Hantu Wanita Salju (Yuki-Onna)

Yuki-onna atau wanita salju adalah sebuah legenda cerita hantu klasik dari jepang tentang seorang pemuda yang bertemu dengan seorang wanita misterius disaat salju turun dengan lebat. Dia ternyata adalah roh jahat yang setuju untuk menyelamatkan nyawanya dengan satu permintaan. Konon orang-orang jepang mengenal kisah ini dengan nama hantu salju atau penyihir salju.

Di sebuah kota kecil di jepang, tinggal dua pemburu bernama Shenlong dan Michi. Shenlong adalah orang tua dan Michi, anaknya. Setiap hari, mereka pergi bersama kedalam hutan dan berburu kelinci dan hewan lain yang akan mereka bawa pulang dan masak untuk makan malam. Suatu malam yang dingin dimusim dingin, Shenlong dan Michi dalam perjalanan pulang, namun mereka terjebak dalam badai salju yang lebat.

Mereka tidak dapat menemukan jalan keluar dari hutan dan menjadi sangat khawatir bahwa mereka akan membeku sampai mati. Untungnya, mereka menemukan sebuah pondok kosong di padang gurun tempat mereka bisa berlindung dimalam hari dan menunggu badai salju berlalu. Itu adalah sebuah gubuk kecil dan tidak ada perapian atau cara apapun untuk membuat sebuah api. Shenlong dan Michi menutup pintu, dan segera berbaring untuk beristirahat, badan mereka menggigil meskipun telah memakai mantel.

Sang ayah langsung tertidur nyenyak namun anak laki-laki itu, Michi, belum juga bisa tertidur, dia hanya mendengarkan angin yang menerpa papan yang sudah tua dan kendur, sesaat terpaan salju berdetak kencang dipintu. Badai tidak mereda dan udara malah bertambah dingin, namun setelah bersusah payah akhirnya Michi tertidur juga. Entah telah berapa lama Michi tertidur, tiba-tiba dia terbangun karena merasakan butiran-butiran salju yang lembut diwajahnya. Ternyata pintu pondok yang mereka diami telah terbuka dengan paksa.

Dia melihat sosok misterius berdiri dibawah sinar rembulan. Ternyata seorang wanita yang memakai pakaian serba putih seperti salju dan sedang membungkuk diatas ayahnya. Dia tengah meniupkan nafasnya yang dingin menyerupai asap putih kepada ayahnya. Michi benar-benar terkejut dan ketakutan, dia ingin menjerit namun tak ada sebuah suara pun yang keluar dari mulutnya. Saat itulah sang wanita misterius itu beradu pandang dengannya, dia mendekatkan wajahnya pada Michi.

loading...

Dalam ketakutan yang amat sangat, Michi merasakan bahwa wanita yang berada dihadapannya adalah seorang wanita yang amat cantik, namun matanya yang berwarna kuning membuat tubuhnya gemetar dalam ketakutan. Wanita itu terus menatap Michi dan tiba-tiba tersenyum dan berkata, “aku ingin memperlakukanmu sama seperti orang lain, tapi aku kasihan padamu. Kamu, masih muda, begitu tampan, Michi. Aku tidak akan menyakitimu tapi jika kau memberitahu siapapun termasuk ibumu tentang apa yang terjadi malam ini, maka aku akan membunuhmu! Ingat apa yang telah kukatakan ini”.

Seusai hantu wanita salju itu berkata, dia meninggalkan Michi sendirian. Mengira bahwa itu hanyalah mimpi, Michi segera bangun dan melihat keluar namun dia tidak melihat siapapun atau apapun. Sambil menutup pintu dia bertanya-tanya apakah bukan angin yang membuka pintu pondok tadi. Ia memanggil ayahnya namun tidak ada jawaban. Michi mengulurkan tangan untuk menyentuh ayahnya dan tanpa sengaja dia menyentuh wajah ayahnya, dan ternyata wajahnya telah membeku. Ayahnya telah meninggal.

Ketika fajar tiba, badai pun berakhir lalu Michi membawa ayahnya yang telah meninggal kembali ke kota dan segera menguburnya. Setelah sembuh, Michi tidak dapat langsung melupakan kejadian yang telah dia alami. Dia dihantui oleh kematian ayahnya. Lama berselang, Michi baru berani kembali pada pekerjaan sehari-harinya untuk pergi ke hutan, memburu binatang juga menebang kayu, membelahnya menjadi potongan-potongan kecil, lalu menjual kayu tersebut ke pasar dengan bantuan ibunya.

Pada musim dingin tahun berikutnya, Michi sedang berada dalam perjalanan pulang melalui jalan setapak ditengah hutan, saat dia berpapasan dengan seorang wanita yang amat cantik, berkulit putih indah, yang hendak melalui jalan yang sama. Michi pun menyapa wanita itu dan tanpa disangka wanita itu menjawab dengan suara yang menurut Michi adalah suara yang paling merdu didengarnya.

Mereka pun mulai berjalan bersama dan bercakap-cakap. Si wanita menceritakan bahwa dia bernama O-Yuki, ia telah kehilangan kedua orang tuanya, dan untuk menyambung hidupnya dia akan pergi ke Yedo (Edo atau Tokyo) untuk mencari kerabatnya agar dapat membantu mencarikannya pekerjaan sebagai pelayan.

Entah apa yang dirasakan Michi, namun rasanya wanita itu nampaknya makin cantik dimatanya. Michi pun mulai merasa suka pada wanita itu, sehingga dia memberanikan diri untuk bertanya apakah wanita itu sudah memiliki pasangan. Wanita itu tertawa sambil mengatakan bahwa dia belum memiliki pasangan atau kekasih. Dia pun balik bertanya apakah Michi telah memiliki pasangan, dan Michi menjawab bahwa dia pun belum memilikinya. Setelah pernyataan ini maka keduanya ini tidak berbicara lagi sampai mereka tiba disebuah desa tempat tinggal Michi.

Namun dalam hati masing-masing telah tumbuh rasa saling menyukai. Maka Michi mengundang O-Yuki untuk singgah dan beristirahat dirumahnya. O-Yuki ternyata bukan hanya wanita cantik, namun juga berkelakuan baik. Ibu Michi pun tak butuh waktu lama untuk menyukainya. Sampai dia membujuk agar O-Yuki mau menunda perjalanannya ke Yedo. Pada akhirnya O-Yuki tidak pernah melanjutkan perjalanannya ke Yedo, melainkan menetap didesa itu dan tinggal bersama Michi dan ibunya, sebagai istri dan menantu.

Lima tahun kemudian ibu Michi meninggal, O-Yuki tetap bersama-sama Michi, bahkan dia telah melahirkan 10 orang anak lelaki dan perempuan bagi Michi. Semuanya tampan dan cantik, serta memiliki kulit putih seindah ibunya. Banyak penduduk desa yang mengagumi O-Yuki. Kebanyakan petani tampak tua setelah melahirkan anak, namun O-Yuki yang telah menjadi ibu 10 anak tetap terlihat cantik. Secantik saat pertama kedatangannya didesa, mereka.

Suatu malam setelah anak-anak tidur, O-Yuki menjahit dibantu dengan sebuah cahaya dari lampu kertas. Michi yang sedang menatapnya, tiba-tiba berkata, “melihat kau menjahit dengan pantulan cahaya diwajahmu, aku teringat suatu hal aneh yang terjadi saat aku masih berusia 18 tahun. Kala itu aku melihat seorang wanita yang secantik dan seputih dirimu dan dia memang mirip denganmu”.

Tanpa menghentikan pekerjaannya, O-Yuki bertanya, “ceritakanlah padaku, dimana kau bertemu dengannya?” lalu Michi mulai bercerita tentang ayahnya dan pengalamannya dipondok tua itu. “Entah itu sebuah mimpi atau bukan, tapi saat-saat itulah aku pernah melihat orang secantik engkau. Tentu saja dia pasti bukan manusia dan aku sangat takut padanya. Hingga sekarang pun aku tidak yakin apakah yang aku lihat itu mimpi atau memang benar-benar seorang wanita salju”.

O-Yuki langsung melemparkan jahitannya. Dia mendekati suaminya dan berseru, “itu adalah aku! Bukankah aku telah mengatakan bahwa aku akan membunuhmu jika cerita itu pernah keluar dari mulutmu. Sekarang, demi anak-anak kita” O-Yuki tetap berteriak namun suaranya menjadi penuh kesedihan, “jagalah anak-anak kita, karena jika kamu tidak melakukannya, maka aku akan melakukan hal yang pernah aku katakan padamu”.

Michi tidak sempat berkata apa-apa. O-Yuki mulai tidak terlihat dan kemudian menguap menjadi butir-butir salju yang halus, yang menghilang melalui cerobong asap. Sejak saat itu, wanita salju tersebut tidak pernah terlihat lagi. Dan konon beberapa orang pernah melihat hantu wanita salju ini ketika badai salju turun dengan sangat lebat.

Arie R

Arie R

Suka berbagi cerita dan senang membaca website seperti KCH!

All post by:

Arie R has write 80 posts

Please vote Hantu Wanita Salju (Yuki-Onna)
Hantu Wanita Salju (Yuki-Onna)
Rate this post