Jasad Terkubur Dalam Rumah

Belum cukup lama aku tinggal di rumah ini, kira-kira baru dua minggu lamanya. Sebuah rumah yang berada di kawasan cukup ternama di kota Bandung. Rumahku ini cukup besar dan dari modelnya, bisa dibilang ketinggalan zaman. Maka dari itu. atas ide ayah tiriku, rumah ini akan dipugar kembali. Ayah tiriku bekerja di dunia pelayaran.

Jujur, sebenarnya aku belum cukup akrab dengannya karena ayah tiriku ini jarang sekali pulang. la membelikan rumah ini sebagai hadiah untuk ibuku. Mekipun berada di daerah yang lumayan elite, harganya bisa dibilang murah. Kondisi rumah ini memang perlu dipugar ulang karena sebagian besar dari bagunannya sudah rusak. Wajarlah, rumah ini sudah kosong hampir tiga tahun, setelah pemilik sebelumnya yang seorang dokter meninggal dunia.

Saat ini, bagian depan rumah sedang dibongkar. Beberapa tukang dengan bor, palu, dan linggis terlihat sedang bekerja keras membobol lantai depan yang batunya cukup keras. Kata mereka, lantai dasar bagian yang tengah ini sangat tebal, berbeda dengan yang di depan-depannya. Aku hanya mengerutkan kening karena kurang mengerti dengan apa yang mereka bilang. Setiap hari setelah para tukang itu pulang di rumah hanya ada aku dan Ibu.

Dapat dipastikan, suasana ketika malam datang sangatlah sunyi. Malam itu, aku berjalan ke dapur, untuk mengambil minuman dingin dari kulkas. Ketika lewat ruang depan yang sedang dibongkar, di dalam gelap, aku melihat ada seseorang yang sedang jongkok di sana. Ternyata masih ada tukang yang belum pulang. Aku pun tak mengacuhkannya dan terus jalan ke dapur. Dari dapur, aku mendengar suara batu yang sedang dipalu. Duh, sudah malam masih aja kerja.

pikirku sambil meneguk minuman. Lama-kelamaan, aku merasa suara itu menjadi terlalu berisik. Aku berjalan ke arah ruang depan lagi. “Pak, bisa besok aja nggak kerjanya? Soalnya sudah malam agak ribut” Loh? Mana orangnya? Saat aku tengok lagi, tidak ada siapa-siapa di ruang depan itu. Padahal, aku begitu yakin pada suara yang baru saja kudengar, pasti ada orang di ruangan ini. Aneh, aku tengok kiri dan kanan, tetap tidak ada siapa-siapa.

Aku periksa pintu depan, ternyata pintunya terkunci dari dalam. aneh, bulu kuduk jadi sedikit berdiri. Langsung saja aku bergegas ke kamar. Esoknya, aku bertanya kepada tukang-tukang yang bekerja, apakah ada yang tinggal atau kembali lagi ke sini malam tadi? Ternyata, jawabannya tidak ada. Mereka mengaku bahwa setelah magrib, tidak ada siapa-siapa lagi di sini. Berarti, yang aku lihat semalam itu siapa?.

loading...

Hari pun terus berganti, dan semua kejadian ganjil itu tetap jadi tanda tanya besar buatku. Hingga sampailah pada suatu malam. Aku ingat sekali, saat itu hari Kamis. Ibuku belum pulang dari bermain bulu tangkis bersama teman-temannya. Saat itu, jam menunjukan 9 malam. Aku sendirian duduk di kamarku sambil mengerjakan tugas. Tiba-tiba, samar-samar terdengar suara yang cukup aneh.

Awalnya, tidak begitu jelas, aku pikir itu suara kucing yang memang suka mengacak-ngacak dapur mencari makan, tapi lama-kelamaan suara itu terdengar jelas, Ini jelas suara tangisan! Suara tangisan seorang bayi. Aku langsung bangkit dan perlahan keluar dari kamarku. Semakin aku berjalan keluar, suara tangisan itu semakin jelas terdengar. Aku sepertinya semakin dekat, Akhirnya aku mendapati tangisan bayi itu pada satu lubang di tengah ruang depan.

Aku terus mendekatinya dan astaga suara tangisan bayinya terdengar semakin banyak, terus bertambah dan bertambah banyak. Merasa takut dan gemetar, sekarang langkahku mulai tidak menentu dan kepalaku terasa pusing. Aku tidak bisa berdiri tegak, Lantai ini sepertinya bergoyang seperti ada gempa. Aku memegang keningku dan berusaha menggapai sesuatu untuk dijadikan tumpuan.

Aku mencoba untuk tetap sadar, “Astagfirullah.. astagfirullah”. Suara tangisan bayi itu pun hilang, tetapi rasa pusing dan gemetaran badan ini masih kurasakan. Sementara, suasana menjadi sangat hening, sampai aku melihat satu sosok anak kecil yang seluruh tubuhnya berwarna hitam. Kepalanya lebih besar dari ukuran normal anak kecil. Sosok itu sedang berjongkok menangis di sekitaran lubang itu, lalu dia melambai Seperti meenyuruhku mendekatinya.

Badanku seperti bergerak dengan sendirinya. Kakiku melangkah dan tanganku bergerak di luar sadarku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, badan ini seperti digerakkan oleh seseorang. Lalu aku mengambil sebuah linggis dan mulai menggali lubang itu lebih dalam. Aku seakan dipaksa untuk terus menggali. Sosok anak kecil itu pun masih terlihat jongkok di sebelahku. Setelah beberapa lama menggali, terlihat seuntai kain terjuntai keluar. Kain lusuh berwarna putih, Badanku yang lemas pun jatuh terduduk di lubang itu.

Kali ini, aku sudah bisa mengendalikan badanku lagi, dan sosok anak kecil itu hilang. Semua menjadi normal kembali. Aku merogoh lubang itu, dan mengambil sebuah gundukan kain putih lusuh dibentuk seperti pocong. Di balik kain itu, terdapat sebuah fisik seperti kepala. Aku juga bisa merasakan tulang-tulang kecil yang terpegang dari balik kain putih itu. Betapa kagetnya aku ternyata ada puluhan kain putih seperti pocong kecil itu tertanam di bawah rumah ini. Dan isi di dalamnya adalah jabang-jabang bayi kecil yang sudah busuk, terbalut kain kafan yang dipocongkan.

Akhirnya malam hari itu pun suasana menjadi heboh. Aku memanggil beberapa tukang untuk membereskan apa yang aku temukan dan menarik kesimpulan sendiri. Aku rasa, dulu dokter yang tinggal di sini membuka sebuah praktik kotor untuk mengugurkan kandungan. Membuang serta menguburkan bayi-bayi malang di bawah rumah ini. Setelah semua itu, masih jadi satu tanda tanya besar untukku. Sosok anak kecil yang aku lihat semalam? Siapa? Sosok itu bukanlah bayi, melainkan sudah memasuki usia anak-anak. Apa mungkin, masih ada satu jasad lagi yang terkubur di bawah rumah ini?.

Share This: