Kelurahan Simbarwaringin (Part 2)

Apa kabar pembaca KCH. Dwi akan menyambung cerita tentang kelurahan simbarwaringin. Walaupun banyak cerita, tapi saya hanya akan berbagi pengalaman atau info yang pernah saya dengar saja. Selebihnya silahkan anda cari tahu di google atau dari sahabat yang anda kenal di kelurahan ini, *hehe. Lanjut ke tema, kelurahan simbarwaringin kebanyakan di huni warga pendatang.

Dan yang paling banyak adalah dari pulau jawa. Entah mengapa itu orang jawa nyasar-nyasar dan betah di sini, *hehe. Suku sunda dan jawa, ada juga suku batak, padang dan lain-lain. Tapi hidup kami rukun antar suku. Namun yang membuatku janggal, di desa 11A dan 11B. Setiap ada orang yang meninggal dunia, mengapa selalu berturut-turut hingga 7 orang.

Apalagi jika di awali meninggal pada hari selasa, sabtu dan minggu. Itu biasanya akan ada yang meninggal lagi dan lagi. Jika belum genap atau berhenti di hari rabu, kamis atau jumat. Dan anehnya lagi, jarak meninggalnya dengan yang lain hanya berselisih 2, 3-6 hari. Ibarat tanah kubur belum mengering sudah ada kawan, semua orang pun menyadarinya.

Bahkan ketika dulu saya masih tinggal di area desa itu juga merasa tidak tenang. Apalagi di saat keluargaku ngumpul waktu ke rumah simbah yang area desanya di 13. Kami mengobrol dan bercanda, tiba-tiba omku bercanda yang membuat jantungku *deg. Kata om “kalau pengen cepat meninggal, sana pindah rumahnya di desa 11” sambil ketawa melihatku. Akhirnya aku sedikit manyun, dan semua orang tertawa.

Eh malah beralih membahas desa 11 semua. Kata bude “iya kok di sana jarak orang meninggalnya terlalu rapat ya?”. “Mungkin karena banduso (keranda mayat) ada 2” kata bude yang lain menyambungkan cerita. Saya hanya diam, lalu teringat cerita almarhum mertuaku dulu. Di saat dia berjalan melintas gang area rumahku dulu, ia melihat seorang nenek-nenek asing melintas berpapasan dengan almarhum.

Katanya nenek itu ngomel sendiri di jalan dan pas berdekatan dengan almarhum, nenek berkata “kampung ini penuh demit, tapi kok pada betah ya tinggal disini” cetus nenek itu sambil berlalu. Dalam hati almarhum, “bener juga”. Karena almarhum sudah tahu banyak tentang kampung rumahku dulu. Dan beliaulah yang membelikan rumah zaman dulu di area situ.

loading...

Lain waktu saya akan bercerita tentang misteri rumah itu. Dan kembali ke cerita, akhirnya saya bercerita kejadian itu ke lainnya. Dan semua pada heran bahkan tidak percaya. “Iya sih” kataku merenung. Tapi memang benar begitu adanya. Karena setiap orang pintar atau orang yang tau tentang dunia lain banyak yang berkata demikian. Di kampungku jika kita berjalan, sebenarnya sudah saling menabrak makhluk lain, kata orang-orang pintar itu. Dan banyak orang meninggal dunia dadakan juga sebenarnya ulah mereka (makhluk itu).

Ah, antara percaya dan tidak. Tapi ketika saya menjelaskannya lagi kepada mereka keluargaku ada yang merinding ada juga yang ketakutan dan enggan berkunjung ke rumah lamaku. Hingga saya tidak di rumah itu lagi. Dan masih banyak misteri kelurahan simbarwaringin ini. Tapi saya tidak mau melanjutkannya lebih dalam. Karena ada hal lain. Jika ada yang kurang berkenan atau salah saya mohon maaf. Sekian, terima kasih.