Highland Towers

Kisah menyeramkan Highland Towers ini dialami oleh seorang sopir taksi. Malam di tahun 1994 ketika hujan keras tengah mengguyur jalanan, dia mengangkut seorang penumpang wanita muda yang berdiri di samping jalan. Dia melambaikan tangan dan untungnya terlihat oleh sopir taksi ini lewat kaca depan mobilnya yang tertutupi air yang deras. Gadis itu membuka pintu dan langsung duduk di kursi belakangnya.

Ketika taksi itu mulai berjalan kembali, sopir itu menoleh ke belakang sekilas dan bertanya. “Kemana tujuan anda?” “Hillview” jawab wanita muda itu. Seketika sang sopir merasa bergidik ketika mendengar nama itu, tapi dia mencoba mengacuhkannya. Bersyukur masih mendapatkan penumpang di malam yang panjang ini. Ketika mereka berdua melaju, sopir ini mencoba memulai percakapan kecil, tapi kecewa dengan tanggapan yang didapatnya.

Jika saja ada, hanya secuil. Wanita itu tampak sibuk dengan pikirannya sendiri, bahkan seperti sedikit cemas. Mereka melanjutkan jalannya malam itu, dan satu-satunya suara yang muncul hanyalah deru mesin taksi, serta penyeka kaca depan mobil yang menepis kerasnya hujan yang menutupi pandangan sang sopir. Setibanya di Hillview, wanita itu mengarahkan taksi itu ke samping jalan.

Sopir ini kemudian menyadari di mana mereka kini berada-daerah Highland Towers yang terbengkalai di salah satu bangunan menara yang runtuh beberapa tahun yang lalu. Sisa-sisa menara ini sengaja dikosongkan karena takut adanya runtuhan susulan. “Kenapa anda ingin datang ke tempat seperti ini di tengah malam, dalam cuaca yang seperti ini?” tanya sang sopir.

Wanita itu kemudian menoleh padanya. “Saya meninggalkan beberapa milikku di sini. Sesuatu yang sangat penting bagiku.” Suasana di dalam taksi tiba-tiba berubah. Sebuah perasaan mencekam mengerubuti sang sopir. Wanita itu keluar, angin dan hujan langsung berhembus masuk ke dalam mobil. Sopir ini pun penasaran, dia harus tahu apa yang sangat penting hingga wanita itu membawanya ke sini.

“Apa, apa yang sangat penting bagi anda hingga tidak bisa menunggu besok hari?”
“Jasad dan seluruh hidupku. Saya tewas di sini tahun lalu.”

Dan kemudian dimulailah legenda Highland Towers yang berhantu di Selangor, Malaysia. Cerita hantunya muncul dengan beragam alur, umumnya menceritakan hal yang sama, namun akhir yang berbeda. “Lengan dan kakiku.” adalah akhir yang lain, ketika sang sopir taksi melontarkan pertanyaan terakhirnya. Pada kesempatan yang lainnya, sang wanita muda itu membayar jasa sopir taksi dengan “Uang Alam Baka” yang berlumuran darah.

loading...

Walau tidak ada korban dalam cerita atau legenda yang menyeramkan itu, tapi latar belakang tentang runtuhnya bangunan apartemen Highland Towers ini setidaknya sudah mengambil nyawa dari 48 orang. Korbannya kebanyakan warga negara malaysia, dan beberapa orang asing termasuk seorang warga negara Inggris, seorang Jepang, dua orang India, tiga Korea, tiga Filipina, dan tiga Indonesia.

Saat itu, kru penolong bahkan mendengar ketukan dan suara-suara keluar dari dalam reruntuhan hingga hari ketujuh. Hanya tiga orang, termasuk seorang bayi, yang berhasil ditarik keluar. Namun setibanya di rumah sakit, salah satu dari mereka meninggal dunia. Pada sekitar tahun 1975 hingga tahun 1982, lokasi pembangunan apartemen di dataran tinggi ini memiliki aliran air sungai yang mengalir di atasnya, sungai ini dikenal dengan nama ‘Sungai Timur’.

Aliran Sungai Timur ini kemudian dibuatkan serangkaian pipa-pipa untuk membelokan arahnya hingga pembangunan dapat dimulai. Tiga blok bangunan berlantai 12 Highland Towers akhirnya dibangun dan ditujukan untuk warga negara kelas menengah, dan sejumlah expatriat asing. Blok-bloknya sangat berdekatan satu sama lain, di atas tanah yang dilengkapi sebuah kolam renang di antara kedua bloknya.

Di tahun 1980an hingga awal 1990an, dengan banyaknya orang-orang kaya dan warga negara asing yang tinggal di sana, apartemen ini sudah terkenal sebagai tempat favorit untuk menyembunyikan selingkuhan dan simpanan mereka. Di tahun 1991, sebuah proyek pembangunan lain dengan nama “Proyek Pengembang Bukit Antarabangsa” dimulai, tepat di belakang Highland Towers. Sebagai hasilnya, pohon-pohon dibabat habis di dataran tinggi tersebut, membuat resiko erosi makin tinggi.

Aliran air Sungai Timur dialihkan lagi memakai rangkaian pipa yang sama. Tak butuh waktu lama, hingga akhirnya pipa-pipa itu kelebihan tekanan air. Alirannya juga diisi dengan tanah dan lumpur halus dari Sungai Timur dan lokasi pembangunan. Kebocoran terjadi di mana-mana, dan tanahnya mulai tidak dapat membendung aliran airnya.

Kandungan air dalam tanah telah mencapai titik yang membahayakan, dan tanah itu kini telah menjadi lumpur. Oktober 1992, lereng dataran tinggi itu sudah hampir tenggelam oleh air. Laporan juga muncul mengabarkan aliran air di lereng sudah mengalir turun. Sebulan sebelum kejadian runtuhnya bangunan apartemen Highland Towers, tepatnya bulan November 1993, para penghuni sudah melihat retakan di jalanan sekitarnya. Pertanda keruntuhan akan terjadi sudah terlihat, namun sayangnya tidak ada penyelidikan lebih lanjut yang diambil.

Hujan deras di bulan Desember 1993 makin memperparah dataran tinggi itu. Pukul 13:35 siang, 11 Desember 1993,  setelah 10 hari berturut-turut diguyur hujan, tanah di belakang blok pertama Highland Towers amblas dan jatuh menghantam pondasi bangunannya. Tak lama kemudian lembeknya keadaan tanah yang melandasi bangunan itu membuat kedua belas lantai apartemen itu ambruk, merusak segala yang ada di dalamnya. Pihak militer dan kru penolong diarahkan ke  lokasi kejadian untuk menolong nyawa-nyawa yang terancam akibat runtuhan tersebut.

Sekitar ratusan tenaga dikerahkan untuk menolong pada malam di musim dingin itu, hingga 11 hari untuk mencari orang-orang yang tertimbun di bawah reruntuhan, sebelum akhirnya dihentikan pada 22 Desember. 48 nyawa melayang, walau beberapa sumber juga mengatakan mencapai 53 atau 55 orang. Setelah runtuhnya Highland Towers, bangunan itu ditinggalkan terbengkalai. Tanahnya sudah lembek, dan beberapa runtuhan kecil masih terjadi selama cuaca buruk sejak bangunan itu rubuh. Sisa bangunan yang lain masih berdiri, dikerubuti hutan-hutan yang tumbuh di sekitarnya, seolah alam mengakui tanah itu miliknya.

Sejak itu pula, beberapa orang yang tinggal di sekitar sana mengaku pernah melihat hantu dari orang-orang yang mati di reruntuhan Highland Towers. Mengendap-endap di antara pepohonan di lokasi yang dulunya apartemen itu berdiri. Walau begitu, kelihatannya sopir-sopir taksi yang paling mengetahui cerita menyeramkan dari legenda Highland Towers.

Share This: