Kesurupan Waktu Diklat

Acara diklat KSR unit kampus di Sumber dekat gunung Kelud. Di sini yang aku ceritakan adalah hari yang kedua yaitu acara jumat malam. Setelah sehari digodok mental, tenaga, pikiran. Tiba saatnya istirahat makan seperti biasanya kami makan beralaskan beberapa lembar daun pisang dengan posisi laki dan wanita campur jadi satu sejajar. Kami pun makan dibatasi waktu 60 detik. Harus segera selesai, kalau nggak selesai nambah lagi beberapa set total push up yang harus dilakukan peserta Diklat.

“*Prit” terdengar suara sempritan sie ketua Pelaksana.
“Ayo berhenti makannya.”
“Ayo cepat-cepat jangan sampai ada sisa satu butir nasi kalau tidak ingin nambah 3 set lagi.”

Sebenarnya aku sudah nggak kuat makan lagi, apa boleh buat aku kuat-kuatkan mengunyah nasi walaupun sudah kesulitan nelan karena sudah terlalu *wareg perutnya. Paling nggak kusukai adalah teman-teman cewek atau laki-laki yang membebankan nasinya digeser kedepanku. *Alamak, sudah perut ini penuh masih saja harus mengunyah dan menelannya. Tapi aku juga kasihan teman-temanku kayaknya juga sudah tidak sanggup menghabiskan makanan tetapi tetap memaksa harus menghabiskannya.

Setelah selesei makan, kami semua diperintah berdiri jajar sambil disenteri lampu senter dilihat adakah sisa ditangan dan diatas alas daun pisang. Ketika itu yang diperiksa giliran aku. Di suruh mengeluarkan isi kantong. Aku keluarkan dan ada beberapa butir nasi dikantong. Panitia diklat pun marah semua, aku ditanya pilih mana push up sendiri atau push up bersama rekan-rekanku peserta diklat yang harus ikut menanggung kesalahanku. Aku pun memilih push up sendiri, dan harus menanggung 100 kali push up. Aku segera digelandang ketengah lapangan. Aku berjuang push up sambil menghitung dengan suara keras.

“Kurang keras!”
“Push up apa seperti itu?”

Aku pun berdoa di dalam hati, ya Allah bagaimana Engkau menolong hambamu dari kesulitan ini, aku yakin engkau akan dapat menolongku, dan hanya Engkaulah yang dapat menolongku. Suasana hatiku waktu itu hanya pasrah total berserah diri kepada Tuhan Sang Pencipta.

“Hey kamu tak melihat sedulurmu, dia mau menanggung push upnya sendirian.”
“Mata kamu di mana sedulurnya kesusahan tidak mau membantu, apakah itu disebut dulur?”
“Gan##k (maaf disensor) kamu nggak mau menolong saudaramu?”
“Katanya saudara, hey jawab” teriak salah satu anggota panitia diklat dengan nada keras.
“Kamu mau bantu meringankan push upnya dia tidak?”
“Mau.” teriak rekan-rekanku campur dengan isak tangis dari temanku cewek.
“Ayo cepat kesana, bantu push upnya” perintah panitia diklat.

Dalam kesempitan tersebut aku berdoa terus didalam hati, wahai Zat yang Agung Tuhan semesta alam, tolonglah hambamu keluar dari kesulitan ini, kirimkanlah malaikat ataupun makhlukmu yang lain untuk menolongku. Aku hanya hambamu yang lemah penuh dosa dan hanya berserah diri kepadamu.

Entah kebetulan apa tidak, doaku terjawab push upnya berhenti. Baru tiga kali push up bersama-sama, tiba- tiba ada temanku cewek yang ambruk dan tiba-tiba bangun sudah menggeram-geram karena kesurupan. Sambil teriak-teriak. Meronta-ronta mengamuk. Dan dibawalah temanku cewek tadi dengan dipegangi beberapa orang dan dibawa ke pos panitia.

“Ayo keluar.”
“Tidak mau, kenapa kamu mengganggu dengan teriak-teriak” suara jin yang menyurupi jin cewek.

Kulihat dalam keadaan tengkurap dilapangan. Sepertinya jin yang merasuki sulit dikeluarkan oleh senior diklat. Aku bilang sama panitia diklat.

loading...

“Mas saya boleh bantu ngeluarin yang kesurupan?” kataku.
“Iya boleh. Memang kamu bisa bantu?” tanya panitia diklat yang berdiri disampingku.
“Iya bisa” jawabku singkat.

Padahal itu hal baru buatku mengobati kesurupan. Aku pun diantar mas Roy ke pos tempat mengobati linda yang kesurupan. Baru aku sampai didepan linda, aku heran si linda yang tadi meronta-ronta kok langsung diam ketika aku datang. Memang waktu aku tiba dipos tersebut ketika aku melangkah menuju Si Linda, berasa didalam tubuhku ada getaran seperti setrum yang menjalar keseluruh tubuhku seperti mengeluarkan energi entah apa itu.

Langsung aku meminta disediakan air putih segelas, kemudian aku bacakan Al-Fatihah dan minta kesembuhan dengan lantaran doa karomahnya guruku. Lalu aku datang menghampiri si linda yang berbaring. Seketika aku menatapnya dia langsung membuka mata, selintas lalu menutup matanya kembali, terpikir di pikiranku memperlihatkan foto guruku agar si jin yang didalam tubuh linda melihat foto guruku.

“Hey buka matamu, lihat ini” kataku dengan agak keras. Si linda pun membuka mata dan menatap foto guruku yang kupegang ditangan kiri. Si linda langsung berubah wajahnya seperti mau menangis seketika menatap foto guruku. Lalu ia memejamkan mata kembali.

“Kenapa kamu tidak berani menatap foto ini?” tanyaku kepada linda. Namun linda hanya diam saja. “Kamu tahu siapa ini?” tanyaku lagi. Si linda hanya diam saja tidak berani menjawab sepatah kata pun.

“Kamu mau keluar?” tanyaku dengan nada tinggi.
“Iya saya mau keluar” jawab linda.

Aku berdoa dengan karomahnya guruku ditelapak tanganku agar diperlihatkan gambaran Neraka. “Buka matamu” gertakku. Seketika itu linda membuka matanya kembali, kusuruh melihat telapak tanganku yang kanan, aku pun berkata sama dia, kalau dia nggak mau keluar dari tubuh linda, saya lempar dia kedalam telapakku kanan. Dia langsung kembali menutup matanya lagi. Sebenarnya untuk menghadapi orang kesurupan harus kita tenang karena jika kita tidak tenang atau takut energi kita bisa diserap oleh jin yang merasuki sehingga jin tersebut malah menjadi kuat. Gara-gara aku rada emosi menyuruh dia keluar, si linda yang masih menutup mata senyam-senyum.

“Kenapa kamu senyam-senyum?” tanyaku.
“Aku kan suka anak ini” kata si linda yang kerasukan.

Maksudnya si jin wanita ini suka pada anak yang dirasukinya. Aku langsung nggak percaya dengan kata-kata si jin, kenapa? Karena jin itu jika berbicara banyak dustanya jangan langsung percaya apabila dia berkata.

“Jangan bohong kamu” jawabku. Si linda pun nggak berani jawab, aku pun meminta mas Roy untuk meminumkan air putih tadi ke linda.
“Linda bangun. Linda bangun.” teriak semua panitia yang mengkerumuni linda.

Seperti didalam film saja *hehe. Adegan saat siumannya. Setelah meminum air putih itu linda pun siuman dan mulai pulih kesadaranya. “Alhamdulillah” kataku diikuti serempak panitia. Aku pun bergegas kembali menuju ketengah lapangan dan segera duduk bersama rekan-rekanku peserta diklat yang tadi menyaksikanku dari lapangan.

“Sudah san?” tanya doni.
“Sudah.” jawabku dengan keyakinan.
“Tadi kamu ngomong apa disana?” tanya Doni dengan keheranan.
“Ah, gak apa-apa.” jawabku. Bersambung ceritanya.
Web/Blog: lifekisah.blogspot.com

KCH

Hasan

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Hasan has write 2,660 posts