Kisah Mimpi Bertemu Pocong Merah

Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Danang Prasetyo, biasanya dipanggil Danang, tapi ada juga yang memanggil saya Dan. Sekarang saya kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman di Samarinda, Kalimantan Timur. Pada kesempatan pertama ini, saya akan menceritakan pengalaman menakutkan saya mengenai sebuah mimpi yang sampai saat ini masih saya ingat.

Sebagian besar orang sering menganggap bahwa mimpi hanyalah sebuah bunga tidur, yang kelak akan segera berakhir ketika kita bangun, baik itu mimpi baik ataupun buruk. Biasanya mimpi tersebut hanya terjadi sekali dan tidak terulang kembali jika kita kembali tidur. Namun, bagaimana jika kita terus bermimpi hal yang sama berhari-hari, apalagi kalau itu mimpi buruk? Hal itulah yang pernah saya alami ketika saya masih kelas 4 SD. Begini ceritanya.

Suasana di sana gelap, kelam sekali. Tidak ada suara apapun di sana, bahkan suara jangkrik sekalipun. Hanya ada cahaya bulan sabit yang menerawangi rumah-rumah di dalam gang yang berada di samping rumahku. Gang itu masih berupa kayu, karena daerah di sana adalah rawa-rawa. Di antara rumah tersebut, ada sebuah kuburan tua dari salah satu kerabat tetanggaku. Namun bukan itu yang sebenarnya aku takutkan.

Aku sedang berdiri di dalam gang yang kecil itu, menatap ujung gang yang gelap di sana. Gang ini tidak terlalu panjang, namun entah mengapa, ketika itu, gang ini serasa tidak berujung. Perlahan, kulihat keluar dari ujung gang itu sebuah bayangan, samar-samar berubah warna dari hitam ke merah. Makin lama makin merah, dan seperti mendekat ke arahku.

Aku hanya berdiri, terpaku menyaksikan “sesuatu” itu mendekat. Sebenarnya aku ingin berlari menjauh dari tempat itu, tapi tidak bisa. Jangankan pergi dari sana, memejamkan mata saja aku tidak bisa. Hingga akhirnya “sesuatu” itu sudah berada tepat di hadapanku. Sebuah kain kafan yang berwarna merah, berlumuran banyak darah. Baunya sangat anyir.

Darahnya pun menetes dari ujung kainnya, mengenai wajahku. Wajah “sesuatu” itu gelap, dengan sinar matanya yang merah, seakan menatapku dalam-dalam. Dan sekali lagi, aku hanya melihatnya dengan penuh rasa takut, tanpa bergerak sedikitpun. Entah berapa lama aku berada di sana, terus berhadapan dengan pocong ini. Yang pasti, beberapa waktu kemudian, aku terbangun dari tidur malamku. Tidak terasa ternyata sudah waktunya sholat subuh. Aku yang biasanya telat bangun, cepat-cepat bangkit dan pergi untuk berwudhu dan sholat bersama keluargaku.

Pada awalnya, aku tidak menceritakan hal ini kepada siapapun, bahkan kepada orang tuaku. Meskipun mengerikan, aku hanya menganggapnya sebagai mimpi buruk biasa yang hanya terjadi sekali. Oh iya, perlu diketahui, aku tergolong anak-anak dengan imajinasi tinggi. Salah satu caraku untuk mengekspresikannya adalah dengan menggambar di dinding rumahku. Saking banyaknya aku menggambar, satu dinding pun penuh dengan hasil karyaku.

Tidak ada satu dindingpun yang luput dari krayonku. Dari ratusan gambar di dinding-dinding rumah itu, aku bahkan menggambar pocong berwarna merah itu, tentunya tidak berbentuk seperti aslinya. Hanya seperti dua buah lingkaran dengan sebuah segitiga kecil di atasnya. Dalam waktu singkat, aku pun melupakan mimpi buruk itu. Ternyata, itu bukanlah sebuah akhir. Pada malam kedua, aku kembali di datangi pocong merah itu dalam mimpi, di tempat dan kondisi yang sama. Aku pun selalu terbangun ketika adzan subuh dikumandangkan. Dan malam selanjutnya, aku pun memimpikannya lagi. Begitu seterusnya hingga malam ke empat.

Aku mulai tidak tahan melihat penampakan itu lagi. Karena itulah, aku menceritakan mimpi itu kepada orang tuaku. Mereka pun berbeda pendapat. Ayahku mengatakan kalau ada seseorang yang tidak suka dengan kita dan sekarang sedang mengganggu kita melalui santet. Tapi ibuku yang lebih berpikir masuk akal menolak pendapat itu. Ibuku berpikir kalau itu hanyalah sebuah mimpi biasa, yang kelak tidak akan kembali lagi. Setelah melalui perdebatan yang panjang, ditambah kondisiku yang penuh rasa ketakutan, kami pun memutuskan untuk pergi rekreasi ke pinggir sungai Mahakam, sekaligus refreshing, karena keluarga kami jarang pergi jalan-jalan.

Sore harinya, kami sekeluarga pun pergi ke tepian Mahakam yang ada di kota Tenggarong. Selain sebagai tempat memancing yang bagus, di sana juga bisa dijadikan sebagai tempat bersantai yang menyenangkan, karena disana sudah ada turapnya. Sore itu, banyak orang-orang juga bersantai di pinggir sungai itu. Kami membeli makanan, kemudian duduk di sana. Kamipun bersantai, mengobrol bersama dengan selingan tertawaan. Untuk beberapa saat, aku merasa lebih baik.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam. Kami pun bersiap untuk pulang. Aku sempatkan diri untuk memandang seberang sungai tersebut. Namun kulihat sesuatu. Sebuah titik merah, jauh di pepohonan seberang sana, lalu terbang melayang. Kemudian titik itu berpindah dengan cepat, bukan bergerak, dan sepertinya menuju ke arah kami. Dalam waktu singkat, “sesuatu” itu sudah berada di hadapanku. Wajahku pun memucat.

Rasa dingin mulai merayapi tubuhku. Mataku terpaku melihat “sesuatu” itu. Pocong merah yang kutemui di mimpi, sekarang kulihat langsung di dunia nyata! Warna merah darahnya, bau anyir darahnya, matanya yang merah menyala, menatap tajam ke dalam mataku, persis seperti yang kutemui dalam mimpi. Kali ini, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Hitam kelam seperti terbakar, dengan sedikit belatung merayap di wajahnya.

Aku masih terus menatapnya, hingga kakiku menjadi lunglai, tidak kuat untuk berdiri. Pandanganku mulai menggelap. Sepertinya aku pingsan. Beberapa waktu kemudian, aku terbangun. Perlahan pandanganku mulai jelas. Ternyata diriku dan orangtuaku sudah berada di rumah. Ibuku memegang keningku, dan mengatakan kalau aku demam. Ayahku sedang menelepon, mungkin salah satu kerabatnya.

loading...

Ketika itu, aku kembali melihat pocong merah itu sudah berada di belakang ibuku, menatapku dengan wajah menyeramkan. Rasa panas di badanku serasa bertambah. Tidak tahan melihatnya lagi, aku berteriak histeris seraya menutup pandanganku dengan tangan. Kedua orang tuaku berusaha menenangkanku. Teriakanku sangat keras, sampai-sampai beberapa tetangga datang ke rumah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya pada malam itu, orangtuaku memutuskan untuk memanggil orang pintar, sesuai saran dari kerabat keluargaku.

Singkat cerita, setelah beberapa lama, akhirnya aku dinyatakan “sembuh” oleh orang pintar tersebut. Menurut dia, ini adalah kiriman dari seseorang, namun sebenarnya salah sasaran, sehingga mengganggu kami. Entah itu benar atau tidak, setelah peristiwa ini, aku tidak pernah memimpikannya lagi hingga sekarang. Setelah beberapa tahun aku hidup dan mulai memahami beberapa hal, aku mulai bertanya-tanya.

Kenapa ada orang yang tega sekali berbuat demikian? Kenapa dia harus bekerja sama dengan setan dan merelakan dirinya, bahkan mungkin keluarga atau kerabat dekatnya, hanya untuk memenuhi perasaan dendamnya? Dan yang lebih aneh lagi, kenapa bisa “salah sasaran” hingga menggangguku dan membuat keluargaku khawatir?. Akupun tidak tahu jawabannya, dan aku pun juga tidak mau memikirkannya. Satu-satunya yang aku inginkan adalah: seandainya dia masih beriman kepada Tuhan, semoga dia segera diberi hidayah oleh-Nya.

Share This: