Jantungku Berdebar

Assalamualaikum, permisi numpang lewat ya pembaca KCH. “*Shet tulisan ke 72 ini gak ada seram-seramnya, jadi jangan pada kecewa ya, *hihi” kata penulis yang sok imut padahal amit-amit. Sore itu seperti biasa aku menghampiri mereka, teman sekaligus sahabat-sahabat sewaktu kecil. Menjadi rutinitas tiap sore ku jalani seperti ini. Entah karena posisi tempat tinggalku ataukah karena mereka malas berangkat sendirian.

Hari ini aku merasa cuek, dengan gaya rambut diberi hiasan jepet (hiasan ikat rambut mini). Ku hampiri mereka satu-persatu untuk menuntut ilmu alias mengaji ke mushola yang jaraknya cukup jauh dari rumahku. Seperti biasa ku jemput pukul 17:00 sore, karena aku tahu temanku bernama maysaroh ribet alias lama. Kalau menjemput dia menghabiskan waktu setengah jam menunggu di letter L rumahnya.

Belum lagi ke rumah fitri, lanjut rumah eka dan sampailah di mushola hampir adzan maghrib berkumandang. Itulah yang membuatku kadang protes pada mereka, tapi tidak apalah demi ilmu dan amal. Di tengah perjalanan hari ini aku di tertawain oleh mereka, karena aku adalah seorang dwi yang biasanya bergaya biasa saja tanpa peduli penampilan apalagi hal-hal aneh pada rambut, tapi hari ini tanpa angin dan hujan aku memakainya dengan perasaan PD dan membuat mereka terkejut bahkan tertawa terpingkal-pingkal.

loading...

“*Healah dalah, hari ini dwi kesambet setan apa ya?” kata fitri sambil berjalan menuju rumah eka (posisi jalan ini di bawah pohon sawo yang besar dan berada di belakang rumah mbah minem). Jika kalian baca cerita “main petak umpet lucu tapi horor” pasti tahulah posisinya. Saroh pun menjawab “*haha iya nih, tumben dandanannya kayak artis”, *haha tawa mereka berbarengan. Sampai di depan rumah eka pun masih tertawa.

“Hey cah, kalian pada ketawa apaan sih, kok gak ngajak-ngajak” kata eka yang penuh penasaran.
“Hey tok (panggilan eka alias ekatok bolong), apa kamu gak lihat, itu dwi hari ini” kata saroh dan fitri sambil tertawa.
“*Haha, hey wel (sebutan namaku sesuka mereka, duwel atau duwal dalam bahasa inggris katanya, tapi dibuat-buat *lebay) tumben lu dandan, model kayak artis pula, *hihi” kata eka cengengesan.
”Ah pada sirik lu pada, kalau mau ikutan juga ya gak apa-apa” jawabku sedikit ketus/marah.
“*Hehe tapi cantik kok, sudah sih gak usah marah” kata eka dan di sahut fitri.

Singkat cerita, kami sudah sampai di mushola dan mengambil air wudhu masing-masing. Aku merasa tidak nyaman, akhirnya ku lepas semua ikat rambut yang menjengkelkan ini. Hingga mereka terkejut dan bertanya “kenapa di lepas, cantik kok, aku juga mau sepertimu” bisik fitri karena takut di tertawain mereka. Dan yang lain melihat lalu bertanya juga, akhirnya ku jawab “aku tidak biasa berdandan seperti ini, tadi sebelum berangkat, ibuku yang mendandaniku seperti ini dan aku suka, walaupun aku belum lihat wajahku, aku melihat ibuku tersenyum dan suka memakaikan ini padaku” jawabku.

Mereka lalu diam dan mengatakan maaf. Dan singkat cerita, kami pulang lewat jalan tadi. Jalan di saat kami bercanda ria dan membully diriku. Suasanan malam ini memang sedikit berbeda sangat gelap dan mencekam. Ternyata bukan perasaanku saja, tapi mereka juga. Saat diposisi mau melewati pohon sawo besar, tiba-tiba saroh mencengkram tanganku sangat kuat dan mendekat memeluk tanganku seperti orang ketakutan yang tidak mau ditinggal pergi.

“Itu apa wi disana, hitam tinggi besar” kata saroh ketakutan. Kemudian fitri pun tidak kalah mendekat dan mencengkram tangan sebelahku, hingga posisiku di apit oleh mereka berdua.
“Ih iya, aku takut, lari yo” pinta fitri.
“Ada apaan sih, tidak ada apa-apa kok, hanya burung hantu di atas kita dipohon sawo ini” jawabku tenang, supaya mereka tidak lari.
“Ih benaran tahu wi, kalau burung geh aku lihat!” kata saroh ngeyel sambil jengkel membisikiku.
“Sudahlah gak usah takut, kita kan barusan pulang ngaji” jawabku yang merasa tidak nyaman di himpit mereka.

“Apa gara-gara tadi kita meledek dwi, aduh maaf ya wi” kata fitri yang jalannya sedikit ngebut lalu ku tarik untuk berjalan biasa.
“Ah memangnya saya punya pembantu apa ya, dasar aneh” kataku nyeletuk dan mencairkan suasana supaya mereka tetap di posisi yang sama tanpa berlari.

Dan ternyata sejak tadi jantungku berdebar, namun aku sembunyikan dari mereka. Karena penulis juga sedikit takut dibalik jadi superhero mereka, walaupun tidak mau menengok kebelakang, apapun yang terjadi. Hingga sampailah di rumah yang sudah ada penerangan listriknya dan mereka melepaskanku. Ah lega juga dan bisa bernafas kembali, pikirku.

Ku lihat wajah mereka juga merasakan hal yang sama. Namun gara-gara kejadian ini, setiap berpisah dengan saroh diperempatan gang (karena jarak dan gang rumah kami terpisah). Dwi dapat tugas lagi untuk melihat saroh sampai dia sampai di depan rumahnya, *huh sial. Lalu yang baca juga pasti sedang sial, karena ceritanya tidak menarik dan membosankan.

Harap keep smile saja ya. Salam dari dwy dwi dandwi. Dan terima kasih untuk Bismi Jasein, saya juga suka ceritamu dan cerita dari member lainnya yang sudah kenal, tetap semangat menulis ya seperti Gina Fradah.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts