Ketukan di Jendela

Assalamualaikum KCH, dan salam sejahtera bagi non muslim. Dwi kembali bercerita, kali ini terjadi di bulan ramadhan tahun 2016 kemarin. Kebetulan istri kakak sepupuku sedang berlibur di rumah orang tua suami/kakak sepupuku. Rumahnya samping rumahku (rumah orang tuaku yang ku tinggali sekarang). Sebut saja mba ayni, istri kakak sepupuku ini orangnya penakut dengan hal-hal demikian, sehingga ketika dia dan anaknya yang masih bayi di tinggal sendirian tidak berani keluar kamar sebelum mertuanya pulang dari tarawih.

Tiba-tiba ponselku berbunyi, ternyata ada sms dari mba ayni. “Tumben nih mba ayni sms, padahal jaraknya dekat, kenapa gak teriak saja” (kataku dalam hati, sambil membaca sms). Dan tulisan sms itu menanyakan diriku ada di rumah gak? Kebetulan karena saat itu saya sedang haid, jadi berada di rumah dan bisa membalas smsnya.

Aku: iya mba, memang ada apa? (sambil mengetik sms untuk membalasnya).
Ayni: tadi, ada yang mengetuk jendela kamarku, tolong sih keluar dan cek sebelah rumah, ada orang atau gak? (pintanya dalam tulisan sms).
Akhirnya aku keluar rumahku sambil membawa senter, dan berjalan menuju arah yang di maksud. Tapi aku tidak mendapatkan apa-apa. Ku teriak memanggil mba ayni, dan dia keluar rumah sambil menggendong anaknya.

Ayni: tadi tuh jendela kamarku ada yang ketuk berulang kali, awalnya tak cuekin ku kira kucing nyari cicak, tapi lama-lama bunyi ketuknya semakin keras, seperti mau membuka paksa jendela kamar. Terus aku beranikan diri tuk bangun sambil menggendong fathan, terus jendelanya ku pukul pakai tanganku dengan keras. Dan aku dengar ada yang bergerak ke arah belakang rumah.

Aku takut, makanya aku sms kamu, untuk memastikan itu manusia apa bukan. Karena aku dengar suaranya gak ke arah depan. Padahal ke belakang gak ada jalan keluar dan pintu kandang di samping rumah sudah di kunci sama bapak (jelasnya panjang lebar).

loading...

Aku: tapi tidak ada siapa-siapa mba, mungkin hanya tikus atau kucing (sambil menenangkan hatinya).
Ayni: di rumah mba sendirian juga ya? Alhamdulillah masih ada teman, kalau sendirian dan orang-orang pada tharawih, aku bisa nangis nih. Karena bapak juga pernah cerita, kalau rumah ini ada setannya (sambil tertawa kecil menahan rasa takut).

Aku: iya, tapi aku sudah biasa kalau dengar begitu di rumah lamaku, tapi gak ada apa-apa kok mba. Mungkin pakde cuma nakut-nakutin saja, lagian pakde kan orangnya jahil, suka nakut-nakutin orang yang penakut, sudah cuekin saja (sambil mencairkan suasana yang kebetulan cerah dan terang bulan).

Akhirnya kami mengobrol sampai dia tidak takut lagi untuk masuk ke dalam rumah. Setelah itu saya cek lagi tempat tadi, dan mengecek pintu kandangnya. Tapi saya tidak menemukan sesuatu, saya juga heran, jendela setinggi ini mana bisa kucing manjat dan mengetuk jendela. Ah entahlah, misteri yang tidak bisa ku pecahkan. Sekian.