Hari ke 7

Hari ke tujuh atau 7 hari setelah manusia meninggalkan dunianya sehari-hari merupakan hari-hari yang sangat sakral dan penuh dengan ritual-ritual untuk mendoakan yang dilakukan oleh keluarga yang ditinggalkan kepada orang yang sudah meninggal. Di beberapa negara, budaya, dan kepercayaan hal ini masih dijalankan dan dipercayai, kebanyakan merupakan tradisi dari negara-negara di asia.

Orang-orang China bahkan percaya bahwa orang yang telah meninggal, rohnya masih berkeliaran di dunia ini selama 7 hari sejak kematiannya. Dalam 7 hari itu sebelum menuju ke alamnya, roh itu akan mengunjungi tiap orang yang dicintainya untuk terakhir kali. Dan selama hari itu, keluarga yang ditinggalkan sering menyiapkan jamuan khusus seperti makanan kesukaannya, menata perlengkapan dan peralatan dengan rapi di rumah, dan berbagai ritual lainnya.

Mereka juga harus tidur lebih awal agar tidak mengganggu kedatangan roh itu ke rumahnya pada waktu itu, karena dikhawatirkan keluarga yang masih hidup akan menabrak roh tersebut atau bahkan membuatnya takut. Berikut cerita pengalaman dari beberapa kesaksian tentang kepercayaan tersebut.

“Ketika itu saya terlambat naik untuk masuk ke kamarku. Menurut kepercayaan dan tradisi, kami seharusnya sudah tidur lebih awal agar roh ayah mertua kami bisa kembali dan mengunjungi kami untuk terakhir kalinya. Suamiku sudah tidur duluan ketika saya baru hendak masuk ke kamar untuk tidur. Baru saja meraih gagang pintu untuk membuka kamarku, saya dikejutkan oleh suara seperti seseorang sedang mengetuk pintu depan di rumah kami.

Saya lalu merasa agak ketakutan, apalagi karena semua orang di rumah sudah tidur setidaknya berpura-pura tidur. Atau mungkin saya salah mendengarnya karena begitu lelah dengan perihal pekerjaan rumah tangga dan juga menyiapkan makanan yang cukup banyak seharian ini. Ketukan itu datang lagi, kali ini saya yakin mendengarnya dengan jelas. Saya berjalan menuruni anak tangga yang ujungnya menuju ke ruang tamu, saat itu juga saya menemukan pembantu rumah kami ternyata keluar dari kamarnya dilantai bawah, mungkin karena mendengar ketukan itu juga.

Perasaan saya seolah terbiasa mendengar keributan seperti ini. Sungguh mengingatkanku kepada ayah mertuaku, yang selalu melakukan hal ini ketika dia lupa membawa kunci rumah. Tapi siapa lagi yang mengetuk pintu selarut ini? Pembantuku lari menuju ke pintu itu dan segera membukanya, sementara saya masih berdiam di tengah tangga. Namun saya bisa dengan jelas langsung melihat keluar bahwa tak ada seorang pun disana, setelah pintu itu dibuka.

Dengan cepat pembantu kami menutup pintu depan dan menguncinya lagi. Dia dan saya akhirnya kembali ke kamar tidur masing-masing dan tidak saling mengucapkan apa-apa. Esoknya kami semua tetap menyimpan cerita ini, hanya merasa kepercayaan dan tradisi hari ke 7 itu mungkin benar adanya”.

“Mereka selalu bilang bahwa anak kecil bisa melihat sesuatu yang orang dewasa tidak bisa, tapi karena mereka masih terlalu kecil untuk berbicara mereka kadang sulit menggambarkannya pada kita apa yang mereka lihat. Sesuatu yang seperti ini pernah terjadi ketika hari ke 7 sejak kematian ibuku. Ketika itu sudah malam jadi kami semua -saudara dan saudariku, termasuk keluargaku bersiap-siap untuk tidur. Setelah beberapa saat, kami semua tampak sudah terlelap.

Anak ku yang berusia 9 bulan tiba-tiba mulai menangis pada tengah malam, istriku dan saya terbangun untuk melihat ke kamar putriku dan menemukannya sudah terduduk menangis dan terus menangis. Kami berdua bertanya apa yang mengganggunya, tapi dia tetap saja menangis. Saya menggendongnya segera, berusaha menenangkannya tapi tak berhasil juga. Akhirnya istriku mendekat dan menanyakan lagi apa yang membuatnya menangis.

Putriku lalu menunjuk di salah satu sudut di kamar kami sambil tetap melanjutkan tangisnya. Kami berdua langsung melirik ke sudut itu, namun tidak ada apa-apa disana. Tapi anak ini terus saja menangis dan menunjuk-nunjuk ke arah sudut yang ada disana. Setelah beberapa saat ketika dia sudah lelah, kami merapikan kembali bantalnya dan menemaninya sampai tertidur. Tak lama, putri kami akhirnya tertidur kembali dengan tenang. Saya dan istri tidak tahu harus berkata apa tapi putriku jelas melihat “sesuatu” yang tidak bisa kami lihat. Mungkin dia melihat roh ibu, namun tak dapat mengenalinya”.

loading...

Share This: