Keganjilan Atas Meninggalnya Papahku

Hai *gaes selamat malam. Kenalin namaku Rosanti teman-temanku sering panggil aku dengan sebutan amoy, *haha lucu yah. Itu panggilanku sewaktu aku masih SMP karena kata orang aku mirip orang chinese, kulitku putih, mata sipit. Oke langsung ke cerita saja ya. Sebulan yang lalu aku diterima kerja di sebuah rumah makan khas sunda di kotaku, rumah makan tempat kerjaku ini terbilang sepi pembeli.

Padahal tempat cukup bagus dengan fasilitas keren, malahan ada tempat karaokenya terus disuguhi pemandangan yang indah dengan persawahan dan gunung tampomas yang amat indah dan jelas sekali terlihat di tempat kerjaku ini. Kalian pasti herankan kenapa di rumah makan khas sunda ada tempat karaokenya? Haha itulah kerennya tempat kerjaku ini.

Orang yang punya indera ke-6 pasti tau kalau ditempat kerjaku ini *Jajalaneun (jalanan tempat para hantu, jin, siluman) karena dibelakang tempat kerjaku ini berhadapan langsung dengan gunung tampomas, terus di depan rumah makanku ini tepatnya di tengah jalan raya ada keraton *istana jin*, makanya tak heran kalau tiap tahunnya memakan korban, entah itu kecelakaan atau apalah.

Singkat cerita ya, sehari setelah diterima kerja aku mulai berkenalan dengan pegawai disana namanya apan (nama samaran), kita saling tukar cerita dan akhirnya aku tau kalau dia punya indera ke-6 dan bisa menerawang, serta bisa menyembuhkan orang yang kesurupan. Katanya, dia punya ilmu yang bisa jadi 5 lah kalau prabu siliwangi kan bisa jadi 7 nah dia bisa jadi 5 gitu.

Pegawai disana selalu panggil dia dengan sebutan mbah, *haha padahal dia masih muda. Lalu aku mulai bercerita tentang keganjilan saat ayahku meninggal begini ceritanya, 4 tahun yang lalu ayahku pergi ke Garut bersama ibuku dan mengontrak rumah disana sedangkan aku disini dikota S, bersama dengan kedua kakakku dan pembantuku, karena supir pribadiku ikut dengan kedua orang tuaku.

Ayahku dari dulu kerjanya bisnis *UK-UK, aku pernah ke kontrakan orang tuaku sewaktu aku liburan kenaikan sekolah, disana aku cuman 1 minggu saja. Disana aku banyak menghabiskan jalan-jalan bersama kedua orang tuaku, sehari sebelum aku pulang ayahku memintaku untuk mencabut 3 helai rambut dan menyerut kukunya 3 kali lalu ayahku memasukan 3 helai rambut dan serutan kuku ke dalam kantong plastik kecil sambil bilang “engke weuh deui 3 tetes getih mah diditu” (entar aja lagi 3 tetes darah disana aja).

2 minggu setelah itu, waktu itu sudah memasuki bulan puasa, jam 8 malam kakakku dapat telepon dari ibuku karena ayahku masuk rumah sakit, dokter memvonis papahku terkena serangan jantung dan stroke. Sebelum masuk rumah sakit, siangnya sekitar pukul 2 siang papahku dan ibuku jalan-jalan ke mall, kedua orang tuaku membeli kebutuhan di dapur sekalian membeli makanan untuk buka puasa nanti.

Setelah mengantri cukup lama kedua orang tuaku langsung bergegas pulang ke kontrakan, lalu ibuku memasak kesukaan papahku walaupun baru pukul 3.30 sore, ibuku memasak karena papahku tidak puasa soalnya papahku punya penyakit maag kronis jadi gak bisa ikut puasa. Karena gasnya gak ada habis, ibuku membeli gas dulu dan saat itu papahku sudah lapar jadi makan seadanya saja.

Setelah itu papahku mulai kejang-kejang, dari mulutnya keluar busa, tangan dan kaki papahku kaku seperti orang stroke. Ibuku panik lalu memanggil para tetangga untuk membawa papahku ke RS. Pukul 3.25 pembantuku baru beres memasak, pada saat kakakku mau menyantap makanan, tiba-tiba suara telepon kakakku berbunyi, gak lama setelah itu kakakku menangis sambil menjerit menyebutkan kata papah.

Aku tanya sama kakakku kenapa, katanya kalau papahku sudah tidak ada. Tiba-tiba badanku menjadi lemas seperti mau pingsan, aku menangis sejadi-jadinya. Kita bertiga bergegas membereskan pakaian langsung pergi ke Garut tanpa sahur terlebih dahulu. Setiba di Garut, aku langsung memasuki mobil ambulance, sepanjang perjalanan aku menangis sejadi-jadinya.

Di dalam ambulance sambil memegangi kaki papahku yang sudah dingin dan terasa kaku. Setiba di rumah nenek, papahku langsung di mandikan, di shalatkan, terus di kebumikan. Malamnya aku meratapi kepergian papahku, dalam hati aku berkata “pah, sekali saja dede pengen lihat papah” sambil menangis dikamar. Saat aku terlelap antara sadar dan tidak sadar aku memimpikan papahku memakai sorban putih (yang kayak kalau mau naik haji gitu), sedang berjalan didepanku sambil melirikku dan kulihat bibirnya tersenyum dan ku ingat saat itu aku sedang memunguti helaian rambut dan potongan kuku.

Aku stopkan ceritaku karena temanku yang sedari tadi mendengarkan ceritaku menyuruhku berhenti bercerita. Sedangkan aku bersikeras tetap mau cerita, padahal waktu itu aku cerita bibirku gemetar, badanku lemas dan seluruh tubuhku bergetar. Detak jantungku pun kencang sekali seperti mau copot. Ke cerita lagi oke, selepas aku memunguti kuku dan helaian rambut, badanku tidak bisa digerakan, mataku pun tidak bisa ku buka. Aku menjerit sejadi-jadinya tidak ada yang dengar, padahal waktu itu aku tidur disamping bibiku.

Lalu aku membaca doa sebisaku dan istigfar berkali-kali, akhirnya aku bisa membuka mataku dan menggerakan badanku, ternyata aku ketindihan. Lalu aku membangunkan bibiku dan menceritakan semuanya karena kakakku dan ibuku sedang ke kontrakan yang di Garut membereskan pakaian alm papahku, jadi bibiku memutuskan menelpon ibuku dan menceritakan semuanya.

loading...

Anehnya setelah aku memimpikan itu seluruh rumah dipenuhi dengan semut. Entah datangnya dari mana, pokoknya banyaklah, mungkin ada puluhan ribu semut di rumah. Lebih anehnya lagi semut itu tidak lama kemudian menghilang dengan sendirinya, anehkan? Setelah aku bercerita kepada temanku, pundak dan tangan sebelah kananku terasa panas dan sakit.

Lalu aku mengeluh kepada temanku, temanku malah bilang “kan sudah ku bilang jangan di teruskan lagi ceritanya, papahmu itu ada sebenarnya di belakangmu, dia memukul-mukul meja dan bilang kalau kamu gak boleh melanjutkan ceritanya, papahmu marah kalau kamu menceritakan tentang itu”. Sontak aku kaget dan panas, serta sakit di tanganku semakin menjadi-jadi lalu temanku bilang gini lagi, “kamu orangnya pemarah ya, suka ngelawan sama ibu?”.

Aku melotot kaget karena dia tau kalau sifatku yang akhir-akhir ini setelah kepergian papahku, aku jadi seorang pemarah dan suka ngelawan sama ibuku. “Kok tau? Tau darimana kalau aku ini pemarah dan suka ngelawan?”. Temanku hanya tersenyum lalu temanku mengajakku shalat maghrib, meskipun adzan magrib telah lewat karena ke asikan bercerita, pas waktu shalat dan pas waktu bilang Allahuakbar tanganku yang kanan panas banget, kayak yang kebakar tapi aku coba tahan dan konsentrasi.

Setelah shalat, aku duduk, lalu temanku bilang gini “tadi pas waktu shalat kerasa panas gak tangan kanannya? Seperti kebakar ya?”. Lagi-lagi aku dibuatnya kaget karena dia seperti tau fikiranku “iya kenapa ya, a?” Lalu dia bilang gini, “sebenarnya kamu itu punya khodam pemberian dari ayahmu, satu perempuan dan satu macan putih, sifat kamu yang suka membengkang dan pemarah itu dari khodam si perempuan itu. Apakah kamu punya keris di rumah kurang lebih 60 cm?”.

Aku sangat kaget mendengarnya, kenapa ayahku memberikanku khodam jahat seperti ini “macan putih? Siapa itu? Oh kalau keris sih aku punya di rumah, di simpannya sekarang di lemariku soalnya waktu ditempel di dinding walaupun di paku tiap malam suka jatuh sendiri, malahan waktu aku tidur kayak ada yang meluk terus gelitikin aku gitu”.

“Macan putih itu sebenarnya buyut kamu yang ditugaskan oleh papahmu itu menjaga kamu dari marabahaya. Oh gitu seperti ada emas-emasnya tidak di ujung keris itu? Apakah suka kamu urus itu keris?”.
“Yang benar  Pantas kakakku pernah bilang begitu. Iya ada emas di ujung kerisnya, semenjak ayahku meninggal keris itu tidak pernah terurus karena ibuku dan kakakku tidak tahu menahu tentang benda pusaka”.

“Memang kakakmu bilang apa? Pantas saja keris itu suka jatuh sendiri walaupun di paku dan ada yang usil tiap kamu tidur, itu penunggunya ya perempuan itu yang jadi khodam kamu”.
“Kakakku bilang waktu aku kabur dari rumah berbulan-bulan, pas aku ditemukan wajahnya seperti bukan wajahku malahan seperti wajah orang lain dan kakakku bilang kepada nenekku dan nenekku berkata kalau aku di ikuti buyut ayahmu untuk menjaga adikmu itu”.
“Kamu jangan lupa dimana pun kamu berada dan sebelum tidur perbanyak istigfar dan membaca al fatihah karena sedari tadi ayahmu ingin merasukimu”.

Aku mengangguk dan diberi minum air doa dari temanku itu. Setelah cerita tidak terasa waktu menunjukan waktu pulang, sesampainya dirumah aku menceritakannya kepada ibuku seperti biasa kakiku mulai lemas, seluruh badanku bergetar, mulutku pun bergetar waktu menceritakan semuanya kepada ibuku.

Jantungku pun berdegup kencang, tapi aku masih bisa menahan diri dan tak lupa beristigfar di dalam hati. Sewaktu aku telponan dengan kakakku dan menceritakannya kepada kakakku, keadaan aku pun masih sama seperti tadi yang ku ceritakan, kakiku lemas, mulut bergetar, seluruh tubuh bergetar dan detak jantungku semakin tidak karuan sampai akhirnya aku kecolongan, mataku tak mau berkedip, mulutku kaku, aku masih bisa mendengar suara kakakku di telpon.

Tiba-tiba aku menangis begitu saja, mataku terpejam, pandangan gelap. Setelah aku sadar aku dikasih minum oleh ibuku, tubuhku terasa dingin, sangat dingin sekali bahkan selimut tebal pun tak terasa menutupi tubuhku yang sedang kedinginan. Ibuku lalu bilang kepadaku kenapa aku menangis sampai-sampai tetangga keluar, mataku melotot sampai-sampai kakakku yang tadi telponan denganku ikut menangis karena melihat keadaanku.

Padahal seingatku, mataku terpejam saat aku mau menghentikan tangisku, bibirku kaku tidak bisa ku tutup. Sekian cerita dariku, ini kisah nyata yang aku alami satu bulan yang lalu. Maaf kalau terlalu panjang dan bertele-tele harap di maklum. Terima kasih.
Fb: RosantiSamoyy
Pin bbm: 28D086E2