Help Me Tuhan

Hai, lama nggak ngepost cerita di sini dan faktor penyebabnya adalah nggak ada spare time. Oke, to the point saja, sekarang aku akan menceritakan sebuah kisah yang menurutku justru lucu. Ya, kisah ini berawal dari berangkatnya diriku menuju sebuah tempat les-les an. Saat itu pukul 18.45 WIB dan aku berangkat seorang diri. Karena tempat les dekat dengan rumahku, jadi aku putuskan saja untuk mengendarai sepeda onthel. Pelan tetapi pasti ku kayuh sepedaku sembari melihat kanan kiri jalan yang gelap.

Lalu, tiba saatnya aku harus membelokan sepedaku. Saat aku belok, *Deg. Samar-samar kulihat ada seseorang yang sedang mengintipku dari balik tembok pagar milik warga di daerah itu. “Hah? Dia siapa? Mengapa harus bersembunyi di balik sana? Apa tujuannya?” Pikirku saat itu. Pelan, ku kayuh sepedaku di antara panorama kegelapan. Juga dengan hati yang deg-degan.

Nah, tiba saatnya sepedaku sampai di tembok pagar tempat di mana sosok samar-samar yang kulihat itu mengintipku berulang kali. Kuberanikan diriku untuk menoleh. Ya, aku penasaran siapa dia. Dan ternyata, *Deg! Ada orang dibalik tembok pagar itu. Sungguh, dia mengenakan kaos pendek berwarna putih dan dia memegangi rambutnya dengan kesan horor dan wajah yang horor pula. Tak lupa, dia tertawa layaknya sosok kuntilanak. Sontak, aku terkejut dan buru-buru kukayuh sepedaku dengan perasaan yang masih bercampur aduk.

loading...

Saat aku mencoba lari, upss. Mengayuh sepedaku kuat-kuat, apa yang dia lakukan? Dia justru menertawakanku. Dan saat itu pikiranku melayang jauh entah kemana. “Duh, dia siapa? Orang gila kah? Atau hantu? Ya Tuhan, bagaimana ini? Jika dia mengejarku, apa yang harus kulakukan? Jika dia memasukkanku ke dalam karung, apa yang harus kuperbuat Tuhan. Aku takut. Takut. Begitu kira-kira pikiranku saat itu.

Untung saja saat itu malam hari, jika tidak pasti orang-orang akan menertawakanku karena sikap kesetananku saat itu, jangankan orang. Ayam pun pasti juga akan melakukan hal yang sama. Tetapi serius, aku sangat takut saat itu. Dan tujuanku hanya satu *Mengayuh sepeda kuat-kuat dan tak memperdulikan keadaan sekitar. Terserah apa yang akan mereka katakan jika melihatku saat itu.

Lima menit berlalu dengan cepat. Akhirnya, aku sampai di tempat les. Dan di sana, aku menceritakan kejadian konyol itu kepada guru lesku. Dan, aku justru ditertawakan olehnya. Huft! Malang benar nasibku saat itu. Serasa mau pingsan. Lantas, kucoba untuk menenangkan diri. Tenang. Tenang. Tenang. Lagi-lagi, setengah jam berlalu sia-sia hanya untuk menenangkan pikiranku kembali. Dan endingnya, aku les dengan sisa bayang-bayang ketakutanku.

Bagaimana caraku pulang? Ya, saat itu aku dijemput oleh ayahku dan sesampainya di rumah, aku menceritakan kejadian konyol dan absurd itu kepada keluargaku. Dan, apa yang mereka lakukan? Untuk kali kedua aku ditertawakan oleh mereka. Mereka bilang, itu hanya orang gila yang tak tahu apa-apa. Mereka tidak percaya dengan cerita itu.

Help me Tuhan. Buat mereka percaya dengan kenyataan ini. Hatiku sakit Tuhan. Sakit. Melebihi moment ketika diputuskan oleh pacar. Sekian dulu cerita dari saya, dan maaf jika tidak horor ataupun tidak lucu. Saya hanya manusia biasa. Und danke schön sudah membacanya. Aüf wiedersehn.

Share This: