Jurig Jarian

Mungkin kalo lahir di tanah sunda, pasti kenal dengan yang namanya “Jurig jarian” yang jika diartikan ke bahasa indonesia “jurig jarian” berarti hantu yang tinggal di tempat yang kotor. Seperti sungai di belakang rumahku yang merupakan tempat kotor yang belum pernah terjamah sebelumnya.

Entahlah mungkin kalian punya versi sendiri tentang jurig jarian. Namun, sekarang aku akan menceritakan pengalamanku mengenai jurig jarian yang selama ini banyak dibicarakan orang-orang. Waktu itu aku tinggal di daerah Juanda, rumahku yang terletak di belakang sebuah SMA yang berbatasan langsung dengan sebuah sekolah SMP juga.

Disekitar rumahku terdapat sungai yang cukup besar, umurku waktu itu masih belasan tahun. Disaat hujan tiba, aku dan kakak lakiku segera mengambil kail pancing untuk menangkap ikan dari penangkaran bendungan sungai. Sore itu, aku dan kakak sedang sibuk mencari umpan buat memancing ikan. Setelah hujan berhenti aku langsung bersiap, namun ketika akan melangkahkan kaki keluar rumah. Aku dikejutkan oleh suara ibu yang marah.

Dia marah dan melarang kami untuk pergi ke sungai, karena hari sudah maghrib bahkan ibu sempat menakuti kami. Kalo kami pergi ke sungai akan ada jurig jarian, memang waktu itu ibu hanya menakuti tapi tetap saja kami pergi keluar. Kabur dari rumah menuju sungai tanpa menghiraukan apa perkataan ibu. Sejak maghrib berkumandang, saat kami sampai di hulu sungai. Suasana di hulu sungai sangat sepi tidak ada orang.

Bukan nya takut, malahan kami senang karena tidak ada lagi saingan yang mencari ikan. Dan kami berpendapat, kalo ikan yang kami tangkap akan sangat banyak. Malam pun tiba, hari mulai gelap tapi kami masih asyik menangkap ikan sampai angin dingin malam itu bertiup kencang. Tapi sayang nya ikan yang kami tangkap masih sedikit. Jadi kami meneruskan mencari di sekitar hulu sungai, entah apa yang kami pikirkan dan kami tidak takut sama sekali.

Tiba-tiba saja dari arah berlawanan, kami melihat ada orang yang berjalan ke arah kami. Dari silhouetnya kami melihat seperti ibu. Kakak ku langsung naik ke hulu sungai dan kakak menarik tanganku berlari ke arah berlawanan, tapi tiba-tiba bayangan hitam yang tadi aku lihat jauh tiba tiba saja sudah ada di depan kami. Kami panik setengah mati, dan benar saja itu adalah ibu. Tapi ada yang aneh dengan ibu, malah ibu tidak memarahi kami.

Dia hanya menatapi kami dengan tatapan yang kosong, kemudian ibu menuntun kami berdua. Aku hanya terdiam dan begitupun kakak, dia menatap ibu dengan tatapan yang aneh. Kami pun berjalan menyusuri arah sungai dan tanpa kami sadari, kami berjalan melawan arah. Ini bukan jalan ke rumah kami, entah kemana ibu menuntun kami, sampai kakak menyadari hal yang sama.

“Bu, kita ini mau kemana? ini bukan jalan mau ke rumah bu” Dan anehnya lagi, ibu tidak menjawab pertanyaan kami. Dia tetap tidak bergeming sampai kami tiba di sebuah lahan kosong yang penuh dengan pohon pisang dan semak belukar. “Bu ini bukan jalan ke rumah, ayo ibu kita pulang” aku mulai ketakutan, lalu genggaman tangan ibu semakin kuat dan ibu hanya terdiam. Tiba-tiba mukanya menunduk dan melihatku.

Astaga, tatapan ibu sangat menyeramkan. Aku melihat kakak meronta-ronta melepaskan pegangan dari ibu. Tiba-tiba saja wajah dan badan ibu berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan. Sosok seorang wanita tua dengan rambut putih panjang dan kulit yang bersisik. Baju ibu pun berubah menjadi kumal penuh dengan tanah dan darah, lalu bibir wanita itu mulai memanjang sampai ke pipi. Dan dari bibirnya keluar taring yang sangat tajam.

Aku berusaha berteriak dan sekarang aku ditarik berlawanan arah. Kakak berusaha melepaskan cengkraman tangan wanita itu. Aku mulai menangis kencang, sampai sosok wanita itu menjerit-jerit dan dalam beberapa menit sebuah cahaya kilatan petir menyilaukan kami. Kami tidak sadarkan diri, entah apa yang terjadi. Kami tidak tahu apa-apa lagi, dan aku mendengar sayup-sayup bunyi sebuah langkah kaki berlari.

loading...

Badanku berguncang hebat, dan aku membuka mataku. Ternyata aku berada di pangkuan kakak ku, yang sedang membopongku sambil berlari. Dan sesampainya dirumah, kami berdua terkaget-kaget. Aku melihat ibu sedang menangis didalam rumah dan ditemani beberapa warga lainnya. Ketika kami sampai di depan teras, sontak semua mata tertuju kepada kami.
Ibuku langsung memeluk aku dan dia meneriakan nama kami sambil menjerit-jerit ketakutan.

Astaga, setelah kami sadar. Ternyata, kami disembunyikan oleh jurig jarian. Hantu yang suka menyembunyikan anak-anak kecil dan ibuku bercerita kalo kami sudah hilang selama satu minggu. Ibu sudah mencari kemana-mana, tapi ibu tidak menemukan kami. Itu adalah pengalamanku yang paling menyeramkan dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi.

Mungkin banyak orang yang menganggap jurig jari-jarian hanya sebuah mitos belaka. Tapi sumpah, aku pernah mengalaminya dan yang kami rasakan adalah mereka sering menyamar menjadi orang yang sangat kita kenal.

Share This: