Kampung Air

Hai para pembaca KCH. Aku Ebta mau bercerita sedikit tentang pengalamanku, eh bukan aku sih yang mengalami tapi temanku yang menceritakannya padaku, soalnya aku memang gak bisa ngelihat yang begituan (hantu) baru di ceritain aja aku sudah takut.

Dirumah temanku, lebih tepatnya ketua dari komunitasku (BS2H). Disitu tempat aku dan para anggota lainnya ngumpul “Kampung Air” nama tempatnya, sejenis ruli liar gitu, mau kapan dan sampai kapan kami dirumah itu pun tidak apa-apa sama ketuaku. Rumah itu sudah kayak rumah kami bersama, karna yang datang dirumah itu rata-rata laki-laki dan hanya aku saja yang perempuan karena memang dasarnya aku tomboy, jadi kami malas untuk membereskan rumah sampai berantakan sekali.

Malam itu seperti biasa kami ngumpul ramai-ramai di kampung air, karena awalnya kami jalan-jalan dulu jadi kami sampai di kampung air sekitar jam 11 an. Sudah sepi sekali karena memang tetangga sudah pada tidur semua, sesampainya disana kami langsung saja masuk rumah karena ramai jadi kami sangat ribut. Ada yang masuk langsung baring-baring, ada yang masih cerita-cerita, ada yang minum, ada yang bergurau, dan Jovi salah satu temanku dia kebelet buang air kecil, jadi dia ke toilet.

Toiletnya pisah dengan rumah ketuaku, karena pemakaian toiletnya barengan dengan tetangga disitu. Jadi dia keluar rumah dan 5 menit kemudian dia datang sambil lari terbirit-birit. Aku tanya “kenapa?” dia jawab dengan nafas yang ngos-ngosan “aku lihat seorang nenek di toilet tadi, seramlah pokoknya, rambutnya warna putih di sanggul berantakan, dia memakai kemben dan rok batik warna coklat, badannya membungkuk”. Orang rumah yang mendengar penjelasan Jovi pun mukanya langsung panik, tapi kami mencoba untuk tenang dan tidak takut, karena memang kami beramai-ramai dirumah itu jadi ngapain takut.

loading...

Dihari berikutnya, Gubrak! Suara apa tuh? Oh rupanya berto yang masuk tiba-tiba. “Ada apa?” tanyaku bingung dengan tingkahnya, memang dia dari toilet tadinya jadi kami agak curiga. Belum di jawab sama berto, Edoner langsung bilang “Oh, sudah, aku sudah tau”.

“Iya kan ner?” jawab Berto dengan tenang . “Sudah biasa kalau disitu” kata Edoner. Aku ngerti tuh apa maksud mereka berdua “Hahaha masa preman di datangin sosok nenek panik sih”. Lanjut yang lain menertawakan Berto. “Kampung Air” ruli ini memang banyak sekali makhluk halusnya. Aku datang ke kampung air, aku lihat ada bendera putih dan ada orang ramai sedang membaca yasin tapi tidak dirumah ketuaku tapi dirumah tetangga ketuaku, sepertinya ada orang meninggal.

“Siapa yang meninggal?” tanyaku sama berto. “Anak kecil yang tinggal di rumah itu” jawab Berto. “Anak kecil? Sakit apa dia?” tanyaku lagi karena masih penasaran. “Kesurupan tiga hantu, kemarin dia meninggal” jawab Berto. Wih cuma gara-gara kesurupan bisa meninggal juga ya, sadis kali kampung air ini, anak itu berumur 3 tahun. Akibat kejadian-kejadian itu aku jadi takut, serba takutlah pokoknya. Sampai ke toilet aja aku harus di temanin, aku di ejek terus sama Edoner ketuaku karna aku penakut.

Dia sudah biasa dengan hal-hal yang seperti itu, ya iyalah dia terbiasa kan itu rumah dia. Lalu kami semua ke warnet tapi Edoner tidak mau ikut katanya sih ngantuk, ya sudah kami pergi dan dia tinggal dirumah sendirian. Kami main warnet tiga jam, setelah kami main warnet kami balik lagi ke rumah Edoner sekitar jam 12 an. Kami lihat dia sudah duduk di pojok dinding dengan muka pucat.

Belum kami tanya, dia sudah langsung bercerita apa yang dia alami “tadi aku ketindihan, aku gak bisa bergerak, aku sesak nafas, mau teriak tapi gak bisa, yang aku bisa cuma ngelihat makhluk kecil, tua keriput, berambut panjang, mata merah, warna kulitnya hitam, bertaring panjang, memakai baju putih, dia terus menatapku sambil bicara sesuatu tapi tidak jelas, mau mati rasanya, aku gak mau lagi tidur sendirian disini”.

Sepertinya dia seriusan takut “sudahlah jangan dipikirinkan sudah ada kami disini” mencoba untuk tenangin Edoner. Dalam hati bertanya-tanya makhluk apa itu? tebakan aku sih jenglot. “Oh iya, coba buka di google gambar jenglot” pintaku pada om dicky, om pun langsung membukanya, setelah muncul gambar jenglot dengan ciri-ciri yang persis sekali sama dengan yang di ceritakan Edoner kami bertanya pada Edoner.

“Apa ini yang kau lihat?” sambil menunjukan gambar. “Iya. Oh Tuhan” Edoner makin histeris. Rupanya yang tadi dia lihat adalah jenglot. Apa maksud dan tujuan dia datang pada Edoner? Kami pun tidak tahu. Kami coba tenangkan Edoner dan kami tidur beramai-ramai di rumahnya.

Banyak sekali kejadian-kejadian aneh di kampung air, terkadang lewat dari jam 12 ada suara orang cekikikan, ada juga tengah malam anjing meraung-raung ketakutan pas kami lihat ada sosok bayangan hitam di dekat jemuran depan rumah, dan pengakuan berto yang hampir tiap minggu kena ketindihan jadi sudah terbiasa dengan hal-hal yang begituan, yang paling rutin dan menetap ya sosok nenek itu.

Dia selalu ada di toilet, entah lagi berdirilah, atau lagi mencedok air. Lama-kelamaan kami terbiasa, tapi tidak denganku, aku masih takut karena belum pernah lihat dan sampai sekarang juga kalau ke toilet aku masih di temanin. Sampai disini dulu ya ceritaku, maaf kalau ada kesalahan. Lokasi, Kampung Air di Batam Kepulauan Riau, terima kasih.
Fb : EbtaWessley

KCH

Ebta Meliumi Wesleey

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Ebta Meliumi Wesleey has write 2,686 posts