Jangan Buang Air Kecil Sembarangan

Hai ketemu lagi dengan resta dari malang, ini adalah ceritaku yang ke-4. Aku merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. Namun pada saat itu, adik bungsuku belum lahir, jadi masih 3 bersaudara. Kakakku laki-laki, sedangkan adikku perempuan. Namanya resga. Dulu pas kecil aku sering banget main, terus adikku itu ngikut mulu. Oke langsung saja ya. Kejadiannya pas aku masih SD kelas 2, adikku masih usia 3 tahun, dan adik sepupuku masih TK.

Waktu itu seperti biasanya, setiap sore aku mengaji mulai jam 3-5 sore. Selesai ngaji aku gak langsung pulang ke rumah. Tapi ke rumah nenek, karena dekat dari TPQ (Tempat Pembelajaran Qur’an). Nah setiap ke rumah nenek aku selalu main sama sepupuku yang rumahnya di deket rumah nenek. Sebut saja namanya Nila. Pas aku mau pulang, nila mau ikut. Ya sekalian saja aku suruh bawa mukena. Nanti biar shalat bareng-bareng.

Setelah sampai rumah, habis taruh tas dan mukena. Aku, adikku, dan nila main-main bentar ke dekat mushola. Pas lagi enak-enak main, nila kebelet buang air kecil. Karena di mushola gak ada toilet dan sudah kebelet banget jadi dia terpaksa buang air kecil di jalan dekat mushola (jalannya tuh sepi, terus banyak kebunnya). Maklum masih kecil, jadi gak malu buang air kecil di jalan, dan gak tau kalau buang air kecil itu najis buat shalat.

Terus kami ngelanjutkan main-main lagi. Pas sudah mau masuk waktu maghrib, kami pulang dan mau ke mushola lagi buat shalat. Eh tiba-tiba mati lampu, jadi ya akhirnya shalat di rumah. Nah pas itu rumah lagi sepi, cuma ada kita bertiga. Karena kami takut mau shalat di kamar, jadi kami shalat di ruang tamu dengan di terangi cahaya bulan tentunya. Belum selesai shalat masih sujud rakaat ketiga ada yang ketuk-ketuk pintu depan.

*Tok, tok, tok. Selesai kami sholat ada yang ngetuk pintu lagi. *Tok, tok, tok. Kami bertiga bertanya-tanya siapa yang ketuk-ketuk pintu. Kalau mama gak mungkin pakai ketuk-ketuk pintu soalnya biasanya kalau masuk rumah lewat pintu samping yang memang gak di kunci. Kami berdebat siapa yang mau buka pintu. Adikku gak mungkinlah secara masih 3 tahun mana bisa buka pintu sendiri. Nila gak berani.

loading...

Akhirnya aku yang buka pintu. Begitu pintu dibuka, eh gak ada siapa-siapa. Pintunya aku tutup lagi. Eh ada yang ketuk-ketuk pintu lagi. Ku buka lagi, dan gak ada siapa-siapa. Akhirnya kami bertiga lari keluar rumah lewat pintu samping. Pas di depan pertigaan (pertigaanya di depan rumah) ada bang piyan tetanggaku. Aku tanyain “Bang maeng pean ndelok wong seng gedor-gedor omah?” (Bang tadi lihat orang yang ketuk-ketuk pintu rumah?”.

Dia jawab “iyo, iku maeng ono wong wadon gae klambi putih gedor-gedor omahmu tak kiro yo mamamu yo tak jarno ae, tapi rambute mamamu kan endek lha iku maeng rambute dowo, yo wes yo aku tak mrono sek” (iya, itu tadi ada yang ketuk-ketuk pintu rumahmu tak kira mama mu ya saya biarin, tapi rambutnya mama mu kan pendek, lah itu rambutnya panjang, ya sudah ya, mau kesana dulu).

Kami bertiga terheran-heran siapa ya yang ketuk-ketuk pintu. Terus kami melihat ke rumah kami lagi ternyata benar kata bang piyan. Ada wanita pakai baju putih rambutnya panjang yang berdiri di depan rumahku. Kami bertiga langsung lari terbirit-birit menuju rumah nenek.

Setelah sampai, aku ceritakan ke nenek. Terus kata nenek jangan buang air kecil sembarangan. Apalagi di kebun dekat mushola. Karena disana angker dan banyak penunggunya. Kalau mau buang air kecil mending pulang dulu saja. Sekian maaf kalau tidak seram.

KCH

Resta

Sekedar kembali mengingatkan. “Jangan pernah baca ini sendirian” :)

All post by:

Resta has write 2,704 posts

Please vote Jangan Buang Air Kecil Sembarangan
Jangan Buang Air Kecil Sembarangan
Rate this post