Hotel Kosong

Inilah pengalaman saya di bilang nyata pasti anda semua bilang ini tidak nyata, namun ini semuanya nyata saya alami. Ini kisah saya, 28 juni 2011. Nama saya donni, kelahiran Jakarta, saya mempunyai teman yang bernama mily, anisa, iren, zie, raka, ayent, kami ber 7 ingin sekali melakukan liburan akhir kerja kami bersama, ke suatu tempat yang sunyi di sambut dengan pemandangan yang elok cantik, inilah kisah saya dan teman-teman saya.

30-jun-2011, “kring. Kring” bunyi hp ku berbunyi (ku lihat pesan dari milly teman kantorku). Isinya “don. Kita liburannya ke tempat yang sejuk beb, kata anak-anak si mendingan ke Pandeglang, Banten? Gimana?”. Sontak langsung ku balas. “Oke deh, siap. Kira-kira kalian mau tanggal berapa?”, sms mily pun masuk, “hari ini juga jadi kok”. Sore beranjak malam.

Kami semua pun berkumpul di tempat zie temanku, di daerah Lokasari. “Semuanya sudah lengkap?” Ujar ayent. Perlengkapan pun sudah siap, dan semua teman-teman sudah semuanya. Milly, anisa, zie, iren, ayent, raka, donni. Perjalanan kami pun berjalan dengan mulus. Melewati tengah malam yang sunyi, dengan di iringi musik di dalam mobil. *hufth sejuk, angin malam yang menerpa, dan embun-embun menghiasi kaca mobil kami yang di belakang. *Haha. Maklum kami ber 7 satu mobil.

Perjalanan memakan waktu 4 jam 50 detik. Sampai di pertengahan jalan, kami sepertinya tersesat di jalan yang salah? Seharusnya bukan lewat sini kalau ke arah banten? Kenapa ini seperti hutan. Banyak pohon pinus dan karet, merinding bulu romaku, ujar iren. “Beb, coba lo tanya warga setempat siapa tau kita salah arah don?” ujar anisa. “Iya nis, aku coba tanya warga dulu ya, soalnya ini aku lihat gak ada warung yang buka, ujar doni, “gila, sudah jam 00.00 loh” ujar raka.

“Don, don, itu disana ada warung menyala lampunya siapa tau, mereka tau hotel yang dekat disini buat istrahat” ujar milly. Aku pun langsung menghampiri warung yang di lihat mily, aku langsung bertanya kepada warga yang menjual disana. “Permisi pak, bu, saya dari jakarta, mau tanya apa ada penginapan di sekitar sini yang bisa di inap kan?” ujar saya.

“Oh, penginapan yang aden tanya? Disini mah cuman 1 penginapan. Itu ada di hotel di ujung jalan ini cuman sudah gak buka atuh den!” ujar ibu tua. “Oh, masa bu sudah gak buka sih, soalnya kita butuh banget bu tempat buat tidur nih malam”, ujar raka dengan ketus! Tiba-tiba ada yang menepuk kaca mobil kami di belakang, *prook. Kami pun kanget, ternyata seorang bapak tua dengan penampilan lusuh dan sedikit menakutkan.

Ketika bapak itu datang, langsung ibu warung itu pun lari dan ketakutan menutup warungnya dan masuk ke rumahnya dengan ketakutan. Aneh, kenapa ya, aku pun bertanya kepada bapak itu. “Maaf pak kenapa anda menepuk kaca mobilku dengan keras? Apa masalahnya” ujar saya. “Kalian semua mau bermalam di sini? Saya adalah pemilik hotel yang di ujung sana. Saya kasih kalian harga 100 ribu untuk 7 orang” ujar bapak itu. “Wah *cuco, ayo kita kesana” ujar anisa.

Kemudian kami di antar oleh bapak itu, kami spontan melihat hotel ini. Wah besar sekali sangat bagus dan mewah. Kami pun langsung beranjak masuk hotel ini. Di sambut dengan bellboy yang ganteng-ganteng, baju mereka pun semuanya identik warna putih. Kami pun di kasih kamar paling besar untuk 7 orang, kamar 200. Ini kamar kami, setiba di kamar, aku langsung melihat-lihat ke arah luar hotel. Wah pemandangan yang menakjubkan. Kolam renang yang besar dan semua pengunjung hotel pun ramai.

Sempat saya berfikir kenapa ibu warung bilang tadi ini sudah tutup hotelnya, yah! Pdahal masih ramai pengunjung. Anisa dan mily pun beranjak keluar hotel dan menemukan alfa mart membeli sesuatu, mereka di tanya oleh petugas alfa, “mbak menginap dimana kayaknya kami baru lihat mbak” ujar petugas. “Oh, kami tinggal malam ini di hotel itu mas, namanya hotel sunda” ujar Anisa.

Sontak langsung petugas itu kaget, hah, mbak disana? Mbak itu hotel sudah lama tutup gak ada apa-apa disana. Kok mbak berani!” ujar petugas alfa. “Sudah yu, *cuz saja deh mas jangan *kepo ya, orang itu hotel masih ramai kok” ujar mily. Ayent dan aku pun jalan-jalan menikmati area hotel, kami pun ke taman-taman di hotel dekat kolam renang besar. Banyak pengunjung berenang dan anak kecil lucu-lucu disana. Jujur saja aku dan Ayent pasangan. Kami berdua *gay.

Raka, iren, zie di kamar saja. Mereka asik main laptop. Namun, aku merasa ada yang aneh saja, mengapa setiap pengunjung yang berenang ke kolam itu tidak nampak basah? Bahkan baju mereka utuh kering. Ah, mungkin ini cuman halusinasi saja. Kami pun kembali ke kamar kami semuanya. Di lantai 2 kamar 200. Kami pun tidur, itu pukul 03.00 dan tercium aroma menyengat bau bangkai di ac kami.

loading...

Zie dan Raka pun bangun “bangun-bangun bau banget dah ini ac” ujar zie. Aku pun terbangun, sontak kaget. “iya tenyata bau menyengat di ac”. Aku pun langsung menghubungi room Service. Untuk memastikan apa ini bau apa. Line 5 kami telepon! “Tut, tut, lama sekali tidak diangkat?” ujar doni, ah sudah deh mendingan kita samperin saja ke depan yuk. Ketika kami membuka pintu, sontak kami kaget dengan apa yang kami lihat, seseorang bellboy dengan tanpa kepala melintas di kamar kami.

Apa ini! Kami pun menutup pintu. Aku pun langsung melihat ke arah bawah hotel, ke kolam. Tampak kolam berwarna hitam dan lusuh banyak daun-daun kering di atasnya. Sepi nan gelap suasana langsung hampa. Kami pun bergegas packing cepat koper, karena kami pun merasa ini aneh. Aku pun pergi ke arah mobil, dan melihat ban mobil kami kempes, bocor, “gimana ini yank” ujar saya.

Sabar yank, kita cari bantuan di sekitar sini. Saya dan ayent pun berlari ke luar hotel. Meminta bantuan kepada warga setempat, namun kami bertemu orang besar dan gemuk membawa pisau besar, dengan membawa bungkusan besar. Aku dan ayent kabur lari dari hotel. Sedangkan teman-teman kami masih di sana. Kami bertemu warga setempat. Seperti kyai, ustad. Assalamualaikum bapak tolong permisi, saya dari jakarta pak. Kami terjebak pak di hotel itu.

Teman kami belum bisa keluar cuman kami yang bisa keluar, ujar ayent. “Saya tau kok, bahkan saya mengawasi kalian. Kalian sudah ditutup matanya oleh penunggu hotel itu, saya akan ceritakan kejadian hotel sunda” ujar pak ustad. Ini dimulai pada tahun 1990. Di saat itu hotel sunda ini sangat berjaya banyak turis asing dan wisatawan bersinggah di hotel ini. Namun karena terjadinya kebakaran meledaknya pom bensin sebelah hotel yang berimbas kena ke hotel dan memakan korban sekitar ratusan orang.

Akhirnya resmi pada tahun 1991 hotel ini di tutup untuk umum dan kosong tanpa penghuni. Banyak makhluk-makhluk korban kecelakaan yang bergentayangan di sana, karena meminta tolong. Pemilik hotel ini juga bernama Robert yang gemar memelihara hewan liar seperti buaya dan harimau. Konon di kolam itu ada buaya hitam jenis afrika disana. Dan harimau itu di belakang hotel di kandangkan.

Saya dan ayent, bersama pak ustad pun ke hotel. Menyelamatkan teman kami. Namun sepertinya sudah terlambat, mily, dan anisa terjun ke kolam yang ada buaya ukuran besar. Sedangkan zie dan raka. Berusaha kabur namun tertusuk di pagar hotel, sedangkan iren, ia mendapatkan pasangan jin penjaga pintu dan ia pun ke alam mereka. Sungguh tragis.

Namun aku tidak sampai diri kenapa bisa terselamatkan. Kata pak ustad, kamu adalah cucu dari titisan kanjeng pantai selatan. Karena uyut kamu adalah asli titisan dari kanjeng, jadi mereka semuanya takut, pantas aku saja yang bisa melihat kejanggalan itu.
Donni, itu cerita saya.

KCH

donny riono

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

donny riono has write 2,694 posts