Kalung Pembawa Petaka

Hai namaku fifi, aku akan bercerita tentang sebuah kalung pembawa petaka. Pagi itu seperti biasa aku lari keliling komplek untuk menghangatkan badan, tanpa disengaja aku menginjak sebuah benda yang ternyata itu adalah kalung, aku melihat sekeliling tetapi keadaan masih sepi karena baru pukul 5 pagi. Aku mengambil kalung itu dan duduk dibawah pohon beringin besar yang ada di pinggir jalan menunggu jika ada orang yang mencari kalung itu.

Dua jam menunggu tapi tidak ada satu orang pun yang lewat jalan itu, entah kenapa jalan yang biasanya dipadati kendaraan lalu lalang tiba-tiba menjadi seperti jalan mati tanpa ada satu pun orang yang lewat. Aku melihat kalung itu, aku baru sadar ternyata liontinnya berbentuk huruf f sama seperti namaku, mungkin liontin itu dibuang pemiliknya dan beruntung aku yang menemukannya pas dengan namaku. Aku lalu memasukkan kalung itu kedalam saku.

Sampai rumah aku menuju kamar dan langsung mengambil kalung itu dari saku, aku mencoba memakainya tapi tiba-tiba hawa dingin masuk dan entah kenapa bulu kuduk ku langsung berdiri setelah kalung itu terpasang di leherku. Kemudian aku melihat ke kaca kalung itu memang sangat indah aku tidak akan melepas kalung itu, saat aku melihat kaca lagi dibelakangku ada seorang wanita dengan wajah pucat menatap ke arahku. Aku terkejut dan melihat kebelakang, tapi tidak ada siapa-siapa, aku mulai ketakutan dan berlari keluar.

loading...

Malam gelap gulita, hujan turun menambah suasana semakin menyeramkan. Aku duduk di teras rumah sambil membayangkan kejadian siang tadi, sebuah pertanyaan muncul dari pikiranku “Siapa cewek tadi, kenapa dia muncul disaat aku memakai kalung itu, apa dia pemilik kalung sebelumnya, apa dia sudah meninggal, apa dia datang untuk mengambil kalungnya kembali?”. Semakin di fikir aku semakin takut, lalu tanpa sengaja aku melihat ke sebuah pohon besar disamping rumah.

Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat dibawah pohon itu ada gadis yang muncul dikamarku waktu itu. Dia melihat kearahku dengan tatapan kosong, aku mencoba memberanikan diri menatap gadis itu dalam-dalam. Astaga gadis itu ternyata tidak menapak di tanah dia melayang jadi dia hantu, aku langsung terduduk lemas dan tidak sadarkan diri.

“Kembalikan kalungku” Kata gadis itu.
“Kamu siapa? kenapa kamu mau mengambil kalung ini?” Kataku sambil memegang kalung itu erat-erat.
“Itu kalungku, kembalikan atau kau akan mati” Kata gadis itu dengan tatapan tajam dan tiba-tiba wajahnya berubah mengerikan dan berlumuran darah kemudian semakin mendekat semakin dekat dan langsung mencekik.

“Tidak, jangan!!!”.
“Fi bangun, fifi!”.
“Jangan!!!” Aku terbangun dengan keringat bercucuran.
“Kamu kenapa Fi?” Tanya mama cemas.
“Aku mimpi buruk ma” Kataku langsung memeluk mama sambil menangis.
“Kamu tenang ya, itu cuma mimpi” kata mama menenangkan.
“Tapi mimpi itu rasanya begitu nyata ma, aku takut!”.

“Tenang ya, kamu kenapa sampai pingsan begitu, kamu sakit?”.
“Tadi aku melihat hantu di pohon samping rumah kita ma”.
“Mungkin itu cuma halusinasi kamu aja” kata mama.
“Enggak ma, tadi itu beneran”.
“Ya sudah, kamu tidur lagi ya?”.
“Nggak, malam ini aku tidur dikamar mama ya, aku takut”.
“Ya sudah, kamu boleh tidur sama mama”.

Hari ini aku berniat ingin membuang kalung itu, semoga setelah kalung itu aku buang semuanya akan berakhir. Aku langsung melempar kalung itu ke tempat aku menemukannya sebelumnya. “Kalung kamu sudah aku kembalikan, jangan ganggu aku lagi” Kataku sambil pergi meninggalkan tempat itu. Malam harinya, kenapa aku nggak bisa tidur, ku lihat sudah jam 1 malam kenapa susah sekali memejamkan mata.

Aku terus memandangi jam berharap bisa cepat tidur, namun tiba-tiba aku mendengar suara merintih minta tolong. Suaranya lirih namun sangat mengerikan, aku langsung berlari kekamar mama, untungnya pintunya nggak dikunci, jadi aku langsung masuk dan tidur disebelah mama.

“Tolong aku, tolong?”.
“Kamu siapa?” tanyaku.
“Tolong bakar kalung itu agar aku bisa pergi dengan tenang” Katanya memohon.
“Kenapa, kenapa aku harus membakar kalung itu?”.
“Karena aku sangat tersiksa” Kata gadis itu kemudian menghilang.
“Tunggu, jangan pergi!”.

“Fi bangun, kamu mimpi lagi?” Suara Mama langsung membangunkanku.
“Iya ma, tapi ini lain sepertinya gadis itu meminta tolong supaya aku membakar kalungnya”.
“Kalung apa sih?” Tanya mama ingin tahu, aku langsung menjelaskan semuanya ke Mama, entah kenapa mama langsung menjadi pucat dan wajahnya berubah tegang seperti ada sesuatu yang disembunyikan.

Besoknya, aku kembali ketempat aku membuang kalung itu. Aku mencari kalung itu namun tidak menemukannya, aku terus mencari dan akhirnya aku menemukannya. Saat aku ingin mengambil kalung itu tiba-tiba kalung itu melayang dan berpindah ke leherku, kalung itu tidak bisa aku lepas. Semakin aku mencoba melepas semakin kalung itu mencekik ku. Aku menjerit-jerit minta tolong, kemudian ada seseorang yang menghampiri aku dan ternyata itu adalah mama.

Entah kenapa mama bisa ada disini lalu mama langsung membantuku melepas kalung itu tapi tetap saja kalung itu tidak bisa lepas. Kemudian mama memohon dan minta tolong agar aku bisa terlepas dari jeratan kalung itu, mama juga sempat mengatakan bahwa aku ini adalah adiknya. Mama meminta jangan membawa aku bersamanya karena mama nggak ingin kejadian yang sama terulang lagi. Aku nggak tau maksud mama apa tapi setelah mengatakan itu kalung itu bisa terlepas.

Aku langsung membuang kalung itu ke tanah dan mama langsung menumpahkan bensin yang dibawanya ke kalung itu kemudian langsung membakarnya. Aku bersyukur bisa terlepas dari kalung petaka itu, saat aku melihat kalung yang terbakar itu aku seperti melihat sosok perempuan waktu itu tersenyum padaku, aku lalu membalas senyumannya. Kemudian aku menanyakan ke mama kenapa mama bisa ada disini dan kenapa kalung itu bisa terlepas setelah mama memohon untuk melepaskan jeratannya, aku terus membujuk mama untuk mengatakan yang sebenarnya sampai akhirnya mama mau menceritakan.

“15 tahun lalu sebelum kamu dilahirkan ada kejadian tragis yang menimpa kakak kamu. Kakak kamu menderita sakit yang sangat parah dan tidak bisa disembuhkan, penyakit itu tergolong langka mama dan papa sudah membawa kakak kamu berobat kemana-mana tapi tetap saja tidak ada hasilnya. Kami hampir putus asa, lalu ada orang pintar yang mengatakan kalau penyakit yang diderita kakak kamu itu disebabkan oleh kalung yang ditemukan kakak kamu dijalan. Kalung itu sudah terkena kutukan dan kakak kamu memakai kalung itu akibatnya dia jadi terkena penyakit yang mematikan itu. Kami lalu membuang kalung itu dan saat kami ingin membakarnya kalung itu tiba-tiba menghilang. Tidak lama kemudian kami mendengar jeritan kakak kamu dari rumah setelah kami lihat ternyata kakak kamu sudah meninggal dengan sangat mengenaskan, kata orang pintar kakak kamu menjadi tumbal dari kalung itu. Rohnya masih terperangkap dikalung itu dan tidak bisa keluar, kalau ada orang yang menemukan kalung itu dan berhasil membakarnya maka roh-roh yang terperangkap di kalung itu bisa terlepas dan pergi dengan tenang”.

“Jadi sebenarnya aku mempunyai kakak ma, kenapa mama baru cerita kejadian ini sekarang?”.
“Mama sudah melupakan kejadian ini tapi saat kamu menceritakan tentang kalung itu mama teringat kembali kejadian masa lalu yang sudah menewaskan kakak kamu. Jadi mama mengikuti kamu dari belakang dan ternyata dugaan mama benar, untungnya kamu tidak telat membuang kalung itu dan kamu tidak bernasib sama seperti kakak kamu, mama bersyukur kamu selamat sayang”.

Kata mama sambil memeluk aku. Aku bahagia bisa terbebas dari kalung petaka itu, namun disisi lain aku sedih kenapa aku baru tau kejadian ini sekarang, jadi sosok perempuan yang ada dimimpiku dan meminta tolong untuk membakar kalung itu mungkin adalah kakak ku dan yang tersenyum tadi adalah kakak ku yang ingin mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan.

Share This: