Karyawan Call Center 24 Jam

Aku sekarang punya pekerjaan walaupun cuma seorang Call Center tapi setidaknya aku tidak menganggur dirumah. Soalnya SMPTN ku tahun ini tidak lulus jadi aku berencana untuk ikut pada tahun berikutnya. aku kerja dua shift, shift pagi dan malam shift pagi pada jam 5 pagi sampai 5 sore dan shift siang kebalikannya. Hampir dua minggu aku pelatihan, dan hari itu adalah hari pertama aku bekerja sebagai karyawan tetap.

Aku mendapat shift siang pada bulan pertama, sore itu aku sudah bersiap-siap dengan seragam baruku setelah makan aku segera berpamitan. Singkat cerita, sampai juga aku di gedung telekomunikasi di jalan japati itu. Gedung tinggi yang menjulang dengan beberapa kantor yang tergabung disitu, setelah menghadap HRD aku ditunjukan sebuah meja bersekat dengan barisan karyawan lainnya.

Sebelah kiriku seorang lelaki dengan perawakan kurus yang sedang sibuk menerima telepon dan sebelah kananku seorang perempuan yang sebaya denganku sedang membereskan mejanya. Perempuan itu mempunyai rambut yang lurus dan senyum ramahnya menyapaku sekaligus berpamitan padaku. Nampaknya shift wanita itu sudah selesai, disusul dengan seorang pria kurus yang nampaknya juga pamit. Aku agak sedikit tidak enak hati dibarisan itu, karena tinggal aku sendirian.

Aku berdiri pura-pura membenarkan rok kerjaku, sambil memastikan apakah ada orang lain yang satu shift denganku. Aku melihat diantara meja sekat, pemandanganku didepan membuatku tenang. Lima orang pria dan 1 orang wanita yang cukup aneh dan dia duduk paling ujung. Aku cepat-cepat kembali duduk, saat aku tau wanita di ujung itu balas melihatku. Aku menarik nafas dan aku terkejut dengan suara dering telepon yang baru saja aku pasang ditelingaku.

“Halo, dengan call center 24 jam bisa saya bantu?” waktu dan jam berlalu begitu cepat hari itu, tidak terasa waktu jam sudah menujukan angka 2 dan aku masih sibuk menerima telepon sampai aku terperanjat kaku. Karena entah dari mana datangnya seuntas rambut panjang terjuntai didepanku. Aku perlahan melihat ke atas dan.

“Mba bikin kaget saya aja, kenapa mba?” perempuan yang duduk di pojok itu menghampiri itu, wajah cantik dan sikap ramahnya membuatku bersikap balik ramah kepadanya. Dia menanyakan apakah aku sudah makan dan aku menjawab kalo aku sudah makan tadi. Perempuan itu pun tetap mengajak ku, akhirnya dia meninggalkan mejaku bersama lima orang laki-laki yang duduk bersama didepanku. Aku duduk kembali melanjutkan pekerjaanku, ruang kerjaku cukup sepi dan hanya terdengar bunyi ac.

Lalu lampu merah didepanku menyala, itu tanda ada seseorang yang menelpon. Aku tekan tombol disebelah kiri dan menjawab telepon itu. “Halo, dengan call center 24 jam bisa saya bantu?. Halo…” diujung telepon tidak terdengar apa-apa hanya suara seperti air dikamar mandi. Aku bertanya sekali lagi dan sepi, masih sama tidak ada jawaban.

Akhirnya aku memutuskan untuk menutup telepon itu dan lampu merah berkedip lagi disertai dengan dering telepon. Aku mengangkatnya dengan nada yang sangat ramah. “Halo, dengan call center 24 jam bisa saya bantu?. Halo…” Aku mulai penasaran dengan siapa orang yang menelponku, aku membiarkan telepon itu tersambung. Masih sepi dan hanya terdengar bunyi seperti gemericik air lalu sebuah suara lembut muncul ditelepon.

“Mba, bisa minta tolong”.
“Iya bisa saya bantu”.
“Tolong saya mba, tolong”.
“Halo ada yang bisa saya bantu, bisa disebutkan keluhannya”.

Tiba-tiba telepon sepi dan telepon itu langsung terputus lalu telepon berbunyi kembali. Kali ini aku agak sedikit kesal, aku diamkan telepon itu. Aku angkat tapi aku tidak berbicara, tiba-tiba terdengar suara.

“Mba, tolong saya”.
“Mba ini dengan call center 24 jam, jadi tolong jangan main-main ya mba”.

Aku pun menjawab dengan nada emosi, dan tiba-tiba terdengar suara rintihan tangis perempuan itu sangat menakutkan lalu aku menutup telepon itu dan suasana menjadi mencekam. Aku sangat ketakutan dan lalu terdengar kembali suara dering telepon.

loading...

“Tolong saya mba, tolong”.
“Halo mba, jangan main-main ya. saya lagi kerja mba”.
“Tolong saya mba, sakit.. sakit”.
“Singkirkan kaki mba dari kepala saya dibawah meja”.

Sontak aku melihat ke arah bawah, di bawah meja dan astaga sesosok kepala perempuan menyeramkan tengah terinjak oleh kakiku. Aku langsung berdiri mengangkat kakiku, kepala itu menggelinding ke arah kaki. Ternyata didepan sekarang sudah bukan meja kerja lagi, melainkan keranda mayat yang berjajar kosong.

Tiba-tiba terdengar sayup namaku disebut, suara perempuan itu membangunkanku. Disebelahku ada mirna, perempuan yang tadi sore pulang. ditengah keriuhan orang-orang bertepuk tangan aku bertanya apa yang terjadi. Mirna menjelaskan kalo aku lolos menjadi karyawan call center itu karena berhasil bertahan sendirian dikantor. Aku terkejut dengan ucapan mirna, bahwa dari sore kemarin semua karyawan sudah pulang kecuali aku, jadi laki-laki itu dan perempuan itu siapa.

Share This: