Jangan Nakal Ya

Coret-coret lagi ah. Beberapa hari ini mumpung lagi semangat menggoyangkan jari, *hehe. Cerita kali ini di lakoni oleh beberapa pemuda di desa kami. Sebut saja jikin dan ke-2 temannya yang saya tidak kenal tapi demi nyaman bacanya saya beri nama abdi dan pandu (maaf jika sama dengan nama anda). Kejadian ini sudah lama reader, cause sekarang mereka mungkin sudah beranak-pinak (eh memangnya hewan) *hehe.

Maksud dwi mereka sudah berkeluarga, jadi waktu itu mereka masih di sebut pemuda. Ya walaupun terkenal pemuda jahil atau nakal. Malam itu mereka berencana akan panggang-panggang ayam (kelaparan kali ya). Tapi hewan peliharaan milik jikin masih di sayang alias eman-eman. Demi menyenangkan hati teman-temannya yang sedang main di rumahnya ini, tiba-tiba ada sebuah ide brilian dari pikiran jikin.

Jikin: “bagaimana, malam ini kita ngambil ayam potong saja di kandang ayam sana” (sambil menujuk arah kandang yang dituju).
Abdi: “maksud lo, kandang ayam milik tetanggamu itu?”
Jikin: “benar banget, kebetulan yang jaga cuma 2 orang, dan malam ini jadwal penjaga 1 orang lagi pulang kampung cuy”.

Pandu: “lo yakin? Memang kamu tahu jadwalnya darimana?”
Jikin: “ah dasar kampr*t lu, ya saya tahulah, itu kan milik tetangga sebelahku, dan aku juga pernah menginap di kandang sana buat temanin jaga, kebetulan saya juga kenal para penjaganya”.
Abdi dan Pandu: “terserah elu lah”.

Akhirnya mereka berangkat ke kandang ayam potong, dan kandang itu adalah salah 1 milik warga di desa sini. Pas sampai di tempat.
Jikin: “kita ambil di kandang paling pojok sana saja, karena di sana jarang di awasi dan jauh dari lokasi jaga”.
Pandu: “oke, posisi aman kan?”
Jikin: “iya dong, kan yang jaga sendirian”.

Tapi ketika mereka akan beraksi, tiba-tiba ada sorotan baterai/senter dari penjaga. Ternyata yang di pikirkan jikin salah, malam ini ada 2 penjaga dan sedang standby. Karena para penjaga curiga mendengar suara gaduh dari ayam-ayam dan gerakan orang, akhirnya mereka mengecek dan berlari menuju arah suara tersebut. Sontak jikin dan teman-temannya lari kocar-kacir melewati sawah yang banyak lumpur.

Penjaga: “woy siapa itu, maling ya? Awas ya tak gorok kamu” (teriak penjaga sambil berlari menuju gerbang, dan satunya menuju sumber suara).

Jikin dan temannya tetap lari menjauh dari area kandang dan sawah, tidak peduli dalam keadaan berguling-guling, kadang terjerungup (jatuh terjerembab) ke lumpur. Kaki dan tangan pandu kotor beserta kepalanya. Sedangkan abdi larinya sangat kencang, dan sepertinya malah meninggalkan jikin dan pandu. Kemudian sampailah di rumah warga yang rumahnya tepat di pinggir sawah dan masih banyak kebun kosong, mereka bersembunyi di kebun itu.

Jikin dan abdi memanjat pohon rambutan dan kebetulan rambutannya berbuah lebat. Setelah merasa aman karena penjaga sudah pergi. Akhirnya abdi mencari air untuk mencuci mukanya yang kotor dan kaki beserta tangannya. Abdi kemudian turun dan mengajak jikin untuk segera pulang. Tapi jikin belum ingin pulang karena dia sedang asyik makan rambutan di pohon.

Jikin: “bentar, tak metik beberapa ranting dulu buat di makan di rumah, dari pada gak dapat ayamnya, lo yang ngumpulin ya”.
Abdi: “sudahlah jik, nanti di marah orangnya”.
Jikin: “dasar penakut lo, g*blo* amat, ini kan rumah kosong, jadi gak ada penghuninya, sudah lo tenang saja”.

loading...

Akhirnya si abdi diam saja dan tiba-tiba dia melihat pandu sedang mengobrol dengan gadis cantik berbaju putih di pojok rumah kosong ini, sontak abdi bilang ke jikin.
Abdi: “jik, itu si pandu lagi ngobrol sama siapa? Katamu ini rumah kosong”.

Jikin yang lagi asyik memetik rambutan sambil makan pun melihat pandu dan bertanya padanya sambil terkejut.
Jikin: “woy, pandu, lo ngomong sama siapa disitu?”
Pandu: “ini sama mba pemilik rumah, sambil minta ijin buat cuci muka cuy”.
Jikin: “woy g*bl*k, ini rumah kosong tahu, itu yang di dekatmu miss kunti”.

Abdi yang mendengar penjelasan dari jikin sudah kabur tanpa membawa rambutan yang di kumpulkannya.
Begitu pun pandu tiba-tiba ketakutan dan langsung lari meninggalkan cewek itu.

Jikin: “woy kampr*t si*lan lo, malah tinggalin, tungguin woy” (sambil turun berusaha kabur meninggalkan rambutan yang di petiknya).

Miss kunti tiba-tiba tertawa cekikikan. Ternyata, tetangga depan rumah kosong itu yang masih saudara dengan si empunya rumah mendengar keributan tadi sedang mengintip di balik jendela sambil tersenyum. Lalu keesokan harinya bercerita pada keluarganya dan kepada kakak agus (yang punya rumah kosong). Lalu mengecek kebun, dan ternyata masih ada rambutan bekas di petik semalam, lalu di berikan kepada bapaknya lia (yang mengintip). Sekian.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts