Helm Baru

Helm adalah salah satu perangkat paling penting dalam berkendara. Karena helm dapat melindungi kepala kita saat berkendara. Tapi bagaimana jika helm yang biasa kita gunakan justru membawa kita menuju masa lalu yang bisa di katakan cukup mengerikan? Kisah ini di alami oleh seorang pemuda sebut saja Tajudin. Berikut kisahnya. Namaku Muhammad Tajudin Al Asyam tapi orang di sekitarku sering memanggilku Tajudin.

Aku seorang karyawan pabrik plastik di salah satu kota di Jawa Timur. Kisah ini aku alami sudah sekitar 2 tahun lalu, namun jika teringat aku masih merinding. Bagaimana tidak, kisah ini berawal dari sebuah helm yang baru saja aku beli. Ya aku baru saja membeli helm baru karena helm lamaku sudah *em bisa di bilang usang dan jelek. Aku membeli helm baruku melalui situs online, dimana biasanya harga barang lebih murah dari pada di toko.

Sebenarnya helm ini di kategorikan dalam barang bekas, tapi tetap saja bagiku baru. Karena meskipun dalam kondisi bekas atau second hand tapi fisik barang ini masih layaknya barang baru. Seminggu setelah pemesanan, barang di antar langsung oleh sang penjual yang aku ketahui bernama Widodo. Setelah sampai di rumahku segera ku persilahkan masuk dan kami pun ngobrol ngalor-ngidul, tapi ada yang aneh.

Widodo terlihat lesu saat itu, tapi aku tidak berpikir macam-macam, mungkin dia lelah setelah mencari alamat rumahku yang cukup jauh dari rumahnya. Dia memang sengaja mengirim sendiri barang pesananku karena dia bilang sekaligus ingin bersilaturahmi. Setelah 1 jam Widodo pamit undur diri. Siang berganti malam, saatnya aku berangkat menuju tempat kerja karena memang hari itu aku kebagian shift malam.

Dengan bangganya aku kenakan helm baruku yang berwarna merah maroon itu menuju tempat kerja. 15 menit perjalanan tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit dan pusing. Aku mulai berpikir apakah aku sakit? Tapi 15 menit yang lalu aku baik-baik saja. Ku pacu kendaraanku dengan menahan rasa sakit di kepala ini. Sesampainya di pabrik segera ku lepas helmku, dan anehnya rasa sakit di kepalaku langsung hilang.

Aku berpikir mungkin efek belum terbiasa dengan helm baru. Setelah menyentuh finger print untuk mengisi daftar absensi aku segera masuk ke tempat kerjaku bergabung dengan teman yang lain. Malam itu awalnya berjalan seperti biasa, sampai akhirnya aku merasa ingin buang air kecil. Aku meminta salah satu rekanku untuk menggantikanku sementara aku ke toilet. Aku berlari kecil menuju toilet yang letaknya berada di belakang.

Setelah selesai aku segera kembali, namun langkahku terhenti saat mataku menangkap sosok pria di depan mushola. Letak toilet memang tidak jauh dari mushola. Sosok itu hanya berdiri menatapku. Di terangi cahaya remang-remang wajah pria itu terlihat kurang jelas, tetapi aku dapat melihat bahwa kepala pria itu berdarah hingga darah mengalir melewati alis dan matanya. Aku sadar bahwa itu bukan manusia, aku segera berlari meninggalkan sosok itu dan kembali bekerja seolah tak terjadi apapun.

Saat sedang melakukan pekerjaanku, aku mendengar seseorang memanggilku, namun saat aku menoleh ke kanan dan ke kiri semua rekanku sedang fokus pada pekerjaan mereka. Aku bertanya pada mereka apa salah satu dari mereka barusan memanggilku, tapi mereka bilang tidak sama sekali. Aku tahu mereka tidak berbohong karena jika mereka memang berbohong pasti mereka akan menjawab sambil tertawa, tapi kali ini ekspresi mereka tak menunjukan seperti itu.

Semenjak malam itu hari-hariku terasa aneh, aku merasa seperti di awasi, tapi entah oleh siapa, yang lebih aneh lagi sudah seminggu sejak aku membeli helm itu tetapi setiap aku memakainya kepalaku terasa sangat sakit seperti di pukul benda keras, tapi jika helm di lepas rasa sakit itu langsung hilang. Pada suatu hari saat siang hari yang terik, aku berkunjung ke rumah temanku dengan menggunakan motor dan helm kebanggaanku.

Dan lagi kepalaku terasa ingin pecah, sakit sekali. Ku paksakan untuk melanjutkan perjalanan dengan rasa sakit itu. Tiba-tiba aku merasakan benda cair mengalir di keningku dan melewati alis serta mataku. Awalnya ku kira air, namun setelah ku usap dengan tangan kiri aku sangat terkejut ketika melihat tanganku merah dan berbau amis. Aku menghentikan motorku dan segera melepas helmku khawatir terjadi sesuatu dengan kepalaku.

Namun saat tak sengaja ku lihat di kaca spion kulihat tak ada darah sedikit pun di kening atau wajahku, bahkan saat ku lihat tanganku bersih tak ada darah. Aku mulai merasa aneh, kepalaku semakin sakit namun saat aku berusaha melepas helmku, helm ini tak bisa di lepas, kepalaku kian sakit. Aku mulai panik, tak ada satu pun orang atau kendaraan lewat saat itu. Tiba-tiba kaca helmku tertutup dengan sendirinya dan tak bisa di buka lagi, aku semakin panik, dan tambah panik saat ku lihat di hadapanku sudah ada 3 motor dan 5 orang pria.

4 orang berboncengan dengan 2 motor dan yang 1 lain sendiri. Mereka berada sekitar 3 meter di hadapanku. Aneh aku tak melihat kapan mereka datang. Tiba-tiba ke-4 pria yang berboncengan itu menyerang seorang pria yang sendirian itu, aku terkejut melihat itu. Pria itu di keroyok 4 pria yang lain hingga jatuh tersungkur dan helmnya terlepas. Aku ingin mencoba menolong tapi rasa sakit di kepala ini sungguh menyiksa dan membuat sekujur tubuhku lemas.

Aku hanya bisa menyaksikan kejadian itu. Aku di buat semakin shock di kala salah satu dari keempat pria pengeroyok itu mengeluarkan sebilah samurai dari dalam tasnya dan membacok kepala pria yang hanya sendirian itu hingga pria itu tak berkutik, entah pingsan atau tewas aku tak tau. Dan ke-4 pria pengeroyok itu kabur dengan membawa motor pria yang mereka keroyok tadi. Ku rasakan sesuatu menggelinding mengenai kaki ku, dan ternyata sebuah helm berwarna merah maroon, dengan kaca yang retak.

Dengan sisa tenagaku, aku mencoba menghubungi teman yang akan ku kunjungi untuk segera datang ke tempat aku berada. Saat aku merasa sanggup untuk bangkit aku berinisiatif menolong pria tadi, namun aku di buat semakin heran saat aku tak menemukan siapapun di hadapanku. Sepi tak ada siapapun atau apapun, bahkan seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Samar-samar dari kejauhan aku melihat seorang pengendara motor dan ternyata itu temanku.

Setibanya dia di lokasi, dia segera bertanya apa yang telah terjadi, dan saat itu juga kaca helmku dapat di buka lagi. Belum sempat aku ceritakan semuanya, temanku bertanya lagi kenapa kaca helmku sampai retak, apakah aku mengalami kecelakaan. Aku di buat heran dengan pertanyaan itu. Dan *cklek kancing helmku yang sedari tadi sulit di buka dengan mudahnya aku buka kembali, dan benar saja kaca helmku retak. Seingatku kepalaku tidak membentur apapun saat memakai helm, dan helmku juga belum pernah jatuh sebelumnya.

Aku semakin tercengang saat aku mengamati bahwa helmku sama persis dengan helm yang tadi menggelinding di bawah kakiku. Dengan gemetar aku menceritakan semua yang terjadi padaku kepada temanku. Dia berusaha menenangkan aku. Kemudian dia mulai bercerita bahwa 2 bulan lalu di jalan ini terjadi pembegalan sadis yang menewaskan si korban. Kepala si korban begal di bacok hingga tewas di tempat.

Semua yang di ceritakan temanku sama persis dengan apa yang aku lihat tadi. Dan yang membuat aku semakin shock dan tercengang nama si korban adalah Widodo, di ketahui dari kartu identitas korban. Aku merasa bahwa darahku berhenti mengalir dan jantungku berhenti berdetak. Akhirnya hari itu aku batal berkunjung ke rumah temanku itu dan kembali pulang. Sesampainya di rumah aku langsung berbaring di kamar sampai tertidur pulas.

Dalam mimpiku aku bertemu Widodo yang tempo hari mengantar helm pesananku, namun kondisinya berubah 180 derajat. Wajahnya babak belur dan kepalanya berdarah sangat banyak. Dia berlari mengejarku hingga aku terjatuh dan terbangun dari tidurku saat adzan magrib berkumandang.

loading...

Keesokan harinya aku mencoba menelusuri kasus pembegalan itu melalui internet dan ternyata memang benar nama korban adalah Widodo, dan saat aku mencoba mencari akun Widodo hasilnya akun tidak di kenali alias nihil. Akhirnya aku memutuskan untuk menjual helm itu ke tukang loak dan teror itu pun berakhir.

loading...