Kisah Pendaki Gunung Ciremai

Malam itu kami tidur di lereng gunung Ciremai dengan kondisi penginapan alami seadanya, untuk memulihkan tenaga dan bersiap melakukan pendakian besok paginya. Logistik dan persediaan air minum yang sangat pas-pasan, membuat kami menetapkan target sampai di puncak gunung ciremai sebelum ashar dan akan langsung turun lagi ke bawah. Menurut info, jika berada di puncak lewat ashar, terdapat resiko angin badai yang lumayan besar.

Saya sudah berusaha untuk beraktivitas selayaknya dengan gagah berani, bernyali tinggi, dan kuat mendaki. Tapi apa daya Keinginan untuk buang air kecil ini, jika diabaikan akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam perjalanan. Masalahnya setiap kami berada di bawah pohon, terdapat keunikan di rute gunung Ciremai ini. Banyak dahan dan ranting pohon berhiaskan air kuning yang dikemas dalam plastik maupun botol bekas minuman. Banyak sekali bahkan sampai berada di dahan yang letaknya diatas sekalipun.

Rupanya karena kami tidak menghadap kuncen, kami tidak tahu kalo di Gunung Ciremai dilarang untuk buang air kecil di tanah. Larangan tersebut yang telah menyebabkan timbul pemandangan seperti itu. Berapa banyak orang buang air kecil, sebanyak itulah pula kantung-kantung air menggantung di pohon-pohon. Tapi kami tetap aja pipis di tanah sebab selain gak bawa persediaan kantung plastik sebanyak itu.

Hal itu juga takhayul kata pak ustad. Waktu dhuhur kami sejenak rehat hanya untuk sholat jama’ qoshor di antara rimbun ranting kering. Tempat sholat ini cukup nyaman, di seberang sana terhalang hamparan langit dan awan yang luas latar gunung Slamet terlihat jelas dan indah. Tidak ada yang tahu diantara kami bahwa konon tempat tadi itu adalah sarangnya harimau bermata satu. Makhluk ini konon tunggangan kebanggaan sekaligus sekutu dari Nini Pelet.

Disaat sudah melewati hamparan pohon Edelweis yang berbunga indah dan tentunya penuh hiasan kantong-kantong, sampailah kami di puncak Gunung Ciremai. Angin bertiup menghembus kencang, membawa suasana mencekam di sore itu sungguh kami merasa kecil dalam kebesaran ciptaan-Nya. Kami merasa ada anggota tim yang belum sampai, sehingga kami terus menunggu.

Padahal berkali-kali kami hitung, kami sudah lengkap bersembilan. Ketidaknyamanan angin besar menyerupai badai dan kondisi kawah Ciremai yang labil membuat kami segera turun. Kami merasa membawa rombongan yang sangat banyak. Bahkan saya sempat berfikir kalo kami gabung tim pendaki lain, tapi begitu dilihat satu-satu tetep aja kami bersembilan. Kondisi pendakian membuat kami menunda waktu makan dan istirahat karena belum menemukan lereng yang agak landai dan aman dari sapuan badai pada saat itu.

loading...

Keadaan ramai itu semakin terasa bahkan di ujung mata saya melihat berpasang-pasang sepatu selonjor. Saya beristighfar, karena penasaran saya langsung memastikan. tapi gak ada siapa-siapa lagi selain rombongan kami. Jadi berpasang-pasang sepatu kets itu punya siapa, kami melanjutkan perjalanan kembali untuk menuruni gunung keadaan saat itu sudah malam. “Senter dihemat, yang dinyalakan cuma satu saja” ujar Ketua rombongan.

Saya yang diurutan pertama tak menghiraukan perintah itu, karena kegelapan menambah angker suasana jalan yang kami lalui. Senterku menyorot ujung pohon menjulang, dan ada bayangan hitam disana. Mata kami semua sontak tertuju kearah bayangan itu. Di tengah ketegangan itu seorang anggota pendaki di belakang berbicara dengan suara bergetar, “Kok seperti ada dua orang teman saya mengobrol disini, padahal mereka tidak ikut”.

Suasana menjadi senyap lagi, perasaan mencekam ketegangan. Kami bahkan sempat berputar–putar dan keluar jalur, tidak menemukan jalur naik pada siang tadi. Ngerinya, konon di Ciremai kalo salah jalur kita bisa ketemu rombongan macan kumbang. Bulu kuduk kami tambah berdiri tanpa ada yang berani komentar. “Kita istirahat sebentar”, kata ketua rombongan mengingat halusinasi angota rombongan sudah mulai gak karuan.

Temanku duduk sambil setengah bergumam, “saya lihat teman saya pakai kerudung hijau”. Kami saling berpandangan. karena di dalam tim hanya ada satu yang pake kerudung, yaitu saya itupun kerudungnya berwarna putih. Kami terduduk dan tiba-tiba tertidur tanpa niat tidur dengan posisi ransel masih di punggung. Setelah cukup beristirahat, Kami akhirnya turun entah dua jam atau lebih. Kami segera mencari sumber air untuk shalat subuh yang sudah kesiangan dan akhirnya kami dapat melaksanakan sholat subuh dan mandi di mata air yang ada tugu-tugu batunya.

Konon katanya batu-batu yang sempat dengan seenaknya kami duduki itu ternyata adalah batu keramat tempat pertapaan Nini Pelet sekaligus tempat pertemuan tokoh ini dengan Sunan Bonang pada masa penyebaran Islam kepada pengikut penguasa sihir tersebut. Singkat cerita akhirnya kami sudah sampai di kaki gunung dan pulang. Apapun misteri yang kami langgar pada waktu pendakian itu kami simpan rapi dan tidak kami sampaikan kepada siapa-siapa.

Kalau dipikir-pikir, ada untungnya juga tidak menghadap kuncen karena akan diberi pembekalan tentang tempat-tempat keramat dan ratusan aturan yang tidak boleh dilanggar selama mendaki gunung Ciremai. Satu minggu kemudian tersiar berita di televisi bahwa puluhan macan kumbang turun dari gunung Ciremai menyantap ternak-ternak di perkampungan lereng gunung.

Share This: