Kamar Kost Paku Alaman

Jogjakarta, Maret 2012. Saat itu saya ditugaskan untuk pembenahan sistem cabang dari pusat perusahaan yang ada di Jakarta, saya tidak begitu kenal dengan daerah ini. Yang saya tau saat itu saya hanya di drop sementara dan diberi waktu dua minggu untuk pemenuhan target pekerjaan saya. Hari pertama dan kedua saya masih tinggal di hotel, seingat saya waktu itu nama daerahnya adalah paku alaman.

Hari ketiga bosa dan tim implementasi lain berangkat ke bali dan surabaya untuk expand market area dan saya ditinggal sendiri sedangkan budget untuk menginap hanya saat bersama tim lain. Otomatis saya segera mencari tempat tinggal sementara tetapi tidak bisa terburu-buru karena siangnya saya masih disibukan oleh pekerjaan saya di kantor cabang ini.

Kamis jam 7 malam, pekerjaan selesai. Saya mulai sibuk memikirkan tempat tinggal sementara, cukup bingung karena ini tempat yang baru bagi saya. Beberapa teman dari divisi kolektor menawarkan bantuan untuk mencari tempat. Singkat cerita saya berdua dengan seorang kolektor berputar-putar area disekitar kantor mencari tempat tinggal sementara sampai jam 10 malam.

Akhirnya kami menemukan tempat tersebut yaitu sebuah kost-kostan 6 kamar dengan konstruksi rumah induk didepan dan sebuah gang kecil sempit sejauh 10 meter kedalam menuju kamar kost nya. Dengan harga yang cukup murah (jogja keren gitu loh). Akhirnya saya mendapatkan sebuah kamar nomor 3 dari urutan terdepan, posisi kamar mandi umum, ada diujung deretan kamar.

Tapi untuk mendapatkan kenyamanan memang butuh perjuangan, kamar yang saya tempati tidak ada lampu, kasur dan lemari sebagai standar kelengkapan kamar kost. Dengan ditemani ibu kost (saya tidak sempat bertanya namanya) kami membuka sebuah kamar paling ujung yang berhadapan dengan tempat mencuci piring dan baju. Saat itu kamar dikunci dari luar, saat dibuka untungnya masih ada kasur dan lampu yang selanjutnya kami pindahkan ke kamar yang siap saya tempati.

Setelah proses pasang lampu dan merapihkan kasur dikamar saya. Si ibu kost dengan tersenyum ramah pamit kepada saya dan tak lupa beliau mengunci pintu kamar yang tadi sempat kami masuki untuk mengambil lampu dan kasur. Setelah berbaring sebentar dan menanggalkan baju, saya keluar sambil membawa perlengkapan mandi (niatnya mau mandi), waktu itu saya ingat sudah jam 23.00 lewat.

Sekedar info, posisinya adalah : keluar dari kamar, letak kamar mandi itu disebelah kanan saya paling ujung setelah melewati 4 kamar kost yang lain. Yang saya baru sadar semuanya kosong dan gelap, sampai disini saya masih merasa santai saja. Pelan-pelan saya berjalan menuju kamar mandi dan menyelesaikan urusan membersihkan badan dalam waktu singkat.

Keluar dari kamar mandi, saya sempat kaget dan teringat waktu saya berjalan kekamar mandi. Seingat saya kamar yang tadi saya dan ibu kost buka itu kan sudah terkunci dan tertutup pintunya. Tapi kok sekilas tadi terbuka lagi ya?. Info tambahan : kalau keluar dari kamar mandi, kamar itu urutan kedua dari sebuah kamar arah sebelah kanan saya. Dan saya lirik dengan ekor mata saya, pintu itu memang terbuka! Sekitar seperempat bukaan.

loading...

Mulai dari situ perasaan saya sudah mulai tidak enak, dengan perlahan saya berjalan kembali ke arah kamar saya sambil terus melirik kearah pintu yang terbuka itu yang entah kebetulan atau tidak. Selang sepersekian detik semakin terbuka lebar, saya mulai merasakan efek dan indikasi ketakutan, langkah terasa berat, nafas tersengal, jidat dan tengkuk mulai terasa dingin.

Beberapa langkah lagi menuju pintu kamar saya, saya sempat menghentikan langkah dan terus memaksa diri menatap pintu yang (terbuka lebih lebar) saat saya terpana. Tiba-tiba tanpa ada angin apapun, *brakk! Pintu itu tertutup dengan keras seperti ada dorongan cepat dan kuat dari bagian dalam kamar itu yang sengaja menutupnya.
Saya tersentak dan tersadar, akal sehat saya langsung memberitahukan saya bahwa itu bukan hal lumrah yang bersahabat.

Maka saya berlari dalam beberapa kali lompatan langsung masuk kamar saya dan menutup pintu cepat-cepat. Saat itu saya benar-benar ketakutan dan segera berpakaian lengkap lalu tidur dengan rasa was-was. Pagi hari, saat saya membuka pintu kamar dan masih teringat kejadian semalam. Saya memberanikan diri memeriksa kamar semalam, saya periksa pintunya, terkunci rapat! Saya coba lihat kedalam, tidak ada yang aneh dan saya pun tidak ingat kalau memang ada yang berubah dari sebelumnya.

Saya berniat menceritakan nya ke ibu kost namun beliau sedang tidak ada dirumah kata suaminya sedang pergi ke pasar berbelanja. Belajar dari pengalaman malam itu, saya berusaha untuk pulang dari kantor tidak terlalu malam, paling malam jam 8 malam. Hari ke-4 di kost an ini, malam itu saya sibuk dengan pengerjaan laporan progres cabang yang mesti saya kirim via email ke atasan saya malam itu juga yang artinya memaksa saya untuk lembur. Saat itu saya lihat jam di laptop tua saya, jam menunjukkan pukul 23.45 dan saya kembali teringat peristiwa beberapa malam yang lalu.

Saya mencoba cuek dan fokus ke pekerjaan. Sambil tengkurap di kasur dan asik mengutak atik data di laptop saya tiba-tiba terdengar suara seperti sesuatu yang cukup ringan sedang di seret- seret. Saya terdiam dan mematung, efek ketakutan kembali saya rasakan tetapi bedanya saya sudah didalam kamar, sedikit aman rasanya, tapi tetap saja jantung saya berdegup kencang. Saya menengadahkan kepala saya ke atas, melihat celah lewat jendela kamar. Saya berharap melihat sesuatu yang normal, tetapi gorden nya tertutup.

Saya terus menajamkan pendengaran, suara itu semakin dekat dengan pintu kamar saya. Perlahan dengan mental yang mulai tercerai-berai saya memberanikan diri merangkak dengan niat mengintip lewat celah antara daun pintu dan lantai. Saya menunggu, semua indera yang saya punya berusaha saya maksimalkan terutama mata dan telinga saya. Perlahan tapi semakin jelas, suara itu semakin mendekat dan pelan-pelan saya bisa melihat dengan jelas, warnanya hitam, berhelai-helai, bergerak lambat dengan gerakan menyapu pelan.

Sangat pelan bahkan, itu semacam sapu ijuk, akal sehat sehat saya langsung lega dan memberikan penenang bahwa itu adalah seseorang yang sedang menyapu pelataran kamar kost- kostan ini. Tapi jam segini? orang waras mana yang menyapu lantai luar nyaris ditengah malam? lagi pula dari semua kamar ini cuma kamar saya yang saat ini ditinggali. Tiba-tiba saya kembali teringat peristiwa pintu di beberapa malam yang lalu, saat itu pula saya tersadar dan dengan cermat mengamati sapu ijuk itu.

Tidak! Itu bukan sapu ijuk! Itu rambut! Panjang, kasar dan berserakan dan bergerak seperti sapu. Ya Tuhan, saya mendadak lemas saat itu, bahkan telapak tangan saya ikut bergetar. Efek ketakutan ini jauh lebih hebat, lebih menyergap dibanding peristiwa pintu beberapa waktu lalu karena jelas. Saya merasakan jarak yang sangat dekat dengan kejanggalan itu, saya hanya dipisahkan pintu dari kejanggalan itu. Hanya beberapa centimeter, tak terasa pipi saya tertempel ketat di lantai tegel kamar itu.

Saya mencoba berdoa, tapi apa daya, ketakutan yang porsinya lebih besar membuat doa saya hanya terulang-ulang pada ayat ke tiga dari ayat kursi kembali ke ayat pertama dan begitu seterusnya. Saya benar-benar shock dan akhirnya sebelum rambut-rambut itu pergi entah kemana, pandangan saya gelap dan saya pun tidak sadarkan diri. saya tersadar saat hari sudah terang dan saya merasakan tubuh saya benar-benar tidak enak, orang bilang sih meriang, walhasil hari itu saya tidak masuk kerja.

Setengah hari itu saya hanya berbaring ditempat tidur tanpa makan minum sambil terus mengingat kejadian semalam. Saya baru keluar saat sebuah suara perempuan memanggil nama saya dan saya ingat itu suara ibu kost yang memang logatnya khas wanita jawa. Taksiran saya sih beliau berumur sekitar 55 tahunan, mendengar suaranya saya merasa sedikit lega dan lebih merasa enteng.

Saya membuka pintu dan dan bercakap-cakap dengan beliau dan pembicaraan akhirnya sampai pada pengalaman saya selama di kostan ini. Dalam mendengarkan cerita saya beliau hanya sesekali tersenyum dan cuma bilang “ya sudah, gpp tho, kan mas getta masih baik-baik saja tho?”. Waduh benar-benar deh si ibu santai banget. Hari-hari selanjutnya berlalu tanpa kejadian apa-apa, dalam hati saya membenarkan ucapan ibu kost. Ya ada benarnya juga, toh sampai sekarang saya masih baik-baik saja.

Hari ke-8 saat itu saya dapat kejutan, sepulang dari sebuah acara di ambarukmo plaza waktu itu jam 11 malam. Saya dikagetkan dengan adanya seseorang yang sedang melukis didepan pintu kamar kost yang bersebrangan menyamping dengan kamar saya (saya kok baru tahu kamar itu ada penghuninya, selama ini kemana saja itu orang?). Dilihat dari gayanya pasti mahasiswa jurusan seni atau tepatnya seni rupa, dia tersenyum melihat saya dan sedikit berbasa basi. Saya pun menanggapi dengan orbolan ringan, didorong rasa penasaran, saya mulai menyinggung topik tentang pengalaman saya disini tentang kejadian menyeramkan itu.

Si mahasiswa itu menanggapi cerita saya sambil terus melukis tetapi saya bisa menangkap kalau dia lumayan tertarik dengan cerita saya. Setelah saya selesai cerita, dia meletakkan kuas nya sambil menyeruput minuman dari gelasnya yang kalau dari aromanya itu adalah segelas kopi. Dia bilang begini “mas nya lihat itu?” (sambil menunjuk sebuah batang kayu tua sebesar paha kira-kira sepanjang satu setengah meter yang tergantung dengan dua utas tali seperti sebuah ayunan tetapi menempel rapat ke tembok yang mengelilingi kost- kost an ini).

Saya terbengong karena baru sadar akan keberadaan kayu itu, dia melanjutkan “Nah, disitu tempat dia duduk mas, mas kan pendatang baru, pasti mas nya gak ijin sama dia ya atau ndak bertegur sapa lah dengan dia?”. Saya semakin bingung, dia? dia siapa? memangnya saya mesti ijin kepada orang yang saya sendiri belum pernah saya temui?. Selanjutnya saya bertanya ke mahasiswa tadi “dia siapa mas? maaf mas bro saya dari dulu tidak terbiasa dengan dunia aneh-aneh dan takhayul, makanya saya agak bingung”.

Sesaat setelah saya bertanya seperti itu, si mahasiswa hanya diam sambil memandang sedikit kaget dan ketakutan ke arah saya kemudian tanpa berkata apa-apa dia membereskan alat lukisnya dan masuk ke kamarnya lalu menutup pintu rapat-rapat. Wah orang yang aneh pikir saya, tapi saya berusaha santai kemudian masuk kamar saya sendiri untuk bersiap-siap mandi dan saat itu jam HP saya menunjukkan pukul 23: 20 malam. Bah! Kenapa selalu sadar lihat jam selalu di jam sebelasan, ada sedikit perasaan tidak enak.

Kembali saya memandang pintu horor waktu itu, hmm tak ada apa-apa kok. Lalu dengan santainya saya membuka baju dan celana lalu berhanduk ria tak lupa membawa HP saya sambil berjalan kekamar mandi dengan sebelumnya menutup dan mengunci rapat pintu kamar saya sendiri. Lalu berjalan ke kamar mandi sambil bersiul santai berharap suasana tetap baik- baik saja dan terkendali.

Selesai mandi tiba-tiba hp saya berdering, ternyata si bos, ketika saya tekan tombol hijau dan menempelkan hp ke telinga. Saya langsung terdengar suara cempreng bos saya “gettaaa, saya sudah di jogja lagi ya? dihotel kemarin, kamu segera kesini aja biar besok pagi-pagi bisa langsung balik ke jakarta dan gak perlu repot-repot nunggu kamu beresan, oke? saya tunggu gak pake lama”.

Saya bengong, dadakan banget, saya sempat berargumen “sudah malam bos, gak enak mau bangunin ibu kost pamitan lagian kan masih gerimis ini” si bos menanggapi “ya sudah” klik tutt, komunikasi diputus sepihak oleh si bos. Saya berjalan pelan membuka kunci pintu kamar, masuk dan menutupnya kembali kemudian berpakaian kaos dan celana pendek. Saya merebahkan diri berniat segera tidur karena lelah dengan posisi miring menghadap tembok membelakangi pintu.

Antara sadar dan tidak sayup-sayup saya seperti mendengar suara orang bercakap-cakap di depan kamar saya. Dari nada pembicaraannya seperti dua orang yang sedang bernostalgia, wah selarut ini? mungkin si mahasiswa sedang disambangi teman lamanya ya? whatever deh, dengan malas saya meraih hp dan melihat jam, hah? masih jam 23.20 malam? masa iya? saya mandi saja sekitar 5 menit, ngobrol di hp 2-3 menit, lalu beres-beres berpakaian dan terlelap? dan saat itu saya mulai di sergap rasa takut kembali sambil berusaha mengingat.

Saya salah apa sih kalo memang ini gangguan yang lain nya? suara bercakap-cakap itu timbul tenggelam, tapi jelas didepan kamar saya. Keringat dingin mulai membasahi jidat dan leher, pundak saya terasa dingin sekali, jantung berdetak tidak karuan. Pelan-pelan saya membalikkan badan diatas kasur saya dan memandang ke arah pintu bersiaga jika saja kenyataan yang terburuk pintu itu akan didobrak dari luar dan makhluk pembanting pintu atau perayap rambut itu menyerbu masuk kedalam.

Saya menunggu, tiba-tiba suara bercakap-cakap itu lenyap seketika! Wajah saya sesaat kembali hangat, tetapi hanya sesaat, wajah saya kembali kaku menyaksikan sesuatu yang diluar akal sehat. Sama tidak sehatnya dengan jam hp yang masih saja menunjukkan 23.20 malam! Ya, disitu. Jarak sekitar 30 cm dari pintu bagian bawah, dilantainya, berceceran benda mirip sekali dengan paku kecil seukuran paku triplek dan jelas berkarat dan bertabur semacam pasir.

Tercecer dalam koordinasi yang rapih, membentuk garis lurus dari dinding sampai kepinggir kasur saya yang posisinya mengampar dilantai. Dan paku-paku berkarat itu tersusun sangat rapih dengan arah mata tajamnya mengarah ke arah saya. Sumpah, saat itulah saya benar-benar shock sampai bergetar hebat, demi menjaga kemungkinan buruk. Saya segera terlonjak dengan hp yang masih saya genggam, saya terlonjak ketakutan kesudut ruangan.

Ketakutan seperti anak kucing yang terpojok sambil terus menatap paku yang tersusun itu, saya masih sempat istighfar berkali-kali sampai akhirnya saya langsung berinisiatif. Klik tombol hijau, sorot log panggilan dan tekan telpon dan diangkat dari seberang sana “Bb, boss, boss jemput saya sekarang juga! Sekarang” hening tak ada jawaban padahal sudah diangkat. “Boss?” dan yang terdengar kemudian adalah sesuatu yang sangat saya tidak harapkan.

Di hp itu terdengar lamat-lamat secara sayup, suara percakapan yang sama dengan di depan kamar saya sebelumnya. Dengan cepat saya klik tombol merah hp saya dan tertegun demi melihat paku-paku itu sudah menghilang tanpa bekas. Saya mengusap wajah saya yang baru saya sadari sudah basah oleh keringat, saya sedikit tenang meski tetap gemetaran. Saya berfikir kalau waktu itu hanya peristiwa pintu jauh dari kamar saya, kemudian rambut didepan pintu kamar saya dan sekarang sudah masuk kedalam kamar.

Tidak menutup kemungkinan besok-besok saya sudah dalam pelukan oleh entah apa itu. Dia semakin dekat, ya saya teringat dengan ucapan mahasiswa tadi. Dia, mungkinkah dia? ya bisa jadi dia, karena saya tidak menegur dia? karena tidak permisi dengan dia? terlebih lagi tidak percaya dengan eksistensi dia? bisa jadi. Tapi semoga malam ini yang terakhir karena besok saya pasti sudah ada dimobil dengan bos saya. Meninggalkan jogjakarta dan menuju jakarta.

Dan yang jelas tidak ada yang perlu tahu kalau malam ini saya terpaksa membuang urin saya bercampur dengan air minum. Di botol air minum mineral ukuran 600ml karena saya bahkan tidak berani keluar kamar untuk buang air kecil.

Jogjakarta, Maret 2012.

Terima kasih Ibu kost atas bingkisan perpisahannya (3 plastik keripik singkong).
Terima kasih Rin yang sudah menyempatkan ketemu setelah 3 tahun lost contact.
i’ll see u all later.

Share This: