Khodam Susuk Aura

Namaku Yuni, tapi teman-teman menyebutku si Denok. Ini mungkin panggilan yang terkesan agak seronok. Tapi jujur saja aku cukup nyaman dengan panggilan itu. Menurut mereka aku cukup pantas dengan sebutan itu. Tubuhku memang aduhai, dengan tinggi dan berat badan yang ideal. Selain itu tubuhku padat berisi dan menonjol di bagian-bagian penting.

Tapi tubuhku yang indah itu berbanding terbalik dengan nasibku yang buruk. Betapa tidak, meski sudah 5 tahun merantau di Hongkong, aku tak memiliki apapun. Harta benda yang semula aku bayangkan sama sekali tak bisa aku raih sedikit pun. Yang ada tinggalah hutang yang bertebaran dimana-mana. Aku nyaris tenggelam oleh hutang yang aku pinjam dari rentenir, bank dan teman-teman sendiri.

Setiap bulan gajiku hanya cukup untuk membayar hutang. Manakala anak atau keluargaku minta kiriman maka dengan terpaksa aku harus pinjam sana sini. Dan itulah yang membuat hutangku semakin hari semakin menumpuk. Tapi kegetiran nasibku itu tidak sedikit pun aku utarakan pada keluargaku. Anak ku, suami dan orang tuaku tak pernah tahu betapa beratnya beban hidup yang harus aku tanggung di negeri orang.

Akibat tekanan ekonomi yang makin menghimpit, pernah suatu hari aku sempat berpikir untuk berbuat jahat. Kebetulan aku bekerja pada sebuah keluarga yang cukup kaya di Hongkong. Hari itu tanpa sengaja aku menemukan segepok uang dollar Hongkong di saku jas majikanku yang hendak dicuci. Dengan hati yang berdebar-debar aku periksa uang itu di kamar mandi. Jumlahnya tidak kurang dari 50.000 dollar. Ya Tuhan, uang sejumlah itu sudah cukup untuk membayar hutangku.

Debar jantungku semakin memburu, aku tak tahu harus ku apakan uang itu. Haruskah aku ambil, atau aku kembalikan pada majikanku. Di sisi lain aku terbayang hutang dan orang-orang yang menagih. Telepon genggamku ramai dengan sms dan telepon manakala tiba waktu membayar hutang. Tapi akhirnya aku putuskan untukku kembalikan. Aku tak berani mengambil uang itu karena resikonya tidak sebanding. Aku takut jika majikanku tahu aku dilaporkan polisi dan masuk penjara.

Dan antara syukur dan kecewa, aku diberi majikan 100 dollar dari uang yang aku kembalikan itu. Mungkin inilah rejeki yang bisa aku terima. Suatu hari aku coba menghubungi Mas Aslam, aku mengenalnya dari Majalah Misteri. Kepadanya aku ceritakan semua masalah yang tengah membelit kehidupanku. Aku ceritakan bagaimana kesulitan ekonomi yang aku hadapi. Meski sebenarnya aku sendiri tak tahu mengapa aku bisa seboros ini.

Ke mana pula uang yang aku pinjam itu pun aku tak tahu. Yang aku ingat aku pinjam uang ke bank, lalu aku kirimkan untuk usaha suamiku di kampung. Tapi kemudian usaha itu bangkrut dan tinggal hutangku di bank. Setelah cukup lama aku telpon dengan Mas Aslam, akhirnya ia menganjurkan aku untuk menggunakan kapsul susuk aura. Menurutnya piranti mistik itu bisa merubah kehidupanku menjadi lebih baik. Kapsul dengan kekuatan khodam itu akan merubah penampilanku menjadi lebih menarik tak hanya sekedar denok. Rejekiku juga bisa mengalir dari berbagai penjuru dan terkumpul.

Singkatnya cara kerja susuk itu akan membuat aura tubuhku menjadi lebih terpancar. Membuat semua orang yang memandang jadi tertarik dan menjadi welas asih. Selama ini semua orang yang memandangku seolah hanya ingin menikmati kemolekan tubuhku saja. Makanya rejekiku setiap kali datang setiap kali pula habis tak karuan. Lebih jauh dijelaskan Mas Aslam, kapsul itu memiliki kekuatan khodam yang akan menuntunku ke jalan rejeki yang halal dan melimpah.

Khodam itu dalam keadaan tertentu akan mewujud dalam bentuk nyata atau hanya suara saja. Tapi berdasarkan pengalaman tak semua pengguna piranti mistik ini akan menemukan penampakan atau hal-hal mistik lainnya. Hanya orang-orang beruntung saja yang akan melihat penampakan atau merasakan hal-hal mistik dari kapsul itu,” tutur Mas Aslam saat itu. Sudah 5 hari aku menggunakan kapsul susuk aura dari Mas Aslam. Sekitar pukul 7 malam, aku mendengar suara piring atau gelas yang jatuh di dapur.

Bukan main kagetnya aku, tak mungkin ada benda jatuh dan pecah tanpa sebab. Padahal setahuku di rumah itu tak ada orang selain aku dan nenek yang aku jaga. Lalu siapa yang menjatuhkan benda itu. Bergegas aku ke dapur untuk memastikan apa yang terjadi. Tapi aneh, tak ada benda apapun yang jatuh dari tempatnya. Semua dalam keadaan baik. Lalu suara apa yang tadi mirip piring atau gelas yang pecah? Aku langsung teringat tentang penampakan atau suara-suara aneh yang bisa saja terjadi dari khodam yang menjagaku. Apa yang dikatakan Mas Aslam memang benar.

loading...

Tapi yang membuatku bersyukur adalah keadaan diriku sebulan setelah aku menggunakan piranti mistik Majikanku menjadi sangat baik dan perhatian sekali padaku. Suami istri yang kaya raya itu sering memberiku uang jika mau hendak libur akhir pekan. Kadang aku diberinya uang hingga 3 ribu dollar Hongkong Aku sebenarnya agak heran dengan perlakuan majikanku itu, tapi aku tetap menerimanya dengan senang hati.

Tetangga apartemenku juga semua menjadi baik dan selalu memberiku pekerjaan dan uang sebagai upahnya. Teman-temanku juga menjadi lebih baik, pengertian dan selalu ada yang mentraktirku. Alhasil uang saku yang aku bawa di akhir pekan itu menjadi utuh dan bisa aku tabungkan atau aku bayarkan hutang-hutangku. Tak terasa setahun kemudian aku sudah bisa melunasi seluruh hutangku. Bahkan aku masih memiliki sisa uang lebih di tabungan. Dalam waktu setahun itu pun aku tetap bisa mengirimkan uang ke kampung untuk keluarga dan keperluan lainnya. Aku bersyukur dengan apa yang telah diberikan Tuhan padaku. Dan berkat motifasi Mas Aslam aku bisa bangkit dari keterpurukan.

Share This: