Insiden Sekolah

Aku duduk di kursiku sambil menunggu guru sekolah, aku membaca buku tentang hal mistis, aku sangat suka dengan berbau horor.
“Sut, sut, hey” ucap putri temanku menepuk pundakku.
“Ada apa putri ?” tanyaku berbalik.
“Kamu tahu insiden di belakang sekolah yang pohon besar itu, dulunya ada hantunya” ucap putri meyakinkanku.
“Masa sih coba nanti kalau pulang nanti kita lihat”.
“Okey”.

Jam pelajaran sekolah pun selesai, semua murid berhamburan keluar kelas, aku masuk memasukan bukuku dalam tas dan berjalan menuju pohon besar yang ada di belakang sekolah. Untuk tahu bagaimana cerita putri tentang insiden itu. Sesampainya disana kami mengelilingi pohon besar ini, dan putri mulai menceritakan tentang insiden yang terjadi di sekolah ini, kata putri dulunya di sini ada yang terbunuh oleh hantu entah apa badannya di temukan di pohon besar ini, tapi kepalanya tidak dapat di temukan sama sekali.

Aku pun pulang ke rumahku bersama putri, kami mengerjakan pekerjaan rumah kami bersama sambil membuka browsing mencari, tak lama aku pun mendapatkan insiden yang terjadi di sekolahku. Tertulis jika kamu melihat kepala di laci kalian, berarti tak lama lagi kalian akan mati, jika kalian tidak mendapatkan kepala tersebut, selama 2 hari kalian akan mati.

Lalu putri hanya terdiam membisu.
“Kamu kenapa apa ada yang salah?” tanyaku.
“Aku, waktu aku mengambil buku di kelas, aku melihat kepala tersebut apa aku akan mati?” ucap putri yang takut.
“Itu ini hanya dunia maya jangan percaya putri” ucapku menenangkannya.

*Tok, tok, tok. Suara ketukan pintu yang mengagetkan kami, ternyata ibuku yang ada di balik pintu
“Ada apa ibu?” tanyaku.
“Apa temanmu menginap disini? Ini sudah jam 9 malam” ucap ibuku.
“Tidak tante aku sebaiknya pulang saja sudah larut”.

Aku pun mengantar putri sampai di gerbangku.
“hati-hati ya putri”.
“Iya lita bye sampai bertemu di sekolah”.

Keesokan harinya aku tidak melihat putri datang ke sekolah, ada apa dia tidak berangkat, apakah dia sakit, kemarin baik-baik saja (gumamku), aku pun mengikuti pelajaran sampai selesai.
“Lita” ucap guruku.
“Iya ada apa pak” ucapku sambil meletakkan buku di tas.
“Kenapa putri tidak masuk?” tanya pak guru.
“Saya tidak tau pak kemarin sama saya pak dan baik-baik aja”.
“Coba nanti kamu tanya putri ya lita kenapa tidak masuk sekolah” ucap pak guru sambil meninggalkanku.

“Aku terus menelpon putri tapi tidak di angkat angkat,aku menelponya lagi ini sudah yg ke 4xkalinya
“Halo halo put” ucapku
“Aduh, kamu kenapa sih menelepon terus?”
“Kamu kenapa tidak masuk sekolah?”.
“Aku sakit jadi aku berobat, hpnya aku tinggal tadi”.
“Oh gitu, ya sudah cepat sembuh ya”.

Telepon pun terputus saat aku menaruh buku dan pulpenku terjatuh, aku mengambilnya saat aku mengambilnya. Aku melihat kepala di laci, dia menatapku dengan tatapan tajam aku berteriak teriak ketakutan.
“Hay kamu kenapa?” ucap salah satu teman kelasku.
“Tidak apa-apa kok”.

loading...

Aku berlari menuju ke kamar mandi untuk cuci muka, apa yang aku lihat hanya halusinasiku saja, aku pun mencoba menelepon putri lagi, tiba-tiba kaca yang ada di depanku pecah tak tahu kenapa.
“Halo, halo” ucap suara telepon.
“Iya halo apa kamu sudah baikan putri?”
“Ini ibunya putri, putri kecelakaan kemarin malam lita” ucap ibu putri.

Aku kaget mendengar perkataan ibu putri tadi, bahwa putri kecelakaan kemarin malam lalu tadi yang angkat teleponku itu siapa, yang bilang sakit. Aku pun pulang dengan rasa kebingungan. Keesokan harinya guru memberi tahukan bahwa putri telah meninggal, semua murid terlihat kaget karena tiba-tiba putri meninggal dengan keadaan kepalanya terpisah dengan badannya, pikiranku mengingat perkataan putri terakhir yang melihat kepala di dalam laci. Aku pun sepulang sekolah harus menemukan kepala tersebut supaya aku tidak mati seperti putri, aku menggeledah semua laci-laci sekolah tapi tidak dapat juga pikiranku mulai kemana-mana.

Apa aku akan mati seperti putri nanti, tiba-tiba meja paling belakang pojok dekat jendela bergoyang sendiri, aku mulai mendekatinya perlahan-lahan. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku, aku kaget dan berbalik.
“Apa yang kamu lakukan disini?” ucap pak guru.
“Aku, aku” ucapku.
“Ikut bapak ke kantor”.

Aku pun ikut ke kantor karena aku di kira ingin mencuri, lalu aku pun menceritakan tentang insiden tersebut tapi pak guru tak mempercayainya aku pun pulang. Malam pun tiba, aku hanya bisa terdiam di kamar berpikir terus apakah aku akan seperti putri. Suara ketukan pintu memecahkan lamunanku.
“Iya masuk”.
“Kamu kenapa nak tidak makan, apa kamu baik-baik saja?” tanya ibuku.
“Aku tidak apa-apa kok bu”.

“Ini kenapa nak leher kamu berdarah” ucap ibuku memegang leherku.
“Mana bu”.
“Ini ada darah”.
“Mungkin tergores sesuatu bu”.
“Iya sudah ibu tinggal dulunya nak selamat malam”.
“Malam bu”.

Saat di sekolah aku memegang leherku apakah hanya goresan kecil, guru pun memanggilku ke atas untuk menjawab soal matematika. Saat aku sudah menjawab soal dan berbalik ke belakang, semua murid tidak ada di kelas, aku bingung mereka pergi kemana tiba-tiba saja menghilang. Terdengar suara tulisan papan tulis, aku mulai berbalik perlahan aku kaget apa yang aku lihat. Perempuan menulis di papan tulis tanpa kepala aku kaget setengah mati. Aku berbalik untuk tidak melihatnya.

Aku berbalik lagi sudah tidak ada, tertulis di papan tulis tolong, aku pun terbangun dari mimpiku. Mimpi apakah tadi (pikirku) aku mulai berpikir sejenak apa yang barusan aku mimpikan, aku pun langsung membuka laptop dan mencari cara memanggil arwah yang sudah mati. Aku pun mencari dan mencari akhirnya aku mendapatkannya, caranya menggunakan papan kouja, aku membaca beberapa artikel untuk aku pahami.

Aku pun membuat dengan kertas dan ku tulis kata untuk memanggil arwah, lalu aku bergegas pergi menuju ke sekolah. Jam menunjukan pukul 00:10 tepat tengah malam. Sesampainya di sekolah aku mencari kelasku dan mulai duduk di kelas yang sangat gelap sendiri hanya di temani oleh lampu handphoneku. Aku mulai membaca doa untuk memanggil orang yang sudah mati. “Jika kamu ada di sini tolong bilang iya” tiba-tiba gelas yang aku tindih, dengan jariku bergerak ke huruf-huruf yang aku buat mengeja huruf (Ya).

Aku kaget karena ini baru pertama, aku pun melanjutkan pertanyaanku.
“Kamu siapa?” gelas mulai bergerak lagi mengeja namanya.
“Wanida, apa yang harus aku lakukan untuk menolongmu?”.
“T-e-m-u-k-a-n K-e-p-a-l-a-k-u”.
“Dimana aku harus menemukannya?”.
“I-k-u-t-i S-a-j-a”.

Tiba-tiba angin bertiup kencang, aku menjauh dari kursiku, terlihat 3 orang murid memasuki kelasku, terlihat yang satu perempuan mirip dengan yang aku lihat di internet dia adalah wanida yang terkena insiden itu. Aku melihat dia membawa kertas kouja untuk memanggil orang yang sudah mati, aku melihat tanggal di papan tertulis 8 oktober 2004 lalu.

“Apa yakin ingin memanggil arwah yang sudah mati wanida” tanya temannya.
“Aku yakin aku sudah pernah mencobanya”.
“Tapi apa kamu tidak takut apa nanti ada yang terjadi sama kita”.
“Tenang saja mana ada hantu bisa menyakiti kita, tidak mungkin, mereka mulai membaca doa untuk memanggil orang yang sudah mati”.

“Apakah kamu hantu di sekolah sini?” gelas yang mereka tindih dengan jari mulai bergerak.
“I-y-a”.
“Bagaimana kamu bisa mati?”.
“Apa yang kamu lakukan semasa hidup”.
“Apa yang harus kami lakukan untuk membantumu?” tanya wanida.

Gelas mereka tak bergerak-gerak ,tiba-tiba gelas mereka bergerak begitu cepat mengeja nama. “Mati”.
“Hey jangan bercanda dong kamu”.
“Aku tidak melakukannya, hantu yang lakukan!”.
“Tolong kami!”.

Tiba-tiba masuk pak satpam di kelas.
“Apa yang kalian lakukan disini?”.
“Tidak pak kami lupa sesuatu yang tertinggal di kelas, kami sudah mendapatkanya wanida memasukan barang-barangnya ke tas tiba-tiba gelasnya terjatuh, pak satpam jatuh begitu saja beberapa menit kemudian. Dia terbangun dan tak berbicara”.
“Apakah anda baik-baik saja?” tanya wanida

Pak satpam mengeluarkan pisaunya dari sakunya, dan menusuk langsung perut wanida dan menarik ke meja. Dan mulai memotong kepalanya, teman mereka lari keluar kelas menyelamatkan diri. Aku sangat ketakutan melihat, pembunuhan wanida badanku lemas dan gemetar rasanya.

Kepala wanida terputus dari lehernya, badan wanida pun terjatuh mengeluarkan darah segar dari lehernya. Aku mengikuti ketakutan melihatnya pak satpam pergi membawa kepalanya. Tubuh wanida mulai bangun perlahan dan menunjuk ke arah pak satpam itu. Selanjutnya baca di insiden sekolah part 2.

Gugun

gugun

nama:gugun tinggi:165cm berat:50kg hoby:membaca,dan menulis karanganjangan lupa baca ceritaku ya hanya di kch jangan pernah baca ini sendirianaku suka buat cerita horor yg sedikit di bumbui pertemana dan horor yg sadis seperti mutilasiok salam knl semuafacebook: Nak gugun email:[email protected]

All post by:

gugun has write 43 posts

loading...