Kebun Buah di Pinggir Kampung

Namaku Dodi, ceritaku ini terjadi di Kalimantan Timur, wilayah Mahakam Tengah. Waktu itu, aku sedang memimpin tim survey pemetaan. Ketika jalur survey keluar dari hutan dan sampai disatu desa, kuputuskan untuk bermalam didesa itu. Karena personal tim agak banyak, kami tidak mendapat rumah untuk disewa. Dengan ijin kepala kampung, kami membangun kemah dipinggir kampung.

Sebagaimana kampung-kampung dipinggir Mahakam, rumah-rumah disini dibangun disepanjang dan menghadap ke sungai. Waktu itu belum ada listrik. Penerangan hanya pakai lampu minyak gas. Singkat kata, gelap. Di belakang rumah biasanya ditanam pohon-pohon buah atau dibiarkan membelukar. Di belukar itulah kami membuat camp.

Malam pertama kami keluar untuk melihat-lihat kampung. Dari camp, kami harus melintasi kebun buah yang sudah tua. Di kampung, kami berpencar dan aku berhenti dikedai kopi dan ngobrol dengan warga yang ada disitu. Jam 10’an, aku pulang sendirian. Berbekal senter, aku menembus kebun buah tua itu. Di tengah kebun berkabut, senterku mendadak mati! Gelap pekat ! Aku baru mau melangkahkan kaki, ketika bulu romaku meremang, kepalaku terasa membesar. Aku takut! Tapi mau berbuat apa?

Lututku goyah, lemah aku duduk berjongkok. Untuk mengurangi rasa takut, ajaran kitab suciku menyebut “dekapkan kedua tanganmu ke dada!” kulakukan itu, kubaca pula 3 surah pelindung dari kitab suci berulang-ulang. Rasa nyaman dan hangat telapak tangan di dada, menyebar keseluruh badan. Detak jantung yang tadinya berdegup-degup, perlahan menjadi lebih tenang. Rasa takutku perlahan menghilang. Sinar bintang sekarang terlihat menembus tajuk-tajuk pohon. Anehnya kabutpun sirna, senterku juga kembali menyala.

loading...

Aku bangkit dan perlahan melangkahkan kaki menuju camp. Camp kami memanjang, 6 meteran, beratap terpal, tidak berdinding atau bertutup seperti camp mewah. Untuk tidur, kami menggunakan karung-karung beras yang dibentuk seperti tandu. Di ujung camp, kami menempatkan dapur. Di bagian tengah, tempat untuk berdiskusi atau bermain dan tempat lampu. Di bagian ujung lainnya, adalah tempatku tidur dan peralatan survey. Sesampai di camp, aku ngobrol sebentar dengan rekan-rekan yang ada dan langsung tidur dengan membekal kitab suci dibagian kepala.

Malam itu aku tidur dengan tenang, tapi tukang masak kami mendapat pengalaman lain. Sebagai tukang masak, dia harus bangun ditengah malam untuk memasak air dan menyiapkan sarapan, juga sekalian menyiapkan bekal untuk makan siang. Bagian berikut merupakan tuturannya kepadaku setelah kami berpindah ke camp yang baru.

Malam pertama dikampung itu, aku (tukang masak) terbangun karena merasa gerah. Jam menunjukkan pukul 2.00 dini hari. Dari pada bengong, aku mulai memasak air untuk bekal minum untuk tim besok hari (12 orang). Sampai menunggu air masak, aku mengupas bawang dan bumbu lain, juga menyiapkan makanan kaleng untuk lauk. Setelah bumbu dan makanan kaleng siap, aku memeriksa air.

Air belum mendidih? Biasanya setengah jam air sudah bergolak, tapi ini sudah 40 menit belum apa-apa. Aku tambahkan kayu diperapian sambil membesarkan api. Ada apa ya? Kutunggu saja dulu. Setengah jam kemudian, air belum juga mendidih! Si*l*n! Padahal lauk dan nasi belum dimasak. Bisa-bisa dimaki orang satu camp besok. Aku menyumpah-nyumpah dan kemudian merasa bahwa ada sesuatu yang mengganggu.

Dari dapur, aku melihat ke sekeliling camp. Di jemuran, kulihat sehelai baju putih masih tergantung. Baju itu bergerak terhembus angin. Hah. Bukan! Tidak ada terasa hembusan angin. Jadi? Itu bukan baju, tapi sehelai kain putih yang bergerak-gerak sendiri. Sudah setua ini, masih juga diganggu makhluk lain, batinku. Aku berdiam diri, sambil terus menatap kearahnya. Kain itu kemudian melayang mengarah ketempat tidur pimpinan tim, seperti akan masuk ke camp.

Aneh juga, ia seperti tertahan sesuatu dan tidak bisa dilewatinya. Kain itu meluruh tertahan kebawah dan melayang lagi mencoba masuk. Hal yang sama terjadi berulang kali. Bayangkan kalian melihat keluar jendela kaca transparan yang tertutup, dan dari luar ada yang melempar kain putih ke kaca jendela itu. Begitu gambarannya.

Aku mengucap perlahan. “Kami ini sedang mencari makan untuk keluarga, tidak ada niatan untuk mengganggu siapapun. Kalau ada tersalah, tolong maafkan dan jangan ganggu kami”. Kain putih itu melayang perlahan, dan tiba-tiba lenyap begitu saja. Aku memuji Tuhan yang Maha Pencipta.

Air yang kumasak langsung bergolak mendidih. Tidak ada lagi gangguan yang kurasa sampai dipagi hari. Aku akan ceritakan ini kepada ketua tim nanti, setelah kami pindah camp. Aku ingin tahu apa penyebab benda itu muncul?
Dodi, bekas Surveyor.

KCH

Dodi

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Dodi has write 2,670 posts