Kejadian Menyeramkan di Rumah Kakek Part 2

Hai ketemu lagi sama aku. Aku mau lanjutkan kejadian menyeramkan di rumah kakek. Oke cekidot! 6 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 22 Desember 2010, kakekku meninggal dunia. Waktu itu aku sekeluarga kecuali papah sedang berada di Jawa Tengah. Setelah mendengar berita duka dari tanteku, kami sekeluarga langsung berkemas, kecuali kakakku yang sedang mengandung 9 bulan tidak diperbolehkan ikut. Sedangkan papahku langsung berangkat dari Sukabumi setelah menerima kabar duka.

Kakekku ini memang sudah sakit-sakitan sejak lama. Namun beliau masih saja beraktivitas seperti orang sehat. Lalu sakitnya menjadi parah sejak beliau jatuh di kamar mandi. Beliau sih bilangnya terpeleset, tapi aku tak percaya. Karena ubin di area sumur, kamar mandi ini di buat kesat anti licin. Apa lagi kakekku selalu memakai sandal terapi di dalam rumah yang sandal bawahnya bergerigi, agar tidak terpeleset saat di pakai di lantai yang licin.

Singkat cerita, kami sudah sampai di Bandung pukul 2 dini hari. Saat turun dari mobil travel di depan gang kecil yang di apit kebun kakek di sebelah kanan dan rumah tetangga di sebelah kiri, aku memandang kebun yang gelap. Tepat di sebelah kananku berdiri kokoh pohon jambu air yang besar. Tiba-tiba dari arah pohon arben terbang bayangan putih yang hinggap di pohon jambu, seakan menyambut kedatanganku.

Aku merasa takut, tapi aku bertahan menunggu mama dan sopir travel menurunkan barang bawaan kami. Setelah selesai kami langsung berjalan memasuki gang menuju rumah kakek. Saat sedang berjalan, aku merasa ada yang mencolek tangan kiriku, saat aku menoleh ke arah kebun tepatnya di samping pohon arben, aku melihat ada orang berdiri memakai jubah berwarna putih dan bercahaya, tapi di sebelah kiri dan kanannya berdiri 2 orang memakai jubah berwarna hitam.

Aku tak tahu apa yang aku lihat ini? Mataku masih menatap ke-3 orang itu tanpa berkedip. Ada dorongan untuk menghampiri, namun aku mendengar suara mamaku yang terisak pelan. Lalu perhatianku tertuju pada mama. Tapi saat aku menoleh ke arah kebun lagi, 3 orang itu sudah tak ada. Lalu sampailah kami di depan rumah kakek yang pintunya terbuka dan ramai oleh orang-orang yang menunggui jenazah kakek yang belum di kebumikan karena masih menunggu mamaku.

Aku masih ingat betapa mama dan adikku histeris dan menghambur ke jenazah kakek. Sejak mendengar berita duka sampai di perjalanan ke Bandung, kami seakan tak punya waktu untuk menangis, langsung sibuk berkemas untuk perjalanan ke rumah kakek. Dan di sinilah di depan rumah kakek air mata tak dapat lagi di bendung. Aku menangis namun tak langsung masuk ke rumah tak sanggup melihat jenazah kakek.

Aku memandang langit, terlihat 3 burung koreak sedang terbang lalu hinggap di pohon belakang rumah. Malam ini tak terdengar kicauan burung koreak. Itu jadi buatku penasaran, padahal burung-burung itu selalu berkicau setiap malam. Apakah burung-burung itu ikut berduka atas meninggalnya sang tuan rumah? Aku masih memandang langit saat tiba-tiba kakak iparku yang memiliki kelebihan (indigo) menarik tanganku untuk memasuki rumah. Lalu keesokan siangnya kakek di kebumikan.

Singkat cerita, sehabis maghrib semua keluarga berkumpul di rumah kakek untuk mengaji bersama. Di sini juga ada anak uwaku yang sedang hamil 7 bulan ikut mengaji. Beberapa saat setelah selesai mengaji, kakak iparku yang indigo kerasukan makhluk yang mengaku sebagai nenekku. Dia meminta di masakan sambal terasi goreng dan pete rebus. Tapi sebelum makhluk itu meminta hal yang lain, ayahku langsung mengeluarkannya dari tubuh kakak iparku.

loading...

Namun ketika makhluk itu keluar, ganti keponakanku yang berusia 4 tahun menangis keras-keras, lalu kejang-kejang. Matanya yang terlihat cuma putihnya saja, dan jari tangannya seperti siap untuk mencakar, dan dia meraung dan menggeram seperti seekor macan dengan lidah yang sesekali terjulur menjilati bibirnya. Ayah dan uwaku langsung bertindak melihat kondisi keponakanku itu. Uwaku memeganginya sambil baca doa, lalu ayahku mengambil air doa yang di minumkan kepada ponakanku, tapi di sembur-semburkan air doa itu oleh keponakanku.

Lalu di usapkan air itu oleh ayahku di ubun-ubunnya, juga tangan dan kakinya sambil membaca doa. Lalu uwa berkata “nyingkah ka ditu silaing! Tong ngaganggu kaluarga dewek! Nyingkah siah! Ganggu we kaditu jelema nu nitah silaing kadieu! Tong ngaganggu kaluarga dewek! Nyingkah!” (pergi sana kamu! Jangan ganggu keluargaku! Pergi sana! Ganggu saja orang yang menyuruhmu kemari! Jangan ganggu keluargaku! Pergi!).

Setelah berkata seperti itu, keponakanku kejang-kejang lagi dan dari mulutnya keluar busa. Seperti orang keracunan lalu tak sadarkan diri. Setelah merajeg (melindungi dengan pagar gaib) tubuh keponakanku agar tak dapat di dekati “mereka” lalu segera om dan tanteku membawanya ke dokter praktek terdekat takut kenapa-napa. Kata kakak iparku yang indigo, dia sudah melihat macan itu di pojokan dekat pintu dapur.

Singkat cerita, selepas isya tahlil pun dimulai. Setelah selesai para bapak-bapak undangan ada yang langsung pulang, ada pula yang masih mengobrol dengan uwaku. Suasana di dalam rumah juga ramai oleh suara anak-anak para saudaraku. Aku sedang duduk di teras dengan sepupuku pipit. Aku merasakan ada yang tidak beres, selain burung koreak yang tak berkicau, perasaanku pun sangat tak tenang, tapi aku tak tau kenapa.

Singkat cerita para bapak-undangan sudah pulang semua, rumah pun lenggang dari suara anak-anak karena sudah tidur. Juga anak uwaku yang sedang hamil pun sudah terlelap. Kami sekeluarga tak ada yang tidur di dalam kamar. Semuanya kumpul di ruang keluarga. Saat itu tiba-tiba papahku berkata “tolong malam ini jangan ada yang tertidur. Saya merasa ada yang tidak beres. Lebih baik semuanya terjaga. Untuk jaga-jaga saja. Kecuali perempuan”.

Namun entah mengapa kami semua tertidur dengan pulas, termasuk papahku. Saat subuh kami semua terbangun oleh suara tangisan anak uwaku yang hamil 7 bulan. Suaminya bertanya ada apa? Kenapa menangis? Tapi bukannya menjawab, tangisannya malah tambah keras. Lalu tiba-tiba kakak iparku terkesiap kaget lalu memeluk anak uwaku “astaghfirulloh gusti. Naha tega teuing ka kuring teh. Ya Allah. Tabah Ai sabar” (astaghfirulloh gusti. Kenapa tega sekali kepadaku. Ya Allah. Tabah Ai sabar).

Mendengar kata-kata kakak iparku kami semua tambah bingung. Lalu kami tersadar saat melihat perut anak uwaku yang kempes, seperti tak pernah hamil. Sontak kami semua kaget. Tapi tak bisa menyalahkan siapa-siapa atas kelengahan ini. Setelah tenang, anak uwaku diminta untuk menceritakan apa yang terjadi. Begini ceritanya, semalam jam 02:45 Wib anak uwaku merasakan perutnya sakit. Tapi melihat semua orang sudah tertidur. Dia mencoba membangunkan suaminya namun tak kunjung bangun.

Lalu dia merasa perutnya bertambah sakit. Seperti sedang ditarik-tarik. Dia menjerit keras tapi seorangpun tak ada yang bangun. Seketika perutnya kempes dan tidak ada darah setetes pun. Setelah mendengar cerita itu, aku benar-benar bergidik ngeri. Tak menyangka bahwa yang dimaksud “ada yang tidak beres” adalah kejadian ini. Mengambil janin sebagai tumbal. Tapi untunglah kakakku yang hamil 9 bulan tidak jadi ikut ke rumah kakek. Jika kakakku ikut, mungkin kakakku juga bisa jadi korban.

Setelah kejadian malam itu sampai beberapa bulan ke depannya anak uwaku jadi pendiam, juga masih sering menangis. Tapi alhamdulillah sekarang sudah sembuh karena sudah di beri momongan lagi. Dan setelah kakek meninggal, burung koreak tidak pernah berkicau lagi bahkan seperti hilang tak pernah terlihat terbang ke pohon di kebun belakang, dan gangguan penampakan dari “mereka” juga berkurang. Tapi gantinya, rumah dan kebun kakek sulit untuk terjual. Yah setelah kakek meninggal keluarga sepakat untuk menjual rumah sekalian kebunnya.

Tapi sampai sekarang setiap ada yang mau beli pasti gak jadi, entah kenapa aku juga tak terlalu mengerti. Tapi kata kakak iparku yang indigo, kalau mau rumah dan kebun terjual, pohon jambu air yang di kebun depan harus di tebang. Yah tapi siapa yang berani menebang pohon jambu tersebut jika konsekuensinya harus ikut “mereka”? Jadi sampai sekarang rumah dan kebun kakek masih belum terjual. Sekian ceritanya. Makasih sudah mau membaca. Maaf ya kalau kepanjangan. Dan Selamat hari ibu untuk para ibu-ibu di dunia.

KCH

mawar

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

mawar has write 2,670 posts