Kisah Saat Liburan Sekolah

Ini cerita kedua ku di KCH, cerita ini sudah lama waktu aku masih ABG. Liburan sekolah akan sangat membosankan jika tidak ketemu kedua sepupuku di sukabumi siapa lagi kalau bukan rendi dan rian. Berpetualang dengan mereka tidak akan pernah bisa di lupakan selamanya misteri dan hal-hal yang aneh di dunia ini memang ada dan beginilah ceritanya.

Matahari hampir terbenam perjalanan menuju rumah nenek masih jauh. Setelah turun dari metro mini ini aku bisa membayangkan perjalanan selanjutnya dengan berjalan kaki jika saja ban mobil tidak kempes tadi mungkin kini aku sudah berleha-leha di rumah nenek. Akhirnya aku turun dari metromini, sang kernet menurunkan tas ransel dalam bagasi “hati-hati pulang sendiri de” dia berucap tanpa menatapku dan segera berlalu.

Semua penumpang seperti menatapku iba di balik kaca mobil minibus tua dan menghilang di tikungan, tinggallah aku sendiri di tepi jalan di temani pepohonan yang angkuh menutup sinar matahari sore yang semangkin meredup. Aku harus segera bergegas atau nanti bisa kemalaman sampai rumah, aku sedikit mempercepat langahku di jalan setapak yang sunyi namun ramai suara serangga malam yang berbunyi-bunyi saling saut menyaut.

Aku terus menunduk memperhatikan jalan, karena ingat nasihat nenek kalau lagi sendiri jangan tengok ke mana-mana fokus sama tujuan. Seberapa cepatnya aku melangkah akhirnya malam juga, jembatan anyaman bambu yang sangat panjang indah bila siang hari di lewati namun tidak pada malam gelap. Sungai di bawah seperti menderu-deru gelap dengan arusnya yang kuat, belum lagi di ujung jembatan rimbun pohon bambu berdecit-decit saling gesek membuat nyali menciut.

Untunglah tak terjadi apapun dan pedesaan sudah mulai terlihat tapi lelah juga berlari sepanjang jalan, eh ada ibu-ibu lagi jalan sendiri aku pun menghampirinya dan menyapa. Lumayanlah ada teman “ade mau kemana?” Tanya ibu itu tanpa basa basi seakan dia tau aku akan menghampirinya. Belum sempat aku menjawab pertanyaannya ia meminta tolong mengantarkan ke rumahnya yang ia tunjuk di perkebunan gelap.

Walaupun terasa aneh karena aku tidak melihat ada rumah di sana. Karena iba aku pun melangkah di depan sang ibu itu untuk mengantarnya membelah malam yang gelap. Tidak berapa lama aku melangkah setelah berbelok mengikuti jalan yang ada. Aku tertegun antara kaget dan takut semua perasaan tercampur aduk, kenapa di depan mataku menjadi banyak pemakaman.

Terlihat gundukan tanah merah di ujung nisan masih di bungkus kain putih menandakan makam itu baru, tawa cekikikan dari belakang hampir membuatku pingsan. Kakiku lemas dan bergetar, aku tidak bisa pulang jika tidak berhadapan dengan sosok yang di belakangku akhirnya dengan nekat aku membalikkan badan dan dia masih berdiri memamerkan wajah pucat dan mata hitam gelap. Rambut panjang semraut dan baju putih dekil oleh tanah merah, lengannya yang panjang bergantung seakan ia mudah saja untuk menerkamku.

Tingginya mungkin sekitar 2 meter, makhluk apa di hadapanku ini, aku banting tas ranselku yang berat di wajahnya berharap ia tersungkur. Namun ia tertawa cekikikan dan melayang di atas kepalaku aku segera berlari sekencangnya, suara tawa yang menyeramkan seakan mengikuti di belakang setelah sampai di rumah nenek dengan tersenggal-senggal aku menceritakan semuanya pada nenek. Pamanku yang kebetulan ada di sana berinisiatif untuk mengambil tas ku seorang diri, dan mereka kembali dengan kedua sepupuku.

Setelah beristirahat satu malam di rumah nenek dengan kedua sepupuku. Keesokan harinya kami berencana untuk memancing ikan disuatu lewi (lembah) karena yang aku tahu memancing di kali besar di dekat perkampungan sini yang berarus deras tidak pernah mendapatkan ikan. Aku pun menjadi penasaran pasalnya lembah ini belum banyak orang mengetahuinya dan ikannya mudah di dapat.Walaupun aku masih shock dengan kejadian tadi yang katanya cuma di usilin hantu.

Embun pagi masih menetes di rumput, udara segar pegunungan yang dingin. Kami sudah siap dengan perbekalan untuk pergi ke lewi yang di maksud. Perjalanan memang cukup jauh menurutku, menjelang siang barulah kami sampai di lewi tersebut tepatnya kita di kelilingi oleh hutan dan pegunungan mengalir air jernih dan sedikit terpusat di tengah-tengah air yang sepertinya dalam dan tenang.

Disitulah tempat kami memancing kamipun mendapatkan tangkapan ikan yang lumayan banyak. Kami bakar ikan itu di tepi sungai di makan dengan bekal nasi yang di bawa rendi. Nasi itu di gulung padat oleh daun pisang dua gulungan nasi yang beaar habis tak tersisa. Karena hari mulai sore kami bersiap untuk pulang, keanehan terjadi ketika golok rendi di tukar dengan golok lain yang terlihat jelek.

Karena di antara kami bertiga hanya rendi yang membawa golok kamipun tidak memperdebatkan keanehan itu. Kami masih menyusuri jalanan naik turun yang melelahkan di perjalanan kami berhenti untuk memetik buah pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi untuk sekedar menghilangkan rasa haus. Rendi bersandar di pohon kelapa sembari menenggak air kelapa sementara rian duduk di atas pohon yang tumbang dan aku terkapar di dekat rendi.

“Ada lini (gempa)?” Tanya rian pada rendi, rendi terdiam sejenak menatap rian yang perlahan bergeser bersamaan di atas pohon yang ia duduki tersebut. sempat aku terheran bagaimana pohon yang tumbang bisa bergerak sendiri namun setelah rendi menarik rian dan kami bertiga menatap tajam pada sosok pohon yang ternyata itu ular besar yang merayap perlahan. Tanah dan lumut di atasnya bergerak sendirinya perut ular itu bergerak perlahan menjauhi tempatnya membelah rumput di sekitarnya, setelah makhluk itu hilang dari tatapan kami, kamipun segera bergegas pergi tanpa perintah.

loading...

Share This: