Jalan Berhantu

Ada sesuatu yang aneh dalam sebuah nada suara operator ketika seseorang memanggil dan menyuruhku untuk menjemput orang yang berada disebuah jalan yang bernama Bramlett pada suatu malam musim panas. Aku bergidik ngeri ketika mendengar nama jalan itu. Aku tidak ingin pergi kemana pun didekat jalan angker tersebut, terutama pada tengah malam. Tapi aku mengendarai taksi, dan itu adalah pekerjaanku untuk melakukan apa yang diperintahkan. Jadi dengan gemetaran aku menuju kearah jalan Bramlett, sebuah area insiden pembantaian atau lebih dikenal dengan jalan berhantu.

Insiden itu terjadi pada suatu malam dimusim panas, seperti sekarang ini, pada tahun 1947. Mungkin orang-orang menyebutnya insiden pembantaian, tetapi sebenarnya itu adalah pembunuhan. Seorang sopir taksi bernama brown, melintasi jalan tersebut malam itu, kemudian dia dicegat oleh seseorang. Orang itu merampok brown dan menusuk brown dengan pisau didalam taksinya, keesokan harinya seorang pria bernama Willie earle, ditahan oleh polisi karena kejahatan tersebut. Tetapi dia menolak mengakui hal itu.

loading...

Kemudian sekelompok orang yang sangat marah dari perusahaan taksi tempat brown bekerja berkumpul, mereka meminum sebotol whiski dan mengatur rencana untuk melakukan pembalasan dendam atas apa yang menimpa brown. Salah satu dari mereka pergi meminjam sebuah shotgun, dan kemudian mengambil taksi-taksi mereka untuk pergi kedalam penjara.

Sesampainya disana mereka menangkap earle dan kemudian memasukkan earle dibelakang salah satu taksi tersebut. Kemudian orang-orang itu membawa earle ke jalan Bramlett. Mereka menyeret earle secara paksa keluar dari taksi dan menghajarnya habis-habisan. Seorang pria menarik pisaunya dan menusuk perut earle, “oh God! Kenapa kau membunuhku?” kata earle sambil mengerang kesakitan. Kemudian seorang pria yang membawa shotgun menembak kepala earle, mengisi ulang pelurunya dan menembaknya lagi. Tidak cukup dengan itu, mayat earle yang sudah tidak bernyawa dibakar ditengah jalan, tepat dijalan Bramlett yang sekarang dikenal dengan nama area insiden pembantaian.

Setelah lega menyalurkan emosi mereka, akhirnya mereka kembali kedalam taksi dan kembali ke kota dengan mengambil rute yang berbeda-beda. Akhirnya tersiar kabar tentang hal tersebut dan 31 orang sopir taksi ditangkap dan diadili atas pembunuhan willie earle. Setelah kejadian itu, jalanan dijalan Bramlett yang dijuluki kawasan jagal memiliki reputasi yang buruk. Tak seorang pun dari perusahaan taksi menyukai mengemudi disana, terutama pada malam hari. Orang-orang mengklaim bahwa jalanan itu dihantui oleh sosok Willie Earle.

Aku menggigil saat aku memasuki jalan Bramlett dan melambat untuk mencari penumpang disana. Tetapi tidak ada seorang pun disana. Aku memarkir taksi dan keluar untuk membakar sebatang rokok sementara aku menunggu. Tiba-tiba, suhu disekitarku menurun drastis. Aku membeku ditempat, ketakutan mulai menjalar diriku, saat kemudian aku mendengar suara orang yang mengerang dari sisi jalan yang lain.

Suara itu seperti menggores urat sarafku. Samar-samar aku mendengar bunyi suara pukulan kepalan tangan, aku melihat kearah suara itu terlihat siluet hitam berputar-putar pada sesuatu atau seseorang. Aku mencari-cari pegangan pintu dan kemudian aku mendengar suara berteriak kesakitan. “Oh God! Kenapa kau membunuhku?” aku langsung bergegas masuk kedalam taksi, dan kemudian aku mendengar suara tembakan yang memecah suara pria yang mengerang tadi. Suara tembakan itu segera diikuti oleh suara tembakan yang kedua.

Suara dari ban mobil berderit keras saat aku membelokkan taksiku berusaha keluar dari jalan terkutuk ini. Tiba-tiba sesosok yang tinggi, babak belur, berlumuran darah, baju yang tersobek oleh sebuah pisau dengan luka dikepala yang menganga yang semakin terlihat jelas oleh sinar bulan, berdiri tepat didepan mobil. Aku terkejut dan menekan pedal gas kemudian menghindari sosok menyeramkan itu. Aku bisa merasakan jantungku yang berdegup begitu cepat, aku segera kembali ke perusahaan taksi malam itu.

Aku masih gemetar ketika telah sampai dikantor, beberapa menit kemudian aku menghubungi operator dan mengatakan kepada operator kalau aku berhenti. Kemudian aku mengambil barang-barangku dan menuju kerumah secepat mungkin. Setelah kejadian itu aku bersumpah tidak akan pernah melewati jalanan itu lagi, tidak akan pernah.

Ira Sulistiowati

Ira Sulistiowati

Jalani hidup ini penuh dengan tawakal.

All post by:

Ira Sulistiowati has write 44 posts

loading...