Helaian Rambut Seorang Wanita Part 3 (End)

Assalamualaikum rakyat KCH. Weni nyembul lagi disini, ini lanjutan cerita dari “helaian rambut seorang wanita” dan “helaian rambut seorang wanita part 2“. Maaf ya atas keterlambatannya, maafin ya, maafin ya *hehe. Oke langsung saja ke Te-Ka-Pe.

Pandanganku semakin kabur, terakhir kulihat si pria pergi keluar meninggalkan kamarku. Sedangkan si perempuan entahlah, karena pandanganku menjadi gelap setelah itu. Sebuah cahaya terang membuatku silau dan mengedipkan mata berulang kali. Masih buram, lama-kelamaan semakin jelas. Aku berada disebuah ruangan berwarna putih dengan kelambu hijau tosca yang terbuka, membuat cahaya mentari menyeruak masuk menembus jendela ruangan tersebut.

loading...

Kulihat terpasang selang kecil panjang dilenganku dan seseorang yang tak asing lagi tengah duduk disampingku. “Kamu sudah bangun? Alhamdulillah” ucap pria tersebut sambil tersenyum, yang tak lain adalah pak bro si pemilik kost. Aku hanya diam karena aku masih bingung dengan apa yang telah terjadi. “Semalam kamu ditemukan anak-anak kamar kost lain pingsan dikamar mandi dalam keadaan kepalamu berdarah” jelas pak bro.

“Pingsan? Kepala berdarah?” tanyaku heran. “Iya, semalam mereka mendengar suara gaduh dari arah kamarmu, mereka berpikir terjadi perampokan, setelah mereka membuka pintu kamarmu, kamu sudah pingsan dikamar mandi” jawab pak bro. “Saya sudah menghubungi ibumu di Semarang, entah siang atau sore ini ibumu datang” lanjut pak bro. Aku masih bingung dengan semua ini.

Kenapa perempuan itu mengincarku dan seolah ingin menghabisiku? Ada apa sebenarnya dengan kamar kostku? Pukul 16.40 ibuku datang bersama pak de. Ibu langsung memelukku dengan erat dan menangisi keadaanku. “Ya Allah nak, kenapa bisa seperti ini?” sergah ibu sambil menangis tersedu-sedu. Pak bro menceritakan semuanya, dan pak de yang mendengar cerita pak bro hanya manggut-manggut seolah mengerti dengan apa yang terjadi.

Sesaat kemudian pak de mengajak pak bro untuk bicara empat mata diluar ruangan. Ibu terus mengelus kepalaku dan menggenggam tanganku. Beberapa saat kemudian pak de masuk bersama pak bro. “Nanti malam biar pak de ikut jagain kamu disini, sampai keadaanmu benar-benar pulih dan pulang dari rumah sakit pak de akan terus mendampingimu” kata pak de. Kurang lebih 5 hari kemudian aku diperbolehkan kembali kekost, tentunya bersama ibu dan pak de.

Sesampainya didepan kost, ibu membuka kunci pintu kamar kostku dan kami bertiga pun masuk. Namun baru beberapa langkah pak de berhenti. “Astaghfirullah, masya’allah!” seru pak de sambil mengelus dada. Terlihat pak de sempat memalingkan pandangan sambil memejamkan mata seolah dia sedang menyaksikan sesuatu yang mengerikan. “Kenapa to cak?” tanya ibu. “Aku mau menemui pemilik kost sebentar” jawab pak de. Ibu membaringkanku dikasur dan duduk disampingku.

“Lee kok lantai kamarmu banyak rambut berceceran? Memang selama kamu dirumah sakit ada yang tempatin ya?” tanya ibu. Pertanyaan ibu membuatku terkejut dan langsung beranjak duduk. Dan ya dilantai banyak sekali rambut, helaian rambut yang sama seperti waktu itu. “*Em anu bu itu mungkin rambutnya Diah anak pemilik kost, mungkin selama aku dirumah sakit dia yang menempati kamar ini biar tidak kosong” jawabku menutupi hal sebenarnya dari ibu.

Terdengar langkah kaki seseorang dari luar yang ternyata adalah pak de bersama pak bro. “Her mulai hari ini kamu pindah kamar kost saja, kebetulan masih ada satu yang kosong, jangan tanya kenapa, ini demi keselamatanmu, pak de sudah rundingan sama bapak pemilik kost” jelas pak de. Aku hanya mengangguk saja. Jam menunjukkan pukul 19.35 malam, aku sudah berada dikamar kost yang baru.

Sedangkan kamar yang lama dihuni pak de. “Yun (nama ibu) malam ini kamu jangan sampai tertidur, kamu harus baca shalawat, kalau ada yang ketuk pintu jangan dibuka sebelum subuh” terang pak de. Ibu mengiyakan. Waktu terus berjalan, jam menunjukkan pukul 22.10 malam. Ibu terus membaca shalawat disampingku, sedangkan aku tertidur pulas. Dalam mimpiku perempuan itu datang lagi, kali ini sambil menangis.

Terdengar suaranya dari arah luar kamar, aku melihat ibuku yang terus membaca shalawat, padahal aku ingat betul saat itu aku sedang tidur. Seolah nyawaku keluar dari tubuhku. Aku melangkah keluar, kulihat perempuan itu duduk diteras kostan membelakangiku. Suara tangisnya lirih menyayat hati. Aku beranikan diri bertanya padanya. “Siapa kamu sebenarnya? Dan kenapa kamu selalu menggangguku? Apa salahku?” tanyaku pada perempuan itu.

Dia berdiri dan berbalik arah, namun kali ini wajahnya tidak menyeramkan, justru terlihat cantik. “*Hhuhhu, kamu jahat, kenapa kamu membunuhku? Apa salah ku?” jawab perempuan itu. Aku terdiam dan heran, perempuan itu menunduk, suara tangisnya berubah menjadi tawa mengerikan. Saat dia menatapku, wajahnya berubah menyeramkan seperti waktu itu. Perlahan aku berjalan mundur, dia semakin mendekat.

Aku berusaha lari, namun seolah langkahku menjadi berat. Aku berteriak sekeras mungkin berharap seseorang bisa mendengar dan menolongku. Namun sia-sia, aku jatuh tersungkur. Perempuan itu menarik kakiku *argh aku berteriak dan berusaha melepaskan diri, namun sangat sulit, cengkeramannya sangat kuat. Dia menyeretku ketengah teras, aku semakin ketakutan. Saat itulah aku mendengar lantunan shalawat, ya aku mendengar suara lantunan shalawat ibuku.

Seolah tenagaku adalah tenaga super, aku menendangkan kakiku hingga cengkeraman hantu itu terlepas, aku berlari menuju kamar kost baruku. Aku bergegas masuk dan mengunci pintu, tiba-tiba aku seperti ditarik dari belakang dan aku jatuh diatas ranjang. “Nak bangun, ini ibu, kamu kenapa?” terdengar suara ibu memanggilku. Aku tersadar, keringat dingin mengucur ditubuhku, nafasku tak beraturan. “Kamu kenapa Her? Kamu mimpi buruk? Dari tadi kamu teriak-teriak” kata ibu.

Aku menceritakan semuanya, akhirnya ibu mengajak aku untuk shalawat bersama. Malam itu kami tidak tidur, jam menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar, kami tak menghiraukannya dan terus bershalawat. Lama-kelamaan ketukan itu semakin keras dan berubah menjadi suara menggedor-gedor. Kami tetap bershalawat. Hingga adzan subuh berkumandang suara itu hilang dan kami berhenti bershalawat. Ibu mengintip dari balik jendela, sepi dan hening.

Malam yang mencekam telah kami lalui. Keesokan paginya ibu, aku, pak de dan juga pak bro, kami berempat duduk diteras rumah pak bro. Dari situ lah aku baru tahu mengenai kamar kostku yang diteror oleh helaian rambut. Dahulu kamar tersebut dihuni oleh seorang pemuda rantauan, dikamar itu pula pemuda itu menghabisi nyawa seorang gadis yang baru beberapa minggu dia kenal.

Entah apa salah gadis itu hingga si pemuda menghabisi nyawanya. Setelah dilakukan penyidikan, polisi mengatakan bahwa pemuda itu adalah seorang psychopat. Arwah gadis itu gentayangan ingin menuntut balas atas kematiannya yang tidak wajar atas perintah orang tuanya. Semalam pak de menemukan sebuah bungkusan kain hitam dikamar kost lamaku yang diduga sebagai media untuk membangkitkan arwah gadis itu. Setiap orang (pria) yang menghuni kamar itu akan mendapatkan teror serupa, bahkan sebelum aku sudah ada beberapa korban, ada yang gila, bahkan sampai meninggal.

Namun pemilik kost tidak tahu cara menghentikan teror itu. Akhirnya pak de membakar bungkusan itu, agar teror arwah gadis itu tidak berkelanjutan. Dan pak de meminta untuk semua penghuni kost setiap seminggu sekali mengadakan pengajian rutin. Dan aku? Aku memutuskan untuk pindah kost ketempat lain yang lebih aman dan nyaman.

astri mustika weni

All post by:

astri mustika weni has write 25 posts