Hantu Pojok Rumahku

Namaku Riani, aku umur 15 tahun. Aku sudah berusaha menceritakan kejadian ini ke teman-temanku. Tapi tidak ada satupun temanku yang peduli tentang cerita ini. Pada hari kamis 22 september 2016, orang tua ku pergi keluar kota untuk bekerja selama 1 bulan. Sudah banyak kejadian aneh di rumah ini, pembantuku yaitu Bibi Sarah tidak bekerja di rumahku lagi. Karna ia sangat ketakutan setelah melihat kejadian ini.

“Nona Riani, makan dulu ya. Bibi mau ke laundry dulu . Bibi tak sanggup menyuci sebagian pakaian ini” kata bibi sarah yang akan beranjak pergi ke laundry. “Iya bi, nanti Ria makan yah” setelah aku mengatakan itu, aku lalu pergi ke sebuah meja makan yang ada di dapur. Ada 6 kursi disitu. Tentu saja aku makan sendiri dan di rumah sendiri sejak bibi pergi ke laundry tadi.

“Enak sekali ya masakan bi sarah” kataku menikmati makanan bi sarah. Tiba-tiba, set! Aku merasa ada yang lewat di belakangku. Padahal tak ada satupun orang dirumah ku ini selain aku. Tiba-tiba ada sesuatu yang bilang “itu makananku!”. Aku langsung terkejut mendengar teriakan itu, aku langsung menelusuri di setiap sudut rumahku. Ternyata di pojokan rumahku, ada sesuatu.

loading...

Berambut panjang, mata yang satu bolong dan banyak darah berceceran di baju putihnya yang panjang itu. Tentu saja aku shock dan hanya bisa berkata “Si.. Siapa kamu?” badanku kaku tak bisa bergerak. “diam kau! Kau tahu? Aku sangat tidak suka anak seperti dirimu! Anak seperti kau seharusnya sudah di neraka. Dan sekarang juga, aku yang akan mematikan mu dan menaruhmu di neraka!”.

Dia menarik ku sampai aku jatuh terduduk. Kali ini aku melihat dia memegang pisau yang sangat tajam. Dia menusuk perutku. Aku menjerit kesakitan. Perutku lalu bolong dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Krieet! Suara pintu terbuka. Waktu yang sangat tepat, bibi mendengar teriakanku yang sangat kencang di pojokan rumahku. Hantu itu langsung pergi entah kemana. Bibi melihatku sedang pingsan karna kejadian tadi. Bibi juga melihat perutku sudah bolong tertancap pisau. Bibi langsung menelpon ambulans dan ketakutan dengan kondisiku yang parah ini.

Share This: