Kisah Seorang Tante Janda Tanpa Anak

Kisah ini di alami oleh seorang tante janda tanpa anak, yang pernah tinggal di kota Jakarta dalam waktu yang cukup lama. Dia memiliki seorang sahabat yang bernama ibu Mirna. Beliau orang kaya dan seorang pengusaha sukses. Sekitar tahun 2012, beliau membeli sebuah kantor berlantai 2 yang cukup besar untuk dijadikan kantor tempat usahanya. Kantor itu sudah lebih dari 15 tahun tidak pernah digunakan dan dulunya adalah sebuah kantor pemasaran disalah satu perumahan didaerah kota Bandung.

Mungkin karena merasa iba dengan tante yang sudah janda ini, semenjak di tinggal almarhum suaminya, dia harus bekerja sebagai penjual jamu untuk bisa bertahan hidup sendirian di daerah Jakarta Selatan, lalu ibu Mirna memintanya untuk membantu mengawasi pekerjaan, tugasnya membersihkan bangunan tersebut bersama dengan enam orang upahan lainnya.

Janda itu pun memenuhinya dan bersedia bekerja bersama dengan enam pekerja yang lain selama 1 bulan lebih membersihkan dan memperbaiki bagian-bagian yang rusak supaya bisa dipakai lagi sebagai persiapan agar kantor bisa segera di tempati oleh Ibu Mirna dan para karyawannya. Janda ini bersama dengan 6 orang upahan itu tidur dan tinggal disana selama pekerjaan tersebut. Enam orang upahan itu tidur di lantai 1 di ruang tamu, sedangkan dia di kamar atas yang berada dilantai 2.

Karena bangunan itu sudah lama tidak dipakai, debu-debunya sangat tebal disegala ruangan, sarang laba-laba sangat banyak menempel disetiap langit-langit. Sambil mengawasi pekerjaan para pekerja, akhirnya janda tersebut ikut turun tangan juga untuk bersih-bersih. Kebetulan pada saat itu sendirian sedang membersihkan kamar mandi dilantai dasar, rencananya kamar mandi itu digunakan untuk kamar mandi para karyawan.

Sedang asyik-asyiknya membersihkan sarang laba-laba di langit-langit kamar mandi, mendadak tangan kanannya yang sedang memegang sapu tidak bisa digerakkan sampai beberapa detik, seperti ada sesuatu yang menahan tangannya berasal dari belakang badannya, jadi tidak dapat melihat sesuatu itu wujudnya seperti apa. Dia pun berusaha untuk menggerak-gerakan tangan kanannya sekuat tenaga untuk meneruskan membersihkan sarang-sarang laba-laba, tapi tidak berhasil digerakkan.

Sadar ada yang tidak beres, lalu dengan santainya tanpa rasa takut, sambil berkata dengan sopan, “tolong jangan pegang-pegang. Aku disini tidak berniat ganggu dan mengusir kamu, aku hanya membersihkan saja, biar kamar mandinya jadi bersih, supaya enak dilihatnya”. Dan beberapa saat setelah itu tangannya bisa di gerakkan kembali dan dia melanjutkan pekerjaannya.

Ada juga kejadian lain yang dialami saat dikamar tidur dilantai 2. Waktu itu yang pasti belum ada tempat tidur, belum ada lampu karena listrik belum disambungkan kembali. Tapi situasi kamar tidak terlalu gelap karena sedikit terbantu dari lampu-lampu dari rumah yang ada diperumahan sekitar kantor tersebut. Dengan menggelar tikar di lantai dan beralaskan jaket sebagai pengganjal kepala pengganti bantal,  janda tersebut mulai merebahkan tubuhnya yang memang sudah terasa sangat lelah.

loading...

Dan seperti biasa, setelah berdoa sebelum tidur, karena berada di tempat baru, dia dalam hatinya mengucapkan semacam salam perkenalan kepada para penunggu kantor yang tak terlihat, supaya tidak saling mengganggu satu sama lain. Dalam keadaan masih tidur-tiduran dan belum terlelap, dikamar tidur yang dia tempati ada kamar mandinya, dan dari arah kamar mandi itulah tiba-tiba datang 2 sosok dalam wujud seperti kakek dan nenek mendekati dirinya.

Dia tentu saja kaget dengan kehadiran mereka, tapi belum berpikir kalau mereka itu bukan manusia sungguhan, dan langsung segera duduk. Walaupun begitu, dia tetap tenang dan mengamati mereka dengan bantuan penerangan yang berasal dari luar kamar, beliau bisa melihat cukup jelas kedua sosok tersebut dan pakaian yang mereka pakai.

Kakek dan nenek tersebut berusia sekitar 60 sampai 65 tahun. Si kakek memakai semacam ikat kepala yang menutupi rambutnya, pakaiannya seperti pendekar silat dengan celana panjang kedodoran dan congklang, sedangkan si nenek memakai baju kebaya seperti pakaian desa, rambutnya di gulung dan sambil mengunyah sirih. Kesan pertama yang dia saat itu tangkap dari wajah mereka, tidak terlihat kalau mereka sedang marah, jengkel atau menakutkan. Terlihat biasa saja. Lalu terjadilah dialog antara tante janda dengan sosok kakek tersebut.

“Kamu siapa, nak?” tanya si kakek.
“Saya yang akan tinggal disini, kek” jawabnya dengan ramah.
“Oh, begitu ya, tapi kenapa tidak minta ijin dulu sama kakek kalau mau tinggal disini?” tanya si kakek lagi.

“Mohon maaf ya kek, soalnya saya sejak dari pertama masuk kesini belum melihat kakek dan nenek, jadi belum sempat saja meminta ijin. Tapi sekarang mumpung saya ketemu dengan kakek dan nenek, saya meminta ijin dari kakek dan nenek untuk tinggal disini”.
“Baiklah nak. Kami sudah lama tinggal disini bersama cucu kami. Sini Neng! Kakek kenalkan sama orang ini” lanjutnya.

Si kakek seperti memanggil seseorang, dan dari arah kamar mandi, datanglah seorang wanita muda seusia 18 tahunan yang terlihat cantik dengan kulit kuning langsat seperti perempuan sunda pada umumnya, memakai baju terusan dan rambutnya dikepang, tapi memang panjang sekali rambutnya.

“Si neng ini sudah sejak kecil ikut kami, orang tuanya entah pergi kemana?” ujar kakek tersebut.
“Kita tinggal sama-sama ya, nak, disini” lanjut kata si kakek.

Janda itu pun cuma menganggukkan kepalanya, tanda setuju. Dan setelah itu, ketiga sosok tersebut berjalan menjauh dan masuk kearah kamar mandi. Seperti orang yang baru tersadar dari lamunannya, dan berkata dalam hatinya. “Eh tadi itu apaan ya? Masa ada orang di kamar mandi?” lalu dia pun berdiri dan memeriksa kamar mandi yang ada didalam kamar tersebut, tapi ya memang tidak ada siapa-siapa, dan juga pintu untuk masuk dan keluar kamar mandi cuma ada satu, tidak ada pintu keluar atau masuk yang lain.

Barulah dia sadar kalau tadi dia berbicara bukan dengan manusia sungguhan. Untungnya dia tidak menjadi ketakutan dan tetap menempati kamar dan kantor tersebut hampir 2 tahun lebih, tanpa ada gangguan lagi. Itulah penampakan pertama dan terakhir dari ketiga sosok yang menemuinya di dalam kamar tidur di lantai 2, sampai tante janda tanpa anak itu pindah dari sana dan menuju kota Yogyakarta.

Ira Sulistiowati

Ira Sulistiowati

Jalani hidup ini penuh dengan tawakal.

All post by:

Ira Sulistiowati has write 61 posts

Please vote Kisah Seorang Tante Janda Tanpa Anak
Kisah Seorang Tante Janda Tanpa Anak
4.8 (95%) 4 votes