Kakek Sinting Golok Kembar

Selamat malam sahabat KCH (Kumpulan Cerita Hantu). Selamat malam kang jhon yang sudah publish cerita ini.

“Kenapa aku tiba-tiba berada disini?”.
“Siapa gerombolan baju hitam yang berjalan berbaris di belakangku ini ya?”.
“Sebenarnya aku berada dimana sekarang?”.

Dalam keadaan linglung aku terus bertanya didalam hati, malam itu kulihat bulan sangatlah terang benderang namun sepi sekali suasana malam itu, aku menoleh kebelakang ternyata jalan yang habis kulintasi adalah sebuah bukit. Hah? malam-malam begini, Aku baru saja turun dari bukit? Bersama orang-orang berpakaian hitam-hitam ini? Siapa mereka? Hatiku terus bertanya-bertanya, apa yang sedang terjadi padaku sebenarnya? Di sekelilingnya kulihat ada beberapa rumah-rumah penduduk desa yang saling berjauhan.

“Maaf Ki sanak! Cepat perintahkan kami untuk berjalan lebih dipercepat, karena kita sudah ditunggu banyak orang di padepokan yang berada disana” ucap dari salah seorang berbaju hitam yang berjalan dibelakangku.
“Kita mau kemana?” tanyaku.

“Sudah kami jelaskan, nanti Ki sanak akan tahu”.
“Apa aku ini pemimpin dari kalian?”.
“Iya benar Ki Sanak”.

Setelah sampai ditempat tujuan, seperti sebuah perkumpulan? Padepokan? Perguruan? Aku gak tahu apa namanya itu. Aku melihat banyak sekali orang-orang yang berpakaian hitam-hitam, kelompokku duduk semua bersila, ratusan kelompok-kelompok lainnya pun sudah duduk bersila lebih dahulu.

Aku pun ikut duduk bersila, saat aku melihat ada seorang kakek berbaju hitam berdiri ditempat ketinggian, sambil tolak pinggang, matanya sayup dan tajam, memperhatikan kami semua yang datang ditempat tersebut. Sambil cengengesan kakek tersebut loncat kesana kemari, sambil menatapku, sepertinya dia mengenali aku, pikirku saat itu.

“Hai anak bodoh sampai juga kau kesini? *Kekekek”.
“Aku bingung jawab apa sama kakek itu, yang aku anggap kakek itu tidak waras sinting”.
“Cepat terbanglah kemari anak bodoh *kekekek, kita bertarung diatas sini, bentaknya”.

Dari atas tempat kakek itu berdiri. Dia langsung menghampiriku salto diudara dan meraih kedua tanganku, mengajakku bertarung di udara.

“Aku kaget kenapa aku gak jatuh ditanah? Ketika tanganku dipegang kakek sinting itu, *haha lucu juga, aku bisa terbang di udara”.
“Kenapa kau melamun anak bodoh?” bentak kakek sinting itu.
“Cepatlah serang aku! Apa aku yang menyerangmu lebih dahulu” lanjutnya.

Kakek sinting itu terlihat geram, seperti semangat sekali ingin menghabisi nyawaku, dikeluarkanya dua golok dari ikat pinggangnya. Lalu melesat salto di udara, sambil memutar-mutarkan dua golok ditangannya. Mulailah dia menyerangku. “*Hiat, rasakan ini anak bodoh”. *Trang, trang, trang beraduan suara golok milik kakek sinting itu. Aku hanya bisa menghindar dari serangan-serangan kakek sinting itu, dan tidak membalas sedikit pun.

loading...

“Kenapa kau tidak membalas seranganku anak bodoh? Apa kau tidak sudi menjadi keturunanku”.
“Ha? Apa? Aku keturunan dari kakek sinting ini?”.
“Maaf kek, aku tidak bisa berkelahi, aku gak mau berkelahi nanti akan banyak musuhku”.

“*Kekekek! Memang kau benar anak bodoh, tapi aku tidak salah pilih, memilihmu menjadi keturunanku yang paling bodoh *kekekek”.
“M*mpus kau kali ini *hiat! Angin pun ikut bertiup kencang, dengan gerakan jurus golok kembarnya kakek sinting itu”.

“Aku mulai keringat dingin serta ketakutan, melihat tingkah kakek sinting ini yang sungguh-sungguh ingin membunuhku, bisa putus kepalaku kena golok kembarnya itu, jurus golok kembarnya membuat jantungku berhenti berdetak, dan rasanya aku mau buang air dicelana saja *hihi”.

Kakek sinting itu terus menggila salto-salto di udara sambil terus menerus menyabetkan kedua golok kembarnya kebadanku, tetapi aku terus menghindar dari serangannya, dengan posisi badanku tetap diam dan tidak bergerak.

“Ampun kek, aku sangat takut menghadapimu kek, aku tidak berbohong kepadamu kek. Sungguh aku tidak bisa berkelahi, keringatku terus mengucur deras, karena ketakutan dengan tingkah laku kakek yang tidak waras itu”.
“Bagaimana kau bisa menjaga dirimu sendiri, juga menjaga orang lain, bila sikapmu seperti ini anak bodoh?”.

“Aku pun tidak mengerti kek, bagaimana kehidupanku selanjutnya, tak terasa air mataku meleleh, aku usap air mataku karena aku sangat sedih, bila suatu saat aku tidak berguna untuk orang banyak”.
“Kemarilah nak peluklah aku, sekarang kau tak perlu takut lagi padaku”.

“Ucaplah bismillah”.
“Baik kek, bismillahirrohmanirrohim”.

Saat berpelukan kami pun berdua menghilang dalam sekejap, ditengah-tengah ratusan murid-murid kakek sinting malam itu. Jangan pernah baca ini sendirian!
Facebook: Salim.

Salim

Salim

“,…Daku menuliskan kisah dari dimensi lain tanpa pena serta tanpa lampu”.

Hal yang aku senangi ialah tertawa, juga menghindar dari keramaian. Aku begitu bahagia bersembunyi di tempatku yang gelap, karena orang lain tidak dapat melihatku, dan aku sangat mudah melihatmu di tempat yang terang.

Terima kasih yang sudah membaca ceritaku !!

FB : Sa Lim.

All post by:

Salim has write 31 posts

Please vote Kakek Sinting Golok Kembar
Kakek Sinting Golok Kembar
Rate this post