Aku coba hidupakan mesin dalam keadaan panik sambil bilang “ayolah hidup, motor!”. Munari masih saja menarik bajuku. “Pak cepat! Orang itu semakin dekat” munari semakin panik dan benar saja, sekarang semakin dekat dan terlihat jelas wujud aslinya. Mata merah menyala, badan hitam, menggunakan topi caping dan mengacungkan arit.

Melihat sosok seperti itu, aku pastikan itu bukan orang! Seiring dengan mendekatnya makhluk itu, alhamdulillah motor kami hidup. Tanpa basa basi kami melompat ke atas motor dan mengebut. Munari menyembunyikan wajahnya di belakang bajuku, cengkramannya kuat di pinggangku dan sesekali dia menoleh ke belakang. Alhamdulillah makhluk itu tidak mengejar kami. Kemudian kami tiba di sebuah warung kopi dan pedagang di warung kopi tersebut menanyakan kenapa wajah kami pucat?

Lalu aku menceritakan semuanya dan menurut pedagang warung kopi tersebut, dulu ada seorang petani yang berteduh di lumbung padi itu kemudian dia tersambar petir dan tewas seketika. Ketika sudah tenang, kami pun pergi dari warung kopi tersebut dan sampai di rumah pukul 12 malam. Benar saja, ibuku belum bisa tidur jika anaknya belum pulang ke rumah. Setelah aku membersihkan diri, kemudian aku menceritakan ke ibu apa yang aku alami.

Demikianlah cerita yang saya dengar dari kak endang dengan tidak ada yang di tambah-tambahkan. Bagi yang mau berteman, silahkan add facebook. Sementara waktu hanya punya FB saja *hehe karena BBM, whatsapp, instagram, dan lain-lain belum support ponselnya. Sekian.
Fb: Miftah Rizqi Maulana

KCH

Miftah Rizqi

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Miftah Rizqi has write 2,694 posts