Hantu Ponggo

Cerita tentang bertemu dan melihat hantu ponggo ini terjadi di daerah saya, dan bukan sekedar mengada-mengada. Nama saya Zaki, saya adalah anak keturunan asli Sulawesi. Lebih tepatnya di Gorontalo, sebuah provinsi termuda di Indonesia, sebuah daerah yang wilayahnya 1/4 dari luas pulau sulawesi. Mungkin teman-teman semua belum terlalu mengenal betul daerah saya, untuk itu saya memberikan sedikit gambaran mengenai tanah kelahiran saya ini.

Seperti halnya daerah-daerah lain pada umumnya, Gorontalo juga memiliki cerita mitos tersendiri, diantaranya tentang sosok makhluk yang sangat melegenda di Gorontalo yang masyarakat sekitar selalu menyebutnya dengan nama “Ponggo”. Sosok ini hampir mirip dengan sosok Kunyang di Kalimantan atau Palasik di Sumbar. Hanya saja perbedaannya terletak pada mangsanya, ponggo hanya dimiliki oleh kaum wanita saja. Jika Kunyang hanya mengganggu Wanita hamil, lain halnya dengan Ponggo. Makhluk ini senantiasa menganggu siapa saja.

Pada umumnya Ponggo bukanlah penganut ilmu hitam, melainkan perbuahan wujud dari seorang perempuan tua menjadi makhluk berlidah panjang, berambut panjang hingga matakaki, dan tubuhnya tidak mengenakan kain sehelai pun. Makhluk ini selalu berkeliaran sambil terbang pada saat hari menjelang petang hingga larut malam untuk memburu organ tubuh manusia yakni usus. Hal ini disebabkan karena kepercayaan masyarakat Gorontalo dari zaman ke zaman yang melarang setiap orang untuk tidur di senja hari, pada waktu pergantian siang dan malam.

Ponggo bisa dikatakan adalah sebagian ruh manusia yang dipakai jin jahat untuk memangsa setiap orang yang oleh pemilik ruh tersebut saat pemiliknya (perempuan) itu sedang dialam bawah sadarnya atau tidur. Oleh karena itu wajah ponggo ini mirip dengan pemiliknya. Ciri-ciri perempuan yang memelihara Ponggo yaitu keadaan emosinya cepat meningkat. Wanita tersebut bisa cepat emosi, dan dia sering menggunakan alat vital sapi sebagai lauknya sehari-hari.

Kita bisa mengetahui kemunculan makhluk ini dengan suaranya yang mirip burung gagak. Jika suaranya terdengar kencang berarti dia jauh, dan bila suaranya pelan atau sangat kecil berarti dia di sekitar kita. Makhluk ini takut dengan Lidi. Untuk itu jika kita bertemu dengan sosok ini, maka pukul lidi itu ketanah 3 kali dan dia akan jatuh. Kemudian makhluk tersebut harus diantar ke pemiliknya.

Dengan Adanya mitos ini, dari dulu di daerah kami sering sekali para orang tua melarang putri mereka agar tidak tidur pada saat matahari terbenam. Kata mereka “Dila potuluhu lolango no’u, momiyahe ponggo yio” artinya “Jangan tidur sore-sore nak, nanti kamu bisa memelihara ponggo”. Dan iya, itu terbukti.

Pertengahan tahun 1999 (saya lupa bulannya) di desa saya, heboh dengan meninggalnya tukang jahit secara tidak wajar. Jenazahnya diketemukan dengan kondisi berlubang dibagian pantatnya sebesar kepalan tangan orang. Almarhum sempat di otopsi, dan hasilnya jenazah dinyatakan telah kehilangan salah satu organ yaitu usus (kasus ini sempat dimuat di surat kabar “Gorontalo Post” edisi 1999). Korban bernama Husin, Seorang duda yang berprofesi sebagai tukang jahit, sampai saat ini kasusnya belum menemukan titik terang.

Pihak Kepolisian dan keluarga kewalahan menangani kasus ini. Polisi kemudian terpaksa harus menyimpulkan bahwa ini adalah kasus dengan modus pembunuhan. Namun hingga saat ini kasusnya masih ngambang, bahkan sampai detik ini kabarnya sudah tidak terdengar lagi, semuanya nihil. Masih tersirat tanda tanya besar dalam benak masyarakat sekitar. Jika benar ini pembunuhan, siapa pelakunya? tidak ada satupun saksi-saksi dan bukti-bukti yang menguatkan.

Akhirnya masyarakat mengaitkannya dengan cerita kemunculan Makhluk Ponggo di atas genteng rumah pak Husin 2 malam sebelum almarhum meninggal. Dan pada saat itu om Saya yang bernama Om Muhlis sendiri yang melihatnya kemunculan sosok makhluk tersebut. Waktu itu kalau tidak salah sudah larut malam, kompleks rumah Husin sudah sepi, jalannya bisa di bilang masih jalan setapak. Itupun hanya 4 rumah yang ada di kompleks itu termasuk rumah si Husin, sisanya kebun jagung dan pohon bambu. Om Muhlis yang kebetulan tukang bentor (jenis kendaraan roda tiga khas Gorontalo) habis mengantarkan penumpang.

Lalu lewat di depan rumah si Husin, dia sempat melihat lampu kamar si Husin masih menyala. Dalam pikirannya, mungkin si Husin lagi menyelesaikan jahitan pesanan pelanggan. Namun saat dia mulai memasukkan bentornya ke dalam garasi yang letaknya bersebelahan dengan kamar Husin yang hanya dipisahkan tembok setinggi bahu, dia terkejut dengan bunyi gemuruh di atap rumah husin. Dipikirnya lagi mungkin burung merpati peliharaan si Husin.

Om Muhlis kembali meneruskan mengunci pintu garasi. Saat dia mulai mengunci garasinya, tiba-tiba dia menangkap suara aneh mirip seperti suara gagak, perasaannya mulai tidak enak. Apalagi saat itu lagi gempar-gemparnya cerita tentang seorang nenek di kompleks itu yang memelihara Ponggo. Dalam benaknya dia bertanya, “si Husin kan cuma punya merpati, kok suaranya mirip gagak”.

Makin di dengar suara itu makin pelan dan Om Muhlis mulai penasaran, akhirnya dia memutuskan untuk memanjat tembok yang memisahkan kamar Husin dan garasi bentornya. Dia mengamati sekeliling keadaan pekarangan hingga jendela kamar Husin. Lampu kamar yang tadinya menyala sekarang sudah padam, pikirnya mungkin Husin sudah selesai menjahit. Suara gagak yang didengar Om Muhlispun kini terdengar samar-samar, Om Muhlis pun agak lega, hingga matanya secara tidak sengaja tertuju di atap rumah Husin.

Alangkah terkejutnya Om Muhlis ketika saat itu dia sadar bahwa sosok makhluk berambut panjang, tanpa busana, dengan lidah menjulur panjang keluar, sedang mengamati dia dengan bola mata sebesar pingpong. Makhluk itu bertengger di sela-sela atap rumah dengan tiang antena rumah si Husin, dengan posisi jongkok (Posisi katak).

Om Muhlis pun terdiam kaku dicekam ketakutan yang sangat besar. Ayat kursi, al-ikhlas, adalah ucapan pertama yang spontan keluar dari bibirnya. Dia tidak dapat bergerak seketika. Hampir sekian detik dia bertatapan dengan makhluk jadi-jadian tersebut, sampai ketika dia sadar kalau makhluk itu sudah hilang dengan meninggalkan teriakan yang kencang.

Om Muhlis dengan segera melompat dari tembok, dan berlari cepat menuju rumahnya. Dia tak sadar kalau kunci garasinya belum dicabut dari grendel pintu garasi. Om Muhlis sudah tidak peduli, dia ketakutan. Dua hari setelah kejadian itu Om Muhlis belum cerita apa-apa kepada istrinya tentang apa yang dilihatnya malam itu. Hingga saat 3 hari setelah kematian Husin kemudian dia menceritakan kepada masyarakat (Cerita ini saya dengar dari om Muhlis langsung).

Mendengar kejadian itu awalnya saya tidak begitu percaya, hingga pengalaman saya dua tahun yang lalu membuktikannya. Pada bulan Oktober tahun 2009, warga di kampung sebelah kembali di gegerkan dengan kabar mengerikan, yakni seorang ibu yang berprofesi sebagai tukang pijat diduga warga adalah makhluk jadi-jadian atau Ponggo.

Saat itu saya masih duduk dibangku kuliah, semester 2 jurusan akuntansi dan bertepatan dengan minggu-minggu menjelang UAS. Dari kecil saya sudah tinggal bersama tante saya. Rumah kami terletak 100 meter dari jalan raya, melewati gang selebar 3 meter. Malam itu adalah malam Rabu, saya ada jadwal semester untuk Mata Kuliah Pengantar Bisnis. Jam sudah Menunjukkan pukul setengah 10 malam, saya melihat belum ada satupun teman-teman yang maju untuk mengantarkan hasil ujian mereka ke depan kelas.

Padahal saya sudah selesai mengisi seluruh soal-soal, baik soal-soal transaksi maupun soal-soal pilihan ganda. Saya melihat baterai di Nokia Xpress Music sayapun sudah menipis. Akhirnya setelah cukup lama menunggu, saya memberanikan diri melangkah ke meja dosen yang sedang sibuk menggaris daftar nilai mahasiswa.

Perlahan-lahan saya meletakkan lembar jawaban di atas meja, dan kembali ketempat duduk saya untuk mengambil tas dan perlengkapan ujian saya. Saya langsung pamit kepada dosen untuk pulang dan meninggalkan teman-teman yang masih sibuk dengan alat hitung mereka. Saya menuju bangsal kampus, menyalakan motor, dan bergegas meninggalkan kampus.

Saat perjalanan pulang, perasaan saya mulai tidak enak. Entah kenapa malam itu jalan yang biasa saya lalui, terasa sepi terutama jalan yang terdapat pohon beringin tua disamping bangunan bekas pabrik meubel. Saya pun teringat dengan desas desus yang menjadi pembicaraan warga saat itu. Mendekati pohon itu, dahi saya pun mulai mengeluarkan keringat, bulu kuduk saya merinding.

Saya berusaha menaikkan kecepatan motor saya. Tiba-tiba ketika tepat bersebelahan dengan pohon tersebut, saya berteriak “Allahu Akbar” lampu depan saya dengan tidak sengaja menyoroti benda aneh. Benda tersebut seperti rambut seorang wanita, dan iya itu memang ujung rambut yang berasal dari atas pohon beringin tersebut. Badan saya gemetaran, saya merasakan ujung kepala saya tersapu oleh rambut tersebut ketika melewatinya.

Saat itu pula dahan pohon tersebut bergoyang dengan kencang. Saya pun agak sedikit lega ketika beberapa meter meninggalkan pohon itu, namun kejadian itu tidak berakhir sampai disitu. Motor saya mogok dengan tiba-tiba, saya berusaha menyalakannya dengan menggunakan stater tangan, karena menurut saya itu merupakan cara paling simpel saat itu. Saya tidak bisa menggunakan stater kaki, tenaga saya sudah habis terkuras oleh rasa takut.

loading...

Saya sudah tidak peduli dengan keadaan sekitar, sehingga saya tidak sadar jika di depan saya telah berdiri sosok Ponggo berjalan mendekati saya secara perlahan. Makhluk itu berjalan dengan lunglai ke arah saya dengan tatapan tajam, lidah panjangnya yang menggelantung dibawah bibirnya. Rambut panjangnya pun terlihat menyentuh tanah. Saya kembali di cekam ketakutan begitu besar. Saya berusaha membaca ayat-ayat pendek, dan berusaha agar untuk tidak pingsan ditempat.

Kurang lebih 10 menit saya berusaha menyalakannya dan akhirnya berhasil. Saya pun melewatinya dengan laju meninggalkan makhluk itu. Sesampai dirumah saya sudah tidak bertenaga. Ibu saya ketakutan melihat keadaan saya. Tetangga pun mulai berdatangan menanyakan apa yang terjadi. Saya lalu cerita kejadian tadi yang saya alami. Esoknya saya demam, 3 hari absen kuliah dan ketika sedang demam saya sering mengigau dan mimpi buruk tentang kejadian malam itu. Teman-teman pembaca cerita-hantu.com sekian dulu cerita tentang pengalaman saya ini. Semoga kalian semua bisa mengerti dengan kalimat-kalimat yang saya sajikan. Maklum saya hanya manusia biasa, tentu banyak kekurangan.

Share This: