Kakek Tua

Ada 5 orang anak yang bernama Chika, Sany, Rio, Kito dan Doni. Mereka adalah teman sejak kecil sampai mereka SMA. Mereka selalu bersama. Pada saat itu mereka berencana untuk pergi berkemah. Mereka sempat berdebat untuk memilih tempat kemah mereka. “Eh gimana kalo tempat yang sering di omongin soal hantu gitu?” Usul Rio. “Ah enggak ah, gw takut kalo tempat yang ada hantunya!” Teriak Chika.

“Iya sih kenapa gak ke hutan dekat sungai di sana, itu kan juga di kenal angker” jawab doni. “Nah, iya tuh kesitu aja!” kata Kito. “Tapi gw takut To!” jawab Chika. ” Ah udah gak apa apa kan kita rame-rame” kata Sany. “Ya udah deh” jawab Chika. Mereka pun berangkat ke hutan yang di tuju. Saat sampai di sana, mereka di sambut dengan aura mistis yang ada di hutan itu. Mereka pun tetap melanjutkan perjalanan.

Mereka pun menemukan tempat yang tepat untuk mendirikan tenda. Saat sudah sore mereka memasak makanan untuk makan malam. “To, cari kayu buat bakar ya” kata Chika. “Ok, siapa yang mau ikut sama gw?” jawab Kito “Gw aja deh, kali aja gw nemu buah di hutan” jawab Sany. Chika dan Kito pergi mencari kayu bakar. Diperjalanan entah kenapa Sany kaget, bercampur takut. Kito pun bingung dan heran saat melihat Sany.

“Lu kenapa ny?” Tanya Kito. “iitu..!!” Jawab Sany sambil terengah-engah. “itu apaan sih?!”. Sany pun menujuk ke arah belakang Kito. Dan betapa kaget nya dia (kito) saat melihat seorang kakek tua membawa kapak berkarat yang berlumur darah sambil menyeret sebuah kepala tanpa badan yang berlumur darah. Mereka berdua pingsan di tempat karena kaget.

Saat terbangun, Kito melihat dirinya dengan 4 temannya di ikat ke sebuah pohon. Mereka tidak sendiri. Di sekitarnya ada sekumpulan mayat yang tergeletak tanpa kepala. Saat itu juga datang seorang kakek yang membawa kapak sedang memegang kepala Rio. Betapa kagetnya Kito saat melihat itu. Dia pun meronta ronta sambil mencoba kabur. Tapi dia terlambat. Kakek itu sudah melihat dia dan mendekatinya. Kakek itu berkata “Semua teman mu sudah mati.

Giliranmu untuk di penggal. Walaupun kamu berhasil kabur, aku akan tetap menghantui kamu. dimanapun dan kapanpun, jangan pernah membuka sebuah surat hitam. jika kau melihatnya. aku akan datang membawa kapak darah ini untuk mengambil giliranmu”. Kakek itu memenggal kepala Kito dengan kencang sampai darah terciprat kemana-mana.

loading...

Entah kenapa. Kito terbangun dengan kaget bercampur panik. “ternyata cuman mimpi!” Teriaknya. lalu tanpa sadar di mejanya terdapat surat hitam seperti kata kakek itu. karena curiga, dia pun membuka surat itu dan surat itu bertuliskan darah dengan tulisan.”Kini giliranmu sudah tiba!!”. Tanpa di sangka dia melihat ke arah pintu dan melihat seorang kakek dengan membawa kapak darah sambil memegang kepala kedua orang tuanya dengan wajah yang tersenyum manis dan mata yang putih kosong.

Share This: