Katanya Sih Gitu

Assalamualaikum dan salam sejahtera sobat KCH dimana pun berada. Ketemu lagi dengan aku ami. Pengalaman ini di alami oleh suamiku dan sepupunya. Langsung ke cerita ya, *cuz. Pengalaman ini aku alami bersama sepupuku supri di kampungku Bumiayu, Jawa Tengah. Kejadian ini terjadi awal tahun 2005, tanggal dan harinya lupa (maklum sudah lama banget).

Waktu itu aku dan supri sedang berbincang-bincang di rumah pakde kami (sekarang sudah almarhum). Ketika sedang asik ngobrol tiba-tiba supri mempunyai ide untuk bermain ke kali pedes. Akhirnya aku dan supri berangkat ke kali pedes dengan berjalan kaki. Tak lupa kami pun pamit dengan pakde kami. Beliau berpesan kalau nanti pulang kesorean jangan lewat pinggir sawah, tapi lewat jalan memutar. Pakde kami bilang walaupun jauh tapi aman. Kami pun mengiyakan. Lalu kami pun berangkat.

Sepanjang perjalanan menuju kali pedes kami ngobrol ngalur ngidul, sehingga tak terasa kami sampai di kali pedes. Kali pedes ini merupakan aliran air dari gunung Slamet, airnya jernih banyak batu kali yang besar-besar. Bahkan ada batu kali yang sebesar rumah. Kami pun langsung bermain air, walaupun kami sudah remaja tapi kalau lihat air, apalagi air kali pedes yang jernih. Kami lupa pada umur kami sendiri, *hehe. Tanpa terasa waktu sudah mendekati maghrib. Aku dan supri masih asik bermain-main. Sampai akhirnya aku mendengar suara mengaji di masjid.

A: Aku
S: Supri

A: pri, ayo bali wis arep magrib kie (pri, ayo pulang sudah mau maghrib nih).
S: yu, kepenak dolanan jebulane wis arep maghrib (yo, keenakan main gak tahunya sudah mau maghrib).

Kami berdua langsung beranjak meninggalkan kali pedes. Kami lupa akan nasehat pakde kami kalau pulang lewat jalan mutar, kami malah lewat pinggir sawah. Ketika kami menyadarinya, kami sudah sampai di pinggir sawah yang di kiri kami terdapat kebun bambu yang panjang. Mau kembali pun jauh banget.

A: pri, pimen kie dalane ko mene ta? (Pri, gimana ini jalannya kok sini?).
S: wis rapapa wis kadung terus bae (sudah gak apa-apa sudah terlanjur terus saja).

Sambil membaca-baca doa dalam hati aku dan supri meneruskan perjalanan. Di tengah perjalanan kami mendengar suara benda terjatuh keras banget. *Gedebuk, brak. Jantung kami hampir mau copot dengar itu. Tak lama kami mendengar suara seperti minta tolong, “*tulung. Tulung. Tulung” suaranya begitu lirih dan menyeramkan. Kami pun gemetar ketakutan.

loading...

A: pri, kon wis dikandani karo pak gede, kowe si ngeyel teman (Pri, kan sudah di bilangin sama pakde, kamu si masih bandel saja).
S: wis tenang bae, aku ngerti carane ben demite ra keto awake dewek (sudah tenang saja, aku tahu caranya biar setannya gak lihat kita).
A: pimen carane pri? (gimana caranya pri?).
S: wis saja keakehan ngomong, meneng bae melu carane aku (sudah jangan kebanyakan ngomong, diam saja ikutan caraku).

Aku melihat supri membuka semua bajunya. Sekarang dia udah tel*nj*ng.
A: pri, gendeng ta awakmu, moso yo tel*nj*ng? Emoh aku, koyo wong kentir (pri, yang benar saja kamu, masa harus tel*nj*ng? Gak mau aku, kayak orang gila).
S: lha, pimen si. Demit engko wedi nek ndelok awake dewek tel*nj*ng, yakinlah podo mabur demite (lha, gimana si, setannya nanti takut kalau lihat kita tel*nj*ng, pada kabur nanti).
A: mbung, awakmu wae sing ngono, engko dipikir ak wong kentir (gak mau, kamu saja nanti di kira aku orang gila).
S: yo wis, yu mlaku cepat (ya sudah ayo cepat jalan).

Kami pun tak cuma berjalan, tapi berlari. Sampai di ujung jalan, supri langsung memakai pakaiannya lagi. Kami buru-buru jalan karena sudah maghrib. Sampai di rumah kami langsung mandi dan shalat maghrib. Selepas maghrib, kami ngobrol-ngobrol di teras rumah pakde kami. Kami membahas tentang kejadian yang tadi menimpa kami. Tak lama lik (om) naryo datang dan ikut ngobrol dengan kami.

ON (om naryo): wis jal, pimen ta aku bengak bengok mau ning kebon, malah pada mlayu, wis ngana koe pri ngopo tel*nj*ng koyo wong kentir. Aku kie mau tibo, arep njalo tulung karo awakmu malah mabur ( haduh payah, aku tadi jatuh di kebun bukan pada nolongin malah pergi, kamu juga pri ngapain tel*nj*ng segala kaya orang gila).
A: lha, mau kie lik naryo to sing tibo? *haha (jadi, tadi itu lik naryo yang jatuh?). Supri pun dengan ekspresi malu tapi dia pun tertawa kencang.

S: tak pikir demit lik, *haha (aku kira setan lik).
ON : semprul, demite justru wedi karo awakmu pri, dipikir kowe kie wong kentir, *haha (sembarangan, setannya malah takut sama kamu pri, di kira kamu orang gila).
Kami bertiga pun tertawa terbahak-bahak. Inilah pengalaman yang di alami oleh suami dan sepupunya. Aku pun di buat tertawa sampai sakit perut dengar ceritanya apalagi sambil membayangkan wajah supri yang lucu, sekian.