Kakek itu

Perkenalkan namaku Zayana Indahpuri. Biasanya teman-teman memanggilku Yana. Kali ini aku bakalan cerita tentang pengalamanku dan adikku bernama Naya ya memang aku dan adikku ini anak kembar karena itu namaku Yana dan Adikku Yana. Langsung saja ya ke ceritanya.

Pada hari libur aku dan keluargaku sedang tidak berlibur karena ayah dan bunda sedang sibuk di luar kota aku di rumah berasama pembantuku bu Nana dan tante Icha. Aku merasa sangat bosan di rumah karena tidak ada yang mengajakku pergi. Aku memutuskan untuk mengajak adikku bermain sepeda.aku segera menuju kamar adikku yang ada di lantai 2. “*Tok, tok, tok!” aku mengetuk pintu kamar adikku saat Naya membuka pintu ternyata dia baru bangun tidur siang.

“Naya ayo main sepeda, kakak bosan dirumah” kataku.
“Ya bentar kak baru aja bangun” kata adikku dengan bermalas-malasan.

Aku pergi ke garasi untuk mengeluarkan sepedaku dan sepeda Naya. Setelah menunggu beberapa menit Naya datang dengan sebotol air.

“Loh kok cuma satu botolnya buat aku mana?!” tanyaku dengan nada sedikit kesal.
“Ya tadi sih kak yana nggak minta”.
“Ih perhatian dikit kenapa memang kakak harus minta kan bisa di ambilkan”.
“Ya bentar aku ambilkan”.

Saat adikku mengambil botol air aku menunggu di halaman rumah, tiba-tiba aku melihat seorang kakek membawa karung dan sebotol air yang sudah kotor seperti air selokan. Kakek itu menatapku dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat alias mengerikan. Saat kakek itu lewat depan rumahku aku langsung mencium bau sangat busuk. Aku pikir itu berasal dari karung yang mungkin isinya sampah. Tak lama Naya datang membawa dua botol air, aku memasukan botol airku ke keranjang sepeda dan segera berangkat bermain.

loading...

Di tengah perjalanan aku bertemu temanku yang bernama Shinta. Naya mengajak shinta ikut main sepeda tetapi shinta menolak karena dia baru saja diceritakan oleh ibunya kalau di sini sedang ada seorang kakek yang mencari tumbal anak-anak. Aku langsung teringat kakek yang tadi lewat depan rumah. Aku langsung mengajak Naya pulang ke rumah karena takut terjadi sesuatu, sebelum pulang aku bertanya pada shinta.

“Kok kamu malahan di luar katanya nggak boleh keluar”.
“Aku baru saja akan pulang dari rumah Bunga”.

Bunga adalah salah satu sahabatku. Aku segera mengayuh sepedaku cepat cepat. Sesampainya di rumah aku merasa lega karena tidak bertemu kakek yang diceritakan Shinta. Aku memarkirkan sepedaku dan sepeda Naya di garasi. Aku segera berlari ke dalam rumah saat sudah di dalam tante Icha bertanya.

“Yana kamu ke mana saja tadi?”.
“Oh iya tante aku lupa ijin, aku habis bermain sepeda bersama Naya”.
“Ya sudah sekarang mandi terus makan malam”.
“Iya tante”.

Selesai mandi aku makan masakan bu Nana bersama tante Icha dan Naya. Aku merasa mengantuk karena tadi aku lelah bersepeda. Aku pergi ke kamarku supaya bisa cepat memeluk gulingku yang baru saja dibeli dan masih empuk. Tengah malam aku bangun karena ingin ke kamar mandi, saat keluar kamar aku melihat suasana gelap dan sunyi karena tante Icha dan Naya sudah tidur. Aku menyalakan lampu dan berlari ke kamar supaya bisa cepat tidur lagi.

Setelah selesai aku pergi kekamarku tapi kali ini nggak bisa tidur, tiba-tiba aku teringat kakek yang lewat depan rumah. Aku berkeringat tak bisa tidur, tiba-tiba aku mendengar suara yang serak meminta tolong sambil menangis kesakitan. Aku langsung menutup selimutku lalu angin melewati tubuhku padahal jendela kamarku sudah dikunci. Gorden jendelaku terbuka sendirinya suara serak itu semakin keras.

Aku sedikit menengok ke jendela, aku melihat sesuatu yang mengerikan, aku langsung berlari membuka pintu tapi pintunya tak bisa terbuka. Aku melihat ke jendela lagi, ada kakek yang menembus tembok dengan pakaian berdarah dan wajahnya rusak, pakaiannya juga robek-robek. Dia hendak mencekik, aku langsung lupa semuanya. Pagi hari aku berada di kamar tante Icha dan disana ada Naya.

Tante Icha, dokter dan ada orang pintar, lalu orang pintar itu menuju kamarku dan aku melihat ada botol. Aku teringat botol itu milik kakek tadi malam. Orang pintar itu bilang kakek itu memang sudah mengincarku karena aku sudah menatap matanya lebih dari 3 detik. Orang pintar itu menutup kamarku dan menyarankan untuk tidak nendekati kamar ini, karena kamar ini sudah ada noda-noda yang kotor. Keluargaku meninggalkan rumah ini dan pindah ke rumah keluarga besarku, dan sekarang sudah tidak terjadi apapun lagi.

Zayana Indahpuri

Zayana Indahpuri

Cita cita jadi designer tapi hobinya nulis cerita

All post by:

Zayana Indahpuri has write 3 posts

Please vote Kakek itu
Kakek itu
Rate this post