Kakek Cangkul Penghuni Rumah Kosong

Pernah nonton film kakek cangkul? Kisah ini juga gak kalah seru sama film horor tersebut. “Tangkap bolanya, Ndah!” Seru Farah pada Indah untuk menangkap bola voli yang dilemparkan oleh Rika, lawan main mereka. Namun sayang, bola melambung terlalu tinggi hingga Indah tak dapat menjangkaunya. Bola pun jatuh, mendarat pada sebuah pekarangan rumah yang telah lama tak berpenghuni.

“Ndah, ambil tuh bolanya!” perintah salah seorang dari mereka.
“Kok aku sih? Rika saja tuh! Kan dia yang melempar bolanya” ujar Indah enggan.
“Tapi kan aku lemparinnya kepada kamu, suruh siapa nggak bisa nangkap!” jawab Rika tak mau kalah.
“Sudah, sudah, biar aku yang ambil” ujar Farah menengahi.
“Kamu berani Far? Mau aku temanin nggak?” tanya Rika menawarkan diri.
“Nggak usah, kalian tunggu disini saja!” jawabnya yakin.

Dia segera berlari ke pekarangan di mana bola itu mendarat. Dengan cepat, dia pun dapat menemukan bola itu. Dia pun dengan segera mengambilnya, lalu kembali. “*Tap, tap, tap” sebuah suara menghentikan langkahnya, dia kembali menoleh, mencari sumber suara itu. “*Tap, tap, tap” suara itu kembali terdengar olehnya, “seperti ada seseorang yang sedang mencangkul, tapi ini kan rumah kosong” Farah bergumam sendiri. Rasa penasaran membawanya untuk mencari sumber suara itu.

“*Tap, tap, tap” suara itu semakin terdengar jelas olehnya. Pelan dia melangkah, semakin mendekati suara itu. Bayangan itu semakin jelas, seorang kakek tua sedang mencangkul di pekarangan rumah itu. Farah menghentikan langkahnya, dia mengamati kakek itu diam-diam. Dia merasakan sesuatu yang sangat mengganjal di pikirannya. Dia pun memberanikan diri, melangkah untuk mendekatinya.

“Farah!”, tiba-tiba saja terdengar suara teman-temannya memanggilnya dengan keras. Dia pun mengurungkan niatnya, dia kembali berlari, berbaur dengan teman-temannya.

“Kok lama banget sih?” tanya Rika dengan mimik wajah setengah kesal.
“Sorry, sorry, ayo main lagi!” ujarnya sembari memain-mainkan bola itu di tangannya.

Sore itu, sepulang dari sekolah dan sempat beristirahat sebentar di rumah masing-masing, mereka kembali bermain bola voli di lapangan yang sama, yang mereka gunakan kemarin, yang terletak dalam kompleks perumahan mereka.

“Aku penasaran deh sama rumah kosong itu” ujar Farah menunjuk rumah kosong itu pada Rika di sela-sela waktu istirahat permainan bola voli mereka.
“Penasaran gimana?” tanyanya menoleh pada Farah.
“Kemarin waktu aku mengambil bola, aku lihat seorang kakek tua sedang mencangkul di belakang rumah itu, Ka” jawabnya menjelaskan.

“Oh, ya? Terus gimana?” tanyanya penasaran.
“Baru saja aku mau menegur, kalian sudah manggil-manggil. Nggak jadi deh” jawabnya.
“Jangan-jangan dia itu hantu kakek cangkul penunggu rumah itu yang sedang menampakan diri” ujar Rika sembari bergidik ngeri.

“Ah, kamu. Mana mungkin hantu gentayangan di siang bolong” ujarnya.
“Mungkin aja kan?”.
“Tahu ah, yang jelas ini aneh bikin aku penasaran”.
“Terus mau kamu gimana?” tanya Rika bingung.
“Besok sore kita selidikin rumah itu, gimana?”.
“Nggak ah, aku takut”.

“Ah payah, nggak akan ada apa-apa kok. Mungkin Kakek itu gelandangan yang nggak punya rumah. Gimana?”.
“Tapi”.
“Sudah, dari pada mati penasaran, ya?”.
“Ya sudah tapi kalau ada apa-apa kamu yang tanggung ya!”.
“Sip!”.

*Kreitz. Farah membuka pintu rumah itu perlahan. Gelap, hanya sinar matahari yang masuk dari celah-celah dinding dan jendela, yang sedikit membantu penerangan dalam ruangan ini. Kesan pertama yang mereka dapat dalam rumah ini, sangat menyeramkan.

“Far, pulang saja yuk” pinta Rika pada Farah.
“Tanggung ah kita kan sudah masuk masa mau pulang” ujar Farah tetap melangkah tanpa ragu. Matanya mengitari seluruh ruangan dalam rumah ini.
“Tapi aku takut Far, rumah ini benar-benar menyeramkan. Mana nggak ada lampunya lagi” ucap Rika memelas.
“Sudah ah jangan brisik! Kamu ikutin aku saja, nggak usah banyak omong!”.

loading...

*Brak! Mereka terlonjak kaget. Dengan spontan mereka membalikan badan mereka, mencari sumber suara tersebut. *Meong.

“Ahh, ternyata cuma kucing” ujar Farah. Keduanya kembali melanjutkan aksinya, mengitari setiap sudut rumah ini.
“Far” panggil Rika pada Farah yang berhasil menghentikan langkahnya.

Namun dia tak menoleh. Pandangan tetap lurus ke depan, mencari sebuah jalan menuju pintu belakang rumah itu.

“Apa lagi?” jawabnya ketus.
“Farah!”.
“Apaan sih? Berisik deh!”.
“Ini apaan di kakiku?”.

Pandangannya beralih ke arah kaki Rika, matanya menangkap sesuatu. Sebuah tengkorak tergeletak di sana. Mendadak bulu kuduknya berdiri, merasakan sentuhan dingin yang datang tiba-tiba. Rika mencengkeram lengannya dengan kuat.

“Ayo pergi dari sini!” ujar Farah sembari menarik lengan Rika. Mereka kembali melangkah pelan, menyusuri lorong-lorong rumah tersebut. *Clak. Farah merasakan sesuatu menetes di bahunya. Langkahnya terhenti, matanya mengamati, perlahan dia sentuh. Air kental berwarna merah. Tubuhnya mulai gemetar. Detak jantungnya berdegup lebih kencang.

“Far, kamu kenapa?” tanya Rika yang menangkap keanehan pada mimik wajahnya.

Farah hanya menatapnya tanpa berkata apapun. Mulutnya seakan kaku. Dia hanya menunjukkan jari-jemarinya yang menyentuh tetesan darah. Rika pun terbelalak, dengan mulut yang menganga, lalu membeku. *Srek, srek. Sebuah suara langkah kaki seseorang yang terseret-seret, menyeruak di ruangan itu. Semakin dekat semakin jelas. Keduanya membeku. Keringat dingin bercucuran di tubuh mereka, saat mata mereka dengan jelas menangkap sosok lelaki tua, dengan pakaian dekil, penuh lumpur, rambut penuh uban, jenggot yang menjulur hingga dada, dengan sebuah cangkul yang dia pikul pada bahunya.

Kakek itu semakin dekat. Hingga wajahnya semakin terlihat jelas. Dia terlihat sangat mengerikan dengan lengan yang penuh lumuran darah. Langkahnya terhenti, saat jaraknya dengan mereka hanya sejengkal. Matanya menatap tajam mereka. Tatapan yang siap untuk memangsa, mencabik-cabik, lalu memakan habis mereka. Mereka berdua tetap diam, tak bergeming. Kaki mereka seakan terpaku, mereka tak dapat berlari. Hanya saling meremas-remas lengan mereka masing-masing menahan rasa takut mereka. Tiba-tiba, Kakek itu mengacungkan cangkulnya hingga posisinya lebih tinggi dari tubuhnya. Tanpa persiapan apapun dari mereka untuk melawan, Kakek itu melayangkan cangkulnya ke arah wajah mereka.

“*Argh!”.
“Ampun Kek, ampun”.
“Far, Farah. Bangun Far” ucap Bu Nani, mamahnya membangunkan Farah dengan menepuk-nepuk pipinya.
“Ampun, ampun, Farah nggak akan lagi-lagi masuk ke rumahmu Kek, ampun!” gumam Farah, masih mengigau.
“Farah, bangun. Ini Mama,” Bu Nani mengeraskan tepukan di pipinya yang akhirnya menyadarkannya dari mimpi buruk itu.

Napasnya terengah-engah. Keringat dingin masih mengucur di tubuhnya, “*huft hanya mimpi” ujarnya lalu kembali membaringkan tubuhnya.

“Kamu mimpi apa sih?” tanya mamahnya penasaran.
“Hah? Eh, *ehm besok pagi saja Ma ceritanya. Farah masih ngantuk mau tidur lagi” ujar Farah yang kembali memejamkan mata. Namun dia hanya berpura-pura. Dia tak dapat tertidur kembali. Bayangan Kakek membawa cangkul itu masih sangat jelas di ingatannya. Saat pagi harinya.

“Mama tahu nggak, rumah kosong yang dekat lapangan bola voli itu?” tanya Farah pada mamahnya yang tengah sibuk menyiapkan sarapan untuknya juga papanya.
“Tahu, memang kenapa?” tanya mamanya heran.
“Mama tahu juga nggak, pemilik rumah itu siapa?” tanyanya lagi.

“*Ehm, denger-denger kata orang sih yang punya rumah itu seorang kakek yang kerjanya menggali kuburan, karena dia kemana-mana selalu bawa cangkul, makanya orang-orang memanggilnya dengan sebutan kakek cangkul” tutur bu Nani menjelaskan.

“Kakek cangkul? Oh, pantas”.
“Pantas? Maksud kamu?” Bu Nani mengernyitkan dahinya, merasa aneh dengan jawaban anaknya.
“Nggak apa-apa kok mah” jawabnya lalu menyantap roti yang telah mamahnya siapkan untuknya lalu pergi bertemu dengan teman-temannya untuk pergi sekolah.

“Far, kamu kok diam saja sih dari tadi?” tanya Rika padanya yang terlihat lebih diam selama perjalanannya menuju sekolah mereka.
“Ah, ya, *ehmm nggak apa-apa kok” jawabnya asal.
“Oh, iya. Nanti sore jadi nggak?” tanyanya lagi.
“Ehm, nggak jadi saja ya?”.

“Loh kok gitu? Kemarin kan kamu yang ngotot?”.
“Ya sih, tapi”.
“Aku tahu, semalam kamu pasti mimpi buruk. Kakek itu datangin kamu lewat mimpi kan? Ya kan?”.

Farah menatapnya heran, dia menghentikan langkahnya, memaksa Rika untuk menoleh ke arahnya, “kok tahu?” tanyanya. Mimik wajah Rika berubah cemas. Dia pun menghampiri Farah, “semalam dia juga datang di mimpiku,” bisiknya.

“Hah? Apa? Kok bisa?” Farah tergagap.
“Mungkin ini peringatan buat kita Far, supaya nggak mengusiknya”.
“Ah, ya. Mungkin kamu benar. Semalam dia sangat menakutkan”.
“Ya, aku juga sampai berteriak keras membangunkan seluruh orang yang ada di rumah”.
“Mama bilang, Kakek tua itu dulu adalah penggali kuburan, orang-orang suka memanggilnya kakek cangkul” jelas Farah.

Rika hanya diam mendengarkan. Mereka kembali terdiam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. *Tap, tap, tap. Suara itu, membuyarkan lamunan mereka. Mereka saling berpandangan dalam diam.

“Far, kamu dengar itu?” tanya Rika, Farah hanya menjawabnya dengan satu anggukan pelan.

Pandangan mereka kini beralih, mengitari seluruh yang ada di sekitar mereka. *Tap, tap, tap. Suara itu kembali terdengar. Pandangan mereka kini beradu. Tubuh keduanya mulai gemetar.

“Far, kok kita bisa disini sih?” ujar Rika dengan suaranya yang gemetar.
“Ini kan halaman belakang rumah kakek cangkul” lanjutnya.

Farah hanya terdiam seribu bahasa mendengarkan celotehan Rika, dia meremas kencang lengan Rika yang telah mencucurkan keringat dingin. Tatapannya mengisyaratkan sesuatu.

“Aku hitung sampai tiga, lalu kita lari sama-sama, ok!” ujarnya berbisik pada Rika. Dia hanya mengangguk setuju pada Farah. Keduanya mulai menarik napas dalam-dalam. “1, 2, 3, lari!”. Sekian terima kasih sudah membaca kisah dengan judul kakek cangkul penghuni rumah kosong.

Friska Vhe

Friska Vhe

All post by:

Friska Vhe has write 9 posts

Please vote Kakek Cangkul Penghuni Rumah Kosong
Kakek Cangkul Penghuni Rumah Kosong
4.7 (93.33%) 3 votes