Ibu dan Anak Menumpang di Mobilku

Tiga tahun lalu, aku dan mama habis pulang dari rumah teman lama mama bernama ibu Rosa. Kami berangkat sekitar jam 7 pagi dan pulang dari rumah ibu Rosa sekitar jam 5 sore. Di perjalanan, aku sama mama sangat enjoy. Tidak terasa sudah jam 8 malam, kami belum juga sampai. Memang, rumah ibu Rosa ini jauhnya minta ampun, tadinya kami disuruhnya menginap saja dirumah, tapi mamaku bilang, kalau besok suaminya (papaku) dan anak-anak (aku dan saudara) akan kerja dan sekolah.

Nanti gak ada yang ngurusi. Di perjalanan, jalan terasa sepi dan karena waktu itu lagi gerimis juga. Jadi, saat mama sedang memacu mobil yang agak ngebut sedikit karena katanya sunyi, kemudian tiba-tiba ada seorang wanita dan anaknya yang menyetop mobil kami dari arah yang tak begitu jauh. Mama pun memberhentikan mobil. Kemudian posisiku yang tepat berada disebelah ibu dan anak itu, langsung membuka kaca mobil dan bilang “iya,bu. Ada apa?”, ibu itu jawab “bolehkah kami menumpang mobilmu sampai jalan sari?”.

Karena gerimis dan ibu itu membawa anak, akhirnya kami setuju. Kasihan kalau gak kami tolong. Aku dan mama berada diposisi depan, sedangkan ibu dan anak itu berada ditengah. Aku melihat ibu dan anak itu mukanya pucat, seperti tidak makan selama 3 hari. Aku dan mama tanyai, (pertanyaan dipersingkat). Darimana? Ngapain hujan-hujan diluar? Ibu dan anaknya sakit ya? Begitulah kira-kira dan masih banyak lagi pertanyaan yang kami lontarkan.

loading...

Tapi aneh, ibu dan anak itu hanya diam. Kami yang bertanya seperti dikacangin/dicuekin. Kemudian aku menyuruh mama untuk diam saja dan gak usah bertanya lagi. Di perjalanan, mama merasa merinding tiba-tiba dan aku juga. Kemudian kami mencium aroma bunga kantil dan aroma bunga lainnya dan tak berapa lama kami mencium bau yang sangat busuk sampai mama mau muntah.

Mama kira aku yang buang angin, tapi bukan. Ini seperti bau bangkai. Aku sudah menduga. Kalau mereka lah penyebabnya. Ibu dan anak ini bukanlah manusia. Mama sudah ketakutan banget. Kemudian mama mau melihat ibu dan anak itu melalui kaca kecil didepan, tapi aku cepat-cepat cubit mama, untuk kasih kode. Aku gak berani ngomong langsung. Aku kemudian SMS mama (padahal jarak kami samping-sampingan) untuk ngasih tahu.

“Ma, jangan lihat kaca. Itu bukan manusia. Sudah, mama nyetir saja. Jangan dipikirkan”. Mama yang membaca SMS ku sangatlah kaget dan mengebut secepatnya agar cepat sampai dijalan sari. Padahal mama dan aku gak tahu arah jalan sari itu, tapi aku suruh saja mama untuk tetap melajukan mobilnya, karena pasti mereka akan nyuruh berhenti kalau sudah sampai ketempat yang mereka tuju.

Mama makin bingung. Aroma busuk yang semakin menyengat membuat mama agak hilang konsentrasi dan hampir nabrak. Kemudian aku SMS mama lagi “Ma, jangan panik. Anggap biasa saja”. Dan tiba-tiba ibu itu bilang, “berhenti disini saja”. Mama cepat-cepat memberhentikan mobilnya. Kemudian ibu dan anak itu keluar dan ketika aku melihatnya, mereka malah gak ada. Kemudian, kami berdua dari dalam mobil melihat lokasi jalan sari itu.

Ya ampun. Ternyata TPU. Semua kuburan. Kan, gak salah duga aku. Mama pun menyalakan mesin mobilnya dan cepat untuk hengkang dari situ. Tidak berapa lama saat diperjalanan, dari arah agak jauh, kami distop lagi oleh seseorang wanita dan anak disebuah jalan yang sunyi. Waduh, mereka lagi. Sudah lah. Selesai.

Fiolin Fradah

Sezgina Fradah

Thank you for reading my stories. Thank you for liking my stories Thank you so much... Terimakasih,Thank you,Arigato gozaimasu, kamsahamnida,Xie-xie,Merci bien,Dankejewel,Matur nuwun,Tarimo kasih,Hatur nuhun,Bujur...

All post by:

Sezgina Fradah has write 94 posts