Keturunanku Indigo

Hari itu sewaktu nenekku masih hidup aku ingat dengan jelas peristiwa itu. Awalnya nenekku mengalami stroke ringan, dan sulit untuk berjalan, namun pada akhirnya dia tak dapat berjalan lagi dan hanya tidur dikasur. Dia sering melihat hal-hal yang aneh. Katanya ia melihat sesosok putih dan hitam sedang berkelahi tapi karena ia sudah tidak dapat melihat lagi, jadi aku menganggap itu bukanlah hal yang aneh.

Karena ada orang yang bilang katanya orang tua bisa kembali lagi seperti anak kecil yang khayalanya sangat tinggi. Aku pun belum banyak tahu soal itu karena waktu itu aku masih berusia 9 tahun. Suatu hari aku tidur siang, aku ingat aku bermimpi nenekku mengatakan sesuatu padaku. Dia bilang bahwa akan ada yang menghampiriku nanti, dan akan ada waktunya aku tahu semua itu.

Aku pun bertanya kembali dalam mimipi itu. Siapa nek? Namun nenekku tak menjawab. Dia hanya melambaikan tangan kearahku. Hanya itu yang kuingat. Aku pun bangun dari tidurku. Aku segera masuk kekamar nenekku dan anehnya semua orang menangis disekeliling nenekku. Aku bertanya pada ibuku apa yang terjadi, namun ibuku terus saja membaca Al-Quran.

Aku pun bertanya kembali pada kakak sepupuku dan dia berkata bahwa nenek telah meninggalkan kita semua. Aku pun tersadar bahwa ini yang namanya meninggal dunia. Karena waktu itu aku belum pernah melihat orang yang meninggal dunia sebelumnya.

3 tahun kemudian. Aku sudah berumur 12 tahun. Aku dikenal sebagai seorang anak pendiam dikeluargaku. Seringkali saat malam datang aku merasa sangat takut, namun entah takut akan hal apa. Mungkin aku takut jikalau ibuku kesurupan lagi. Hampir setiap bulan hal itu terjadi pada ibuku. Suatu hari saat sore menjelang malam aku naik kerumah karena ibuku memanggilku untuk shalat maghrib.

Aku menjawab tunggu sebentar lagi bu. Ibuku pun kembali masuk kerumah. Beberapa menit kemudian aku teringat dengan panggilan ibuku. Aku segera masuk rumah. Di rumah aku melihat kakekku yang sedang shalat diruang tamu. Aku mencari-cari keberadaan ibuku. Firasatku sangat kuat untuk masuk kedalam kamar. Namun ternyata dikamar lampu mati, jadi aku menyalakannya karena hari telah gelap.

Saat kunyalakan lampu aku mendapatkan ibuku duduk termenung dipojok tempat tidur yang sedang menundukkan kepalanya dan memeluk lututnya dengan sangat erat. Perlahan aku dekati ibuku namun aku merasa sangat takut. Jadi aku berhenti didepannya dan hanya memanggil namanya. Namun tak ada jawaban. Pada panggilanku yang ketiga dia mengangkat kepalanya dan melihat kearahku namun entah mengapa tatapannya begitu tajam mengarah kearahku seperti ada yang aneh pada diriku ini.

Aku langsung keluar dari kamar dan segera memberitahu kakekku hal tersebut karena aku tahu ibuku kerasukan lagi. Karena umumnya ibuku mengalami hal itu hampir setiap hari saat menjelang maghrib, dia pernah bilang padaku bahwa waktu itu dia merasa sangat kedinginan seperti berada didalam peti es. Suatu hari ibuku menceritakan semua yang pernah terjadi padanya.

Dia memberitahuku bahwa dia adalah seorang anak indigo sejak lahir namun hal itu perlahan hilang saat ibuku beranjak dewasa. Namun saat inipun dia masih sering melihat makhluk itu. Katanya karena punya kemampuan melihat makhluk halus, dia sering sakit karena rasa ketakutan yang berlebihan. Tak ada satupun yang dapat menyembuhkan ibuku kecuali pamanku. Dia seorang pelatih margaluyu. Margaluyu adalah salah satu gerak badan pencak yang tidak mengandung ilmu hitam.

Pamanku memang sudah sangat terkenal diberbagai daerah karena kemampuannya. Namun pamanku berkata bahwa itu tidak hilang sepenuhnya karena ada satu jenis makhluk yang sudah sangat begitu melekat pada diri ibuku. Dan katanya itu adalah makhluk dari keturunan nenek moyangku termasuk nenekku yang telah meninggal 3 tahun yang lalu, dan makhluk itu adalah penyuka manusia. Dan yang lebih parahnya itu akan berlanjut pada setiap keturunan nenekku yang melahirkan anak perempuan bungsu. Dan benar saja itu terjadi pada ibuku. Tapi entahlah apakah itu akan berlanjut padaku juga karena aku adalah anak terakhir.

Aku hanya berharap walaupun terjadi padaku namun jangan terjadi pada keturunanku yang akan datang. Namun saat ini, saat usiaku beranjak 14 tahun sudah banyak kualami hal-hal yang aneh seperti, melihat bayangan hitam dicermin, merasakan sentuhan makhluk halus yang terasa begitu hangat, benda-benda disekitarku terjatuh sendiri tanpa sebab, merasakan keberadaannya dengan hembusan angin diwajahku, bahkan aku seringkali melihatnya, ada yang hanya setengah badan duduk dipojok dinding atas, sosok wanita dengan rambut panjang membelakangiku, sosok perempuan berjubah merah, dan masih banyak lagi.

loading...

Temanku sudah mengerti saat aku berkunjung kesuatu tempat dimana pandanganku langsung teralihkan, sangat besar kemungkinan disana sudah terjadi sesuatu, misalnya ada pembunuhan, pertikaian, ada korban bunuh diri, korban peperangan dan lain-lain. Ibuku juga pernah menceritakan beberapa kisahnya yang menyeramkan, namun bagiku ada satu kisah yang menarik diantarannya yaitu saat ibuku menginap dirumah kakak perempuannya, dia tidur dikamar berdua, entah sudah tak sadar karena tidur atau masih memejamkan mata.

Awalnya angin bertiup sangat kencang hingga akhirnya terdengar suara seperti ada yang menjatuhi genteng kamar itu. Dan ibuku berusaha tidak panik dan memeriksa agar kekhawatirannya itu berkurang. Namun saat berusaha mendekati jendela kamar, tiba-tiba muncul seekor monyet besar bergelantungan dijendela kamar. Matanya begitu merah dengan badan yang besar. Karena terkaget ibuku terjatuh ketempat tidur.

Monyet raksasa itu mendekati ibuku dan berkata bahwa rumah yang dia tempati sekarang ini adalah rumah sang monyet raksasa itu. Namun dengan emosi ibuku membantah monyet itu dengan suara yang keras. “Bukan, ini adalah rumah kakakku. Kau bukan siapa-siapa disini kau hanya seekor monyet jelek” saat dia bercerita bagian tersebut aku memutuskan ceritanya dengan bertanya “apa ibu tidak takut dengan monyet raksasa itu?”.

Ibuku menjawab “tentu saja tidak, kenapa harus takut? Dia hanya seekor monyet. Sesungguhnya dia juga makhluk ciptaan Allah” jawab ibu. Ibuku pun melanjutkan ceritanya bahwa monyet itu dengan marahnya melompati ibuku dan berusaha menerkamnya, namun dengan keberanian ibuku mencakar wajah monyet itu. Monyet itu penuh dengan kemarahan sehingga dia menusukkan jarinya yang berkuku panjang dan tebal kearah kepala ibuku.

Ibuku begitu kesakitan dan hampir tak dapat menahannya, hingga pada akhirnya ibuku tersadar dan membuka matanya. Saat itu juga dia melihat ada ibu, ayah, dan kakaknya didekatnya. Katanya, ibuku berteriak sangat keras hingga membangunkan satu rumah. Dan anehnya saat ibuku bercermin dipagi hari, dia melihat ada bekas tusukan kuku dibagian pelipisnya yang berwarna biru.

Aku hanya takut suatu saat nanti aku mengalami hal yang sama, bahkan aku akan mengalami yang lebih menakutkan. Namun aku hanya selalu berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa, agar selalu melindungiku dari syaitan yang terkutuk itu. Sekian dari kisahku. Saya Ainia Zaqinah mengucapkan wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dan terima kasih kepada semua yang telah membaca kisah ini, semoga bermanfaat.

KCH

Bastty

Sekedar kembali mengingatkan. “Jangan pernah baca ini sendirian” :)

All post by:

Bastty has write 2,704 posts

Please vote Keturunanku Indigo
Keturunanku Indigo
Rate this post